Manusia Tidak Pernah Merasa Cukup: Syukur dan Qanaah jadi Kunci Ketenanangan
- 07 Jul 2026 08:47 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Keinginan manusia yang seolah tidak pernah ada habisnya menjadi salah satu persoalan yang kerap dibahas dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kemajuan zaman, banyak orang terus mengejar harta, jabatan, maupun popularitas, tetapi tetap merasa kurang dan belum puas dengan apa yang dimiliki. Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam kajian keislaman karena berkaitan erat dengan kondisi hati dan cara pandang seseorang terhadap nikmat Allah SWT.
Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., menjelaskan bahwa pada dasarnya sifat manusia memiliki kecenderungan untuk terus menginginkan lebih. Namun, Islam mengajarkan agar keinginan tersebut dikendalikan dengan rasa syukur dan sifat qanaah, yakni merasa cukup terhadap rezeki yang telah dianugerahkan Allah SWT tanpa berhenti berikhtiar.
"Perasaan tidak pernah cukup muncul ketika hati lebih banyak mengejar keinginan daripada mensyukuri nikmat yang sudah dimiliki. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya atau memiliki cita-cita tinggi, tetapi jangan sampai kecintaan terhadap dunia membuat hati kehilangan ketenangan," ujarnya saat memberikan kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Madiun, Selasa (7/7/2026).
Menurut Ustaz Amir, Al-Qur'an telah mengingatkan bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai harta secara berlebihan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 20:
"Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan."
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap materi dapat menguasai hati apabila tidak diimbangi dengan keimanan dan rasa syukur.
Selain itu, Allah SWT juga menjelaskan dalam Surah At-Takatsur ayat 1–2:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."
Menurut Ustaz Amir, ayat tersebut menggambarkan bagaimana manusia terkadang terlena dalam perlombaan mengumpulkan harta, kedudukan, maupun kebanggaan duniawi hingga melupakan tujuan utama kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
Ia menambahkan, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa keinginan manusia terhadap harta tidak akan pernah berakhir apabila tidak dikendalikan. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (kubur), dan Allah menerima tobat orang yang bertobat."
Hadis tersebut menunjukkan bahwa sifat rakus terhadap dunia merupakan tabiat manusia yang harus dilawan dengan keimanan dan kesadaran akan kehidupan akhirat.
| Baca juga: Berikut Ini Cara Muhasabah Diri yang Tepat |
Lebih lanjut, Ustaz Amir menjelaskan bahwa salah satu solusi agar hati merasa cukup adalah membiasakan diri bersyukur atas setiap nikmat yang diterima. Allah SWT berjanji dalam Surah Ibrahim ayat 7:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Menurutnya, rasa syukur tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat Allah untuk hal-hal yang bermanfaat serta tidak berlebihan dalam mengejar urusan dunia.
Selain bersyukur, ia juga mengajak umat Islam menumbuhkan sifat qanaah. Sikap tersebut bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil yang diperoleh dengan lapang dada setelah berikhtiar secara maksimal.
"Qanaah bukan berarti berhenti bekerja atau tidak memiliki cita-cita. Islam justru mendorong umatnya bekerja keras. Namun, setelah berusaha, hati tetap merasa cukup dan tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Di situlah letak ketenangan seorang mukmin," jelasnya.
Ustaz Amir juga mengingatkan bahwa salah satu cara menjaga hati dari sifat tamak adalah memperbanyak sedekah, memperkuat ibadah, serta membandingkan diri kepada mereka yang kehidupannya berada di bawah dalam urusan dunia. Sebaliknya, dalam urusan ibadah, umat Islam dianjurkan melihat mereka yang lebih baik agar termotivasi meningkatkan kualitas amal.
Fenomena manusia yang tidak pernah merasa cukup menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta atau tingginya jabatan. Dalam pandangan Islam, ketenangan lahir dari hati yang dipenuhi rasa syukur, qanaah, dan keyakinan bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah SWT sesuai dengan hikmah dan kebutuhan masing-masing hamba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....