Gen Z Rentan Terpapar Judi Online, Ini Kata Psikolog

  • 10 Jul 2026 04:43 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Maraknya perkembangan teknologi digital membuat akses terhadap berbagai layanan di internet semakin mudah, termasuk konten dan promosi judi online. Kondisi ini menjadi perhatian karena Generasi Z dinilai sebagai salah satu kelompok yang rentan terpapar berbagai bentuk promosi perjudian di ruang digital.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa Generasi Z memiliki intensitas penggunaan internet dan media sosial yang tinggi. Hal tersebut membuat mereka lebih sering berhadapan dengan berbagai iklan, tautan, maupun konten yang berkaitan dengan judi online.

“Paparan terhadap konten judi online bisa datang dari berbagai arah, mulai dari media sosial, aplikasi pesan, situs internet, hingga promosi yang disamarkan sebagai permainan atau hiburan,” ujarnya belum lama ini.

Menurut Andi, tingginya paparan belum tentu membuat seseorang terlibat dalam perjudian. Namun, paparan yang berulang dapat meningkatkan rasa penasaran, terutama jika disertai narasi mengenai keuntungan yang mudah dan cepat.

“Manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang terlihat memberikan hasil instan. Ketika seseorang terus-menerus melihat konten yang menjanjikan keuntungan besar, rasa ingin tahu bisa meningkat jika tidak dibarengi kemampuan berpikir kritis,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada masa remaja hingga dewasa muda, kemampuan mengendalikan dorongan dan mempertimbangkan risiko masih terus berkembang. Karena itu, generasi muda perlu memiliki bekal literasi digital dan kontrol diri agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk promosi di dunia maya.

“Generasi Z perlu memahami bahwa tidak semua informasi atau tawaran di internet memberikan manfaat. Mereka harus mampu menyaring informasi sebelum mengambil keputusan,” tambah Andi.

Menurutnya, faktor lain yang dapat meningkatkan kerentanan adalah tekanan ekonomi, keinginan memperoleh uang dengan cepat, serta pengaruh lingkungan pertemanan. Apabila seseorang merasa terdesak secara finansial atau melihat orang di sekitarnya mencoba judi online, risiko untuk ikut mencoba dapat meningkat.

“Keputusan sering kali dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu, penting memilih lingkungan pergaulan yang memberikan pengaruh positif,” katanya.

Andi mengingatkan bahwa keterlibatan dalam judi online dapat membawa berbagai dampak psikologis, seperti kecemasan, stres, rasa bersalah, hingga konflik dengan keluarga apabila aktivitas tersebut menimbulkan kerugian finansial.

“Awalnya mungkin hanya ingin mencoba, tetapi jika tidak mampu mengendalikan diri, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan,” ujarnya.

Untuk mencegah hal tersebut, Andi menyarankan generasi muda mengisi waktu luang dengan aktivitas yang lebih produktif, seperti mengembangkan keterampilan, mengikuti komunitas, berolahraga, atau menekuni hobi yang positif. Ia juga mendorong keluarga dan sekolah untuk memperkuat edukasi mengenai literasi digital dan risiko perjudian daring.

“Anak muda perlu memahami bahwa keberhasilan tidak datang dari jalan pintas. Keterampilan, kerja keras, dan proses yang konsisten jauh lebih memberikan hasil yang berkelanjutan,” tegasnya.

Andi berharap Generasi Z dapat lebih kritis terhadap berbagai tawaran yang beredar di ruang digital serta tidak mudah tergoda oleh janji keuntungan instan yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.

“Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan yang bijak dan bertanggung jawab saat berinteraksi di dunia digital,” tuturnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....