People Pleaser Bisa Picu Burnout, Ungkap Psikolog

  • 31 Jul 2026 18:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kebiasaan selalu mengutamakan kebutuhan orang lain tanpa memperhatikan kondisi diri sendiri dapat berdampak pada kesehatan mental. Psikolog mengingatkan bahwa perilaku people pleaser yang berlangsung terus-menerus berisiko memicu burnout atau kelelahan fisik dan emosional, terutama di kalangan Generasi Z.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa people pleaser merupakan kecenderungan seseorang untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan atau menghindari penolakan. Menurutnya, jika perilaku tersebut dilakukan secara berlebihan, individu dapat kehilangan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.

“Orang yang memiliki kecenderungan people pleaser sering kali sulit mengatakan 'tidak'. Mereka lebih memilih memenuhi permintaan orang lain meskipun sebenarnya sudah merasa lelah atau keberatan,” ujarnya pada Kamis 30 Juli 2026.

Menurut Andi, kondisi tersebut membuat seseorang terus mengeluarkan energi emosional tanpa memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan diri. Akibatnya, tekanan yang terus menumpuk dapat berkembang menjadi burnout.

“Burnout tidak hanya disebabkan oleh banyaknya pekerjaan, tetapi juga karena seseorang terus-menerus memikul beban emosional demi memenuhi ekspektasi orang lain,” jelasnya.

Ia menambahkan, Generasi Z menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami kondisi tersebut karena hidup di era media sosial yang penuh dengan tuntutan untuk selalu responsif, membantu, dan menjaga citra di hadapan lingkungan.

“Sebagian anak muda merasa harus selalu tersedia untuk teman, keluarga, atau rekan kerja. Mereka khawatir dianggap tidak peduli jika menolak permintaan orang lain,” tambah Andi.

Menurutnya, beberapa tanda people pleaser mulai mengalami burnout antara lain mudah merasa lelah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, hingga merasa bersalah ketika ingin beristirahat.

“Banyak yang tetap memaksakan diri membantu orang lain, padahal kondisi fisik dan mentalnya sudah tidak sanggup. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup,” katanya.

Andi menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah ketidakmampuan menetapkan batasan (boundaries) yang sehat. Akibatnya, seseorang terus menerima tanggung jawab tambahan tanpa mempertimbangkan kapasitas dirinya.

“Belajar menetapkan batas bukan berarti menjadi egois. Justru itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan fisik dan mental kita sendiri,” ujarnya.

Ia menyarankan agar generasi muda mulai mengenali kemampuan diri, berani menyampaikan pendapat dengan sopan, serta tidak merasa bersalah ketika harus menolak sesuatu yang berada di luar batas kemampuan.

“Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Kita berhak memilih mana yang sesuai dengan kapasitas dan prioritas diri,” tegas Andi.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada penerimaan orang lain. Menurutnya, hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menghargai, termasuk menghormati batasan masing-masing individu.

“Orang yang benar-benar menghargai kita akan memahami ketika kita membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Menjaga kesehatan mental bukan berarti mengabaikan orang lain,” katanya.

Andi berharap Generasi Z semakin menyadari bahwa membantu orang lain merupakan tindakan yang baik, tetapi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

“Jangan sampai terlalu sibuk membahagiakan orang lain hingga lupa menjaga diri sendiri. Kita tidak bisa terus memberi jika energi dan kesehatan mental kita sendiri sudah habis,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....