Psikolog Jelaskan Cara Keluar dari Sikap People Pleaser

  • 31 Jul 2026 17:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain atau people pleaser menjadi fenomena yang semakin banyak disadari, terutama di kalangan Generasi Z. Meski berawal dari niat baik untuk membantu dan menjaga hubungan, psikolog mengingatkan bahwa perilaku tersebut perlu dikendalikan agar tidak berdampak pada kesehatan mental.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa keluar dari sikap people pleaser bukan berarti berubah menjadi pribadi yang cuek atau tidak peduli terhadap orang lain. Menurutnya, yang perlu dibangun adalah keseimbangan antara kepedulian kepada orang lain dan penghargaan terhadap diri sendiri.

“Banyak orang mengira mengatakan 'tidak' berarti egois. Padahal, menjaga batas kemampuan diri adalah bagian dari menjaga kesehatan mental,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.

Menurut Andi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali alasan di balik keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain. Seseorang perlu memahami apakah tindakan tersebut dilakukan karena tulus membantu atau karena takut ditolak, dikritik, atau tidak disukai.

“Kesadaran diri menjadi langkah awal. Ketika kita memahami motivasi di balik perilaku itu, kita akan lebih mudah mengubahnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, seseorang juga perlu belajar menetapkan batasan (boundaries) yang sehat. Tidak semua permintaan harus diterima, terutama jika hal tersebut mengganggu waktu, energi, atau kesehatan diri sendiri.

“Menolak permintaan dengan sopan bukan berarti memutus hubungan. Justru itu menunjukkan bahwa kita menghargai diri sendiri sekaligus bersikap jujur kepada orang lain,” tambah Andi.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar bagi people pleaser adalah rasa bersalah setelah mengatakan "tidak". Namun, perasaan tersebut merupakan bagian dari proses membangun kebiasaan baru.

“Rasa tidak nyaman di awal adalah hal yang wajar. Semakin sering seseorang menetapkan batasan yang sehat, rasa bersalah itu akan berkurang,” katanya.

Andi juga mengajak generasi muda untuk berhenti menjadikan validasi orang lain sebagai ukuran nilai diri. Ia menilai harga diri seharusnya dibangun dari kemampuan mengenali potensi, nilai, dan prinsip yang dimiliki, bukan dari banyaknya pujian atau penerimaan sosial.

“Jika kebahagiaan kita bergantung pada penilaian orang lain, kita akan terus merasa lelah mengejar sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan,” ujarnya.

Selain itu, ia menyarankan agar seseorang mulai melatih komunikasi yang asertif, yaitu kemampuan menyampaikan pendapat, kebutuhan, atau penolakan secara jujur, jelas, dan tetap menghargai orang lain.

“Komunikasi yang asertif membantu kita menyampaikan apa yang dirasakan tanpa harus menyakiti orang lain maupun mengorbankan diri sendiri,” tegas Andi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyediakan waktu untuk merawat diri (self-care), seperti beristirahat, menjalani hobi, berolahraga, atau melakukan aktivitas yang memberikan ketenangan. Menurutnya, seseorang yang mampu memenuhi kebutuhan dirinya akan lebih siap membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

“Merawat diri bukanlah bentuk egoisme. Justru dengan kondisi fisik dan mental yang baik, kita dapat membantu orang lain secara lebih optimal,” katanya.

Andi berharap Generasi Z tidak takut membangun batasan dalam hubungan sosial. Menurutnya, hubungan yang sehat adalah hubungan yang dilandasi saling menghormati, bukan tuntutan untuk selalu menyenangkan satu sama lain.

“Tidak semua orang harus menyukai kita, dan itu tidak apa-apa. Yang lebih penting adalah tetap menjadi diri sendiri tanpa kehilangan kepedulian terhadap orang lain,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....