Gen Z Rentan Jadi People Pleaser, Ini Kata Psikolog

  • 31 Jul 2026 18:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah perkembangan media sosial dan tingginya kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan, fenomena people pleaser semakin banyak ditemukan pada Generasi Z. Psikolog menilai kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain dapat berdampak pada kesehatan mental apabila dilakukan secara berlebihan.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa people pleaser adalah perilaku ketika seseorang terus berusaha memenuhi harapan orang lain, meskipun harus mengorbankan kebutuhan, waktu, maupun perasaannya sendiri.

“Pada dasarnya membantu dan peduli kepada orang lain adalah hal yang baik. Namun ketika seseorang merasa harus selalu menyenangkan semua orang hingga mengabaikan dirinya sendiri, kondisi itu perlu menjadi perhatian,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.

Menurut Andi, Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami perilaku tersebut karena tumbuh di era digital yang penuh dengan penilaian dan validasi. Kehadiran media sosial membuat seseorang lebih mudah merasa perlu mendapatkan penerimaan dari lingkungan.

“Media sosial menghadirkan ruang di mana seseorang bisa dinilai setiap saat. Akibatnya, sebagian anak muda merasa harus selalu terlihat baik, ramah, dan menyenangkan agar diterima oleh orang lain,” jelasnya.

Ia menambahkan, rasa takut ditolak atau mengecewakan orang lain juga menjadi faktor yang mendorong seseorang menjadi people pleaser. Kondisi tersebut sering kali membuat individu sulit menolak permintaan, meskipun sebenarnya merasa tidak sanggup.

“Banyak yang mengatakan ‘iya’ bukan karena mampu, tetapi karena takut dianggap egois atau khawatir hubungan sosialnya terganggu,” tambah Andi.

Menurutnya, pola asuh dan pengalaman hidup juga turut memengaruhi terbentuknya perilaku tersebut. Anak yang sejak kecil terbiasa mendapatkan apresiasi hanya ketika memenuhi harapan orang lain berpotensi membawa pola yang sama hingga dewasa.

“Ketika harga diri dibangun berdasarkan penilaian orang lain, seseorang akan lebih mudah bergantung pada validasi eksternal,” katanya.

Andi menjelaskan, kebiasaan menjadi people pleaser dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis, seperti kelelahan emosional, stres, kecemasan, hingga burnout. Selain itu, seseorang juga berisiko kehilangan kesempatan untuk mengenali kebutuhan dan keinginannya sendiri.

“Jika terus mengutamakan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri, lama-kelamaan seseorang akan merasa lelah, kecewa, bahkan kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Untuk menghindari kondisi tersebut, Andi mengajak Generasi Z mulai belajar menetapkan batasan (boundaries) yang sehat. Ia menegaskan bahwa mengatakan "tidak" terhadap sesuatu yang berada di luar kemampuan bukanlah sikap egois, melainkan bentuk menghargai diri sendiri.

“Menolak dengan sopan bukan berarti kita tidak peduli. Justru itu menunjukkan bahwa kita memahami batas kemampuan dan dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri,” tegasnya.

Ia juga menyarankan agar generasi muda membangun rasa percaya diri dari kemampuan, nilai, dan karakter yang dimiliki, bukan dari banyaknya pujian atau penerimaan orang lain.

“Harga diri tidak bergantung pada seberapa banyak orang yang menyukai kita. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu menerima diri sendiri dan menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain,” pungkas Andi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....