Psikolog Jelaskan Dampak Tekanan Digital terhadap Kecemasan Gen Z
- 30 Agt 2026 20:24 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Kehidupan Generasi Z tidak lepas dari ruang digital. Media sosial, aplikasi percakapan, platform hiburan, hingga berbagai layanan digital telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Di balik kemudahan tersebut, muncul tekanan baru ketika seseorang merasa harus selalu terhubung, mengikuti informasi, dan merespons berbagai tuntutan di dunia maya.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa tekanan digital dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang ketika penggunaan teknologi mulai menciptakan tuntutan yang dirasakan secara terus-menerus. Tekanan tersebut dapat berasal dari media sosial, komunikasi daring, informasi yang berlebihan, hingga ekspektasi untuk selalu mengikuti perkembangan.
“Tekanan digital muncul ketika seseorang merasa harus selalu online, selalu mengetahui apa yang sedang terjadi, atau merasa harus memberikan respons dengan cepat. Kalau berlangsung terus-menerus, hal itu dapat membuat seseorang sulit merasa tenang,” ujarnya pada Jumat (29/8/2026).
Menurut Andi, salah satu pemicu yang cukup sering muncul adalah paparan informasi yang berlebihan. Dalam hitungan menit, Gen Z dapat menerima berbagai jenis informasi dari banyak sumber sekaligus. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan menentukan informasi mana yang benar-benar penting.
“Ketika terlalu banyak informasi masuk, kita bisa mengalami kelelahan dalam memprosesnya. Akhirnya muncul perasaan harus terus mengikuti semuanya agar tidak tertinggal,” jelasnya.
Selain informasi, media sosial juga dapat menciptakan tekanan melalui perbandingan sosial. Gen Z dapat melihat pencapaian, gaya hidup, perjalanan, pendidikan, hingga karier orang lain secara terus-menerus.
“Masalahnya bukan pada melihat keberhasilan orang lain. Yang menjadi persoalan ketika kita kemudian menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk menilai diri sendiri,” tambah Andi.
Menurutnya, perbandingan tersebut dapat memunculkan pikiran seperti merasa tertinggal, kurang berhasil, atau belum melakukan cukup banyak hal. Jika terus berulang, kondisi tersebut dapat meningkatkan rasa khawatir terhadap kehidupan pribadi maupun masa depan.
Tekanan digital juga dapat muncul dari kebutuhan mendapatkan validasi. Respons berupa likes, komentar, views, maupun pesan dari pengguna lain terkadang menjadi bagian dari cara seseorang menilai apakah dirinya diterima oleh lingkungan.
“Ketika respons digital menjadi ukuran utama terhadap nilai diri, seseorang bisa menjadi lebih sensitif terhadap respons orang lain. Sedikit respons dapat dianggap sebagai penolakan, padahal belum tentu demikian,” katanya.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, Andi mengajak Gen Z membangun digital boundaries. Salah satunya dengan menentukan waktu untuk menggunakan media sosial, mengurangi notifikasi yang tidak penting, serta memberikan waktu tanpa perangkat digital.
“Kita tidak harus selalu merespons sesuatu secara instan. Menentukan kapan kita ingin terhubung dan kapan ingin beristirahat merupakan bagian dari pengelolaan diri,” katanya.
Andi menilai teknologi pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Tantangannya adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan teknologi secara sadar tanpa membiarkan ruang digital mengendalikan seluruh aktivitasnya.
“Tujuannya bukan meninggalkan dunia digital, tetapi memiliki kendali terhadap cara kita menggunakannya,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....