Psikolog Soroti Maraknya Penggunaan Pinjol di Kalangan Gen Z

  • 10 Jul 2026 04:42 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kemudahan akses layanan keuangan digital membuat pinjaman online atau pinjol semakin banyak digunakan, termasuk oleh Generasi Z. Proses pengajuan yang cepat dan persyaratan yang relatif mudah dinilai menjadi daya tarik tersendiri. Namun, psikolog mengingatkan bahwa penggunaan pinjol tanpa pertimbangan yang matang dapat berdampak pada kondisi psikologis maupun kebiasaan finansial generasi muda.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa maraknya penggunaan pinjol di kalangan Gen Z tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga faktor psikologis dan lingkungan sosial.

“Sebagian Gen Z tumbuh di era serba instan, sehingga kemudahan mendapatkan akses dana sering kali terasa lebih menarik dibandingkan proses menabung atau merencanakan keuangan dalam jangka panjang,” ujarnya, kemarin.

Menurut Andi, tekanan gaya hidup dan pengaruh media sosial turut berperan dalam membentuk perilaku konsumtif. Paparan terhadap konten mengenai tren, fesyen, kuliner, hingga gaya hidup tertentu dapat mendorong sebagian anak muda ingin mengikuti apa yang mereka lihat, meskipun kondisi keuangannya belum memungkinkan.

“Ketika keinginan lebih besar daripada kemampuan finansial, pinjol sering dianggap sebagai jalan keluar yang cepat. Padahal keputusan tersebut perlu dipertimbangkan secara matang,” jelasnya.

Ia menambahkan, minimnya literasi keuangan juga menjadi salah satu penyebab sebagian Gen Z kurang memahami konsekuensi dari penggunaan pinjaman, seperti kewajiban membayar cicilan, bunga, maupun dampaknya terhadap kondisi keuangan di masa depan.

“Banyak yang hanya melihat kemudahan memperoleh dana, tetapi belum sepenuhnya memahami tanggung jawab yang menyertainya,” tambah Andi.

Dari sisi psikologis, penggunaan pinjol yang tidak terkendali dapat memicu berbagai tekanan, seperti kecemasan menghadapi jatuh tempo pembayaran, rasa bersalah, gangguan tidur, hingga stres akibat beban utang yang terus bertambah.

“Masalah keuangan sering kali tidak berhenti pada aspek ekonomi, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang,” katanya.

Andi menegaskan bahwa pinjaman bukanlah sesuatu yang selalu salah. Namun, keputusan untuk meminjam sebaiknya didasarkan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak dan disertai kemampuan untuk melunasi sesuai perjanjian.

“Yang perlu dibangun adalah kebiasaan mengelola keuangan secara sehat, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta tidak mengambil keputusan karena dorongan sesaat,” ucapnya.

Ia juga mengimbau orang tua, sekolah, dan perguruan tinggi untuk turut meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemahaman mengenai pengelolaan uang sejak dini dapat membantu Gen Z membuat keputusan finansial yang lebih bijak.

“Literasi finansial bukan hanya tentang cara menghasilkan uang, tetapi juga bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab,” tegas Andi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....