antara Kesukaan dan Ibadah: Bagaimana Memilih Prioritas dalam Islam
- 07 Jul 2026 08:40 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Antusiasme masyarakat terhadap gelaran Piala Dunia kerap membuat para penggemar rela begadang demi menyaksikan pertandingan tim favorit mereka. Namun di balik semangat tersebut, umat Islam diingatkan agar tetap mampu menempatkan skala prioritas dalam kehidupan, terutama menjaga ibadah dan kewajiban sehari-hari.
Hal itu disampaikan oleh tokoh agama di Madiun, Ustaz Amir Abdullah, M.Pd. saat menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi RRI Madiun, Selasa (7/7/2026). Menurutnya, menyukai olahraga, termasuk sepak bola dan Piala Dunia, merupakan hal yang diperbolehkan selama tidak menggeser kewajiban kepada Allah SWT.
"Islam tidak melarang seseorang menikmati hiburan atau mengidolakan sebuah cabang olahraga. Akan tetapi, ketika kecintaan itu membuat seseorang kurang tidur hingga meninggalkan salat berjamaah, terlambat bekerja, tidak produktif, bahkan mengabaikan hak keluarga, maka di situlah kita perlu mengevaluasi kembali mana yang menjadi prioritas," ujar Ustaz Amir Abdullah.
Ia menjelaskan bahwa seorang muslim harus mampu membedakan antara kebutuhan dan hiburan. Menonton pertandingan sepak bola merupakan aktivitas yang bersifat mubah atau boleh, sedangkan menjalankan ibadah wajib merupakan kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan dengan alasan apa pun.
Menurutnya, fenomena begadang demi menyaksikan pertandingan Piala Dunia sering kali berdampak pada kualitas ibadah. Tidak sedikit orang yang terlambat menunaikan salat Subuh, kehilangan semangat mengikuti kajian pagi, bahkan mengalami penurunan produktivitas karena kurang istirahat.
"Kalau kita rela begadang berjam-jam demi pertandingan sepak bola, seharusnya kita juga memiliki semangat yang lebih besar untuk menghadiri majelis ilmu atau menyimak Mutiara Pagi yang memberikan bekal bagi kehidupan dunia dan akhirat," katanya.
Ustaz Amir Abdullah mengingatkan bahwa Allah SWT telah mengajarkan umat Islam untuk menempatkan kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang. Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia..." (QS. Al-Qashash: 77).
Ayat tersebut, lanjutnya, mengajarkan bahwa umat Islam boleh menikmati berbagai aktivitas dunia, termasuk olahraga dan hiburan, namun tetap menjadikan ibadah sebagai prioritas utama.
Ia menambahkan bahwa rasa kagum terhadap atlet atau tim sepak bola tidak boleh berkembang menjadi sikap berlebihan hingga menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran secara sia-sia. Sebaliknya, kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, serta ilmu agama harus menjadi landasan utama dalam menjalani kehidupan.
"Dunia hanyalah sementara. Jangan sampai kita lebih hafal jadwal pertandingan dibanding jadwal salat. Jangan sampai kita rela kehilangan waktu tidur demi pertandingan, tetapi enggan bangun untuk salat Subuh atau mengikuti kajian yang memberikan manfaat bagi kehidupan," tuturnya.
Melalui program Mutiara Pagi RRI Madiun, Ustaz Amir Abdullah mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan yang lebih bermanfaat. Menurutnya, menyimak kajian keislaman di pagi hari dapat menjadi bekal spiritual sebelum memulai aktivitas, sehingga mampu menghadirkan ketenangan, semangat bekerja, serta keberkahan dalam kehidupan.
Ia berharap masyarakat mampu menempatkan setiap aktivitas sesuai porsinya. Menonton Piala Dunia dapat menjadi sarana hiburan, tetapi tidak boleh mengalahkan kewajiban beribadah, mencari ilmu, maupun menjalankan amanah pekerjaan.
"Prioritas seorang Muslim adalah ketaatan kepada Allah SWT. Hiburan boleh dinikmati, tetapi jangan sampai mengorbankan ibadah. Ketika kita mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, insyaallah hidup akan lebih seimbang, produktif, dan penuh keberkahan,. Kita bisa nonton siaran ulangnya misalnya, " tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....