Psikolog Jelaskan Cara Gen Z Menghindari Jeratan Pinjol
- 09 Jul 2026 10:46 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Kemudahan mengakses pinjaman online atau pinjol melalui berbagai platform digital memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keuangan. Namun, di balik kemudahan tersebut, Generasi Z diingatkan untuk lebih bijak agar tidak terjebak dalam penggunaan pinjaman yang dapat menimbulkan masalah finansial maupun tekanan psikologis.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa langkah pertama untuk menghindari jeratan pinjol adalah membangun kesadaran bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi secara instan. Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri menjadi kunci utama dalam mengambil keputusan keuangan.
“Generasi Z perlu belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dimiliki saat itu juga,” ujarnya pada Selasa 7 Juli 2026.
Menurut Andi, budaya serba cepat di era digital membuat sebagian anak muda terbiasa mencari solusi instan, termasuk ketika menghadapi persoalan keuangan. Akibatnya, pinjol sering dianggap sebagai jalan keluar yang mudah tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
“Keputusan finansial yang diambil secara impulsif biasanya lebih berisiko. Karena itu, biasakan memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir sebelum memutuskan meminjam uang,” jelasnya.
Ia menambahkan, Generasi Z juga perlu memiliki perencanaan keuangan sederhana, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran, menyusun anggaran bulanan, serta membiasakan diri menabung. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan pada pinjaman ketika muncul kebutuhan mendadak.
“Literasi keuangan bukan hanya soal mengetahui cara menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana mengelolanya dengan bijak,” tambah Andi.
Selain itu, Andi mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Menurutnya, keinginan mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO) sering kali menjadi pemicu perilaku konsumtif yang berujung pada penggunaan pinjaman online.
“Jangan sampai keputusan keuangan dibuat hanya karena ingin terlihat sama dengan orang lain. Kemampuan finansial setiap orang berbeda,” katanya.
Ia juga menyarankan agar Gen Z membangun kebiasaan berdiskusi dengan orang tua, keluarga, atau orang yang lebih berpengalaman sebelum mengambil keputusan finansial yang besar. Dengan begitu, mereka dapat memperoleh sudut pandang yang lebih objektif.
Dari sisi psikologis, Andi menekankan pentingnya belajar menunda kepuasan (delayed gratification). Menurutnya, kemampuan menahan keinginan sesaat demi tujuan yang lebih besar akan membantu seseorang memiliki kondisi finansial yang lebih sehat.
“Belajar menunggu bukan berarti kehilangan kesempatan, tetapi memberi ruang untuk mengambil keputusan yang lebih rasional,” ujarnya.
| Baca juga: Mengenal Pria dengan Gaya Kelekatan Avoidant |
Ia juga mengimbau agar generasi muda tidak ragu mencari informasi mengenai risiko dan kewajiban sebelum menggunakan layanan pinjaman apa pun. Memahami syarat, biaya, dan kemampuan membayar merupakan langkah penting untuk menghindari masalah di kemudian hari.
“Jangan mudah tergoda oleh proses yang cepat. Pahami dulu seluruh konsekuensinya sebelum membuat keputusan,” tegas Andi.
Menurutnya, kebiasaan mengelola keuangan dengan baik akan memberikan manfaat tidak hanya bagi kondisi ekonomi, tetapi juga bagi kesehatan mental. Seseorang yang mampu mengatur keuangan cenderung lebih tenang dan tidak mudah mengalami stres akibat masalah utang.
“Keuangan yang sehat berawal dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten. Semakin bijak seseorang mengelola uangnya, semakin kecil risiko terjebak dalam masalah finansial,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....