Sebaik-Baik Perkara Adalah Pertengahan: Menjaga Keseimbangan Bekerja dan Ibadah
- 07 Jul 2026 08:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Prinsip hidup yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam. Nilai tersebut tercermin dalam ungkapan, "sebaik-baik perkara adalah pertengahan", yang mengajarkan umat agar tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan, baik dalam bekerja maupun beribadah.
Tokoh agama di Madiun, Ustaz Amir Abdullah, M.Pd. menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menjalani kehidupan secara proporsional. Menurutnya, bekerja merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal, sementara ibadah tetap menjadi fondasi utama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Islam tidak mengajarkan seseorang hanya fokus pada urusan dunia hingga melalaikan ibadah, ataupun hanya beribadah tanpa memenuhi tanggung jawab mencari nafkah dan berkontribusi kepada masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan," ujarnya, Selasa (7/72026).
Ia menegaskan bahwa konsep keseimbangan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas: 77).
Menurut Ustaz Amir Abdullah, ayat tersebut memberikan pedoman yang jelas bahwa setiap muslim diperintahkan untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa mengabaikan kebutuhan hidup di dunia. Bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan keluarga merupakan bentuk tanggung jawab yang bernilai ibadah, selama tetap menjaga kejujuran, amanah, dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pertengahan yang dimaksud dalam ajaran Islam adalah menjaga keseimbangan antara bekerja dan beribadah. Kesibukan mencari rezeki tidak boleh menjadi alasan meninggalkan salat, mengabaikan keluarga, maupun melupakan kewajiban agama. Sebaliknya, semangat beribadah juga tidak boleh membuat seseorang meninggalkan tanggung jawabnya untuk bekerja, belajar, dan memberikan manfaat bagi sesama.
"Seorang muslim yang baik adalah mereka yang mampu menyeimbangkan waktu dan tanggung jawabnya. Ketika bekerja, ia bekerja secara profesional dan penuh amanah. Ketika tiba waktu ibadah, ia segera memenuhi panggilan Allah. Inilah makna pertengahan yang diajarkan Islam," jelasnya.
Ustaz Amir Abdullah juga mengingatkan bahwa keseimbangan hidup akan menghadirkan ketenangan, keberkahan rezeki, dan keharmonisan dalam kehidupan. Dengan mengamalkan prinsip moderasi, seseorang tidak hanya meraih keberhasilan dalam urusan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....