Psikolog Jelaskan Cara Gen Z Menyikapi Komentar Negatif di Media Sosial

  • 28 Sep 2026 17:19 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Media sosial menjadi ruang bagi Generasi Z untuk mengekspresikan diri, membagikan pemikiran, hingga membangun interaksi dengan orang lain. Namun, kebebasan berpendapat di ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa komentar negatif yang dapat memengaruhi kenyamanan dan kepercayaan diri penggunanya.

Komentar yang merendahkan, menyudutkan, atau menyerang kehidupan pribadi terkadang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Bahkan, sebagian pengguna memilih untuk menghapus unggahan atau membatasi aktivitas di media sosial karena khawatir terhadap respons orang lain.

Psikolog Andi Cahyadi, M.Psi., menjelaskan bahwa komentar negatif dapat memunculkan respons emosional yang berbeda pada setiap individu. Cara seseorang menyikapinya dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kondisi emosional, serta kemampuan dalam mengelola respons terhadap penilaian orang lain.

Menurutnya, langkah awal yang dapat dilakukan adalah tidak terburu-buru memberikan tanggapan. Memberikan jeda sebelum merespons dapat membantu seseorang memahami situasi dan menghindari konflik yang tidak perlu.

“Ketika menerima komentar negatif, penting untuk tidak langsung bereaksi. Berikan waktu untuk memahami apa yang disampaikan dan tentukan apakah komentar tersebut memang perlu ditanggapi,” jelasnya pada Senin (28/9/2026)

Ia mengatakan, Gen Z juga perlu membedakan antara kritik yang membangun dan komentar yang bertujuan menjatuhkan. Kritik yang disampaikan dengan alasan jelas dapat menjadi bahan evaluasi, sedangkan komentar yang berisi penghinaan tidak harus dijadikan dasar untuk menilai kemampuan maupun harga diri.

Selain itu, penting untuk membangun batasan dalam berinteraksi di media sosial. Pengguna dapat memanfaatkan fitur penyaringan komentar, membatasi interaksi, atau memblokir akun yang terus memberikan respons negatif.

“Tidak semua pendapat orang lain harus kita terima sebagai kebenaran. Kita perlu memiliki batasan agar komentar yang tidak relevan tidak terus memengaruhi cara kita memandang diri sendiri,” tambahnya.

Di sisi lain, seseorang perlu memahami bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam ruang digital. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan penghinaan atau menyerang kehidupan pribadi orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....