Psikolog Soroti Fenomena Liburan Anak yang Tidak Berkualitas
- 29 Jun 2026 20:11 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Masa libur sekolah seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk beristirahat dari rutinitas belajar, mengembangkan minat, serta menikmati kebersamaan dengan keluarga. Namun, tidak sedikit anak yang justru menjalani liburan tanpa pengalaman yang bermakna, sehingga tujuan utama masa istirahat tersebut tidak tercapai.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa liburan yang berkualitas bukan ditentukan oleh banyaknya tempat wisata yang dikunjungi atau mahalnya biaya yang dikeluarkan. Menurutnya, kualitas liburan lebih diukur dari manfaat yang dirasakan anak, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
“Liburan yang berkualitas adalah ketika anak memiliki kesempatan untuk beristirahat, merasa bahagia, mengeksplorasi hal baru, dan menjalin kedekatan dengan keluarganya,” ujarnya pada Jumat (26/6/2026)
Menurut Andi, salah satu fenomena yang sering terjadi adalah anak menghabiskan sebagian besar waktu libur hanya dengan bermain gadget, menonton video, atau bermain gim tanpa aktivitas lain yang seimbang. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial, kreativitas, maupun aktivitas fisik.
“Liburan yang hanya dihabiskan di depan layar memang terasa menyenangkan sesaat, tetapi belum tentu memberikan pengalaman yang membangun bagi perkembangan anak,” jelasnya.
Di sisi lain, ada pula orang tua yang justru memenuhi jadwal liburan anak dengan berbagai les, kursus, atau target akademik. Meskipun bertujuan baik, kondisi tersebut dapat membuat anak tetap merasakan tekanan sehingga tidak memperoleh waktu pemulihan yang cukup.
“Anak membutuhkan jeda dari rutinitas. Jika seluruh waktu liburan tetap dipenuhi tuntutan, manfaat liburan akan berkurang,” tambah Andi.
Ia juga menyoroti minimnya interaksi antara orang tua dan anak selama masa liburan. Kesibukan pekerjaan maupun penggunaan gadget oleh orang tua sering kali membuat momen kebersamaan menjadi terbatas.
Padahal, menurut Andi, aktivitas sederhana seperti memasak bersama, bermain permainan keluarga, berolahraga, berkebun, membaca buku, atau sekadar berbincang dapat menjadi pengalaman yang jauh lebih bermakna bagi anak dibanding aktivitas yang bersifat konsumtif.
“Yang paling diingat anak bukan seberapa jauh mereka berlibur, tetapi bagaimana mereka merasa diperhatikan dan menikmati waktu bersama keluarganya,” katanya.
Andi menyarankan agar orang tua menyusun agenda liburan yang seimbang, mencakup waktu istirahat, aktivitas fisik, eksplorasi minat, serta kebersamaan keluarga. Dengan demikian, anak dapat kembali ke sekolah dalam kondisi yang lebih segar dan siap belajar.
“Liburan bukan hanya tentang mengisi waktu luang, tetapi tentang memberikan pengalaman yang mendukung perkembangan emosi, kreativitas, dan hubungan sosial anak,” tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....