Gen Z Rentan Terjebak Pinjol, Ini Kata Psikolog
- 10 Jul 2026 04:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kemudahan mengakses layanan pinjaman online atau pinjol melalui aplikasi digital membuat layanan ini semakin akrab di kalangan Generasi Z. Meski menawarkan proses yang cepat dan praktis, psikolog mengingatkan bahwa generasi muda menjadi salah satu kelompok yang rentan terjebak dalam penggunaan pinjol apabila tidak dibekali literasi keuangan dan pengendalian diri yang baik.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa kerentanan Gen Z terhadap pinjol bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakteristik usia, perkembangan teknologi, serta lingkungan sosial.
“Generasi Z hidup di era serba digital dengan berbagai kemudahan yang tersedia. Pola pikir yang terbiasa dengan sesuatu yang instan terkadang membuat mereka kurang mempertimbangkan risiko jangka panjang ketika mengambil keputusan finansial,” ujarnya, kemarin.
Menurut Andi, dorongan untuk mengikuti tren gaya hidup juga menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian Gen Z memilih menggunakan pinjol. Keinginan untuk memiliki barang tertentu, mengikuti gaya hidup teman, atau menikmati pengalaman yang sedang populer sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan finansial.
“Media sosial membuat seseorang lebih mudah melihat kehidupan orang lain. Jika tidak disikapi secara bijak, muncul keinginan untuk selalu mengikuti tren meskipun kondisi keuangan belum mendukung,” jelasnya.
Ia menambahkan, fenomena fear of missing out (FOMO) juga berperan dalam mendorong perilaku konsumtif. Ketakutan dianggap tertinggal dari lingkungan dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara impulsif, termasuk memanfaatkan pinjaman online.
“Sering kali keputusan meminjam dilakukan bukan karena kebutuhan yang mendesak, tetapi karena dorongan emosional agar tetap merasa setara dengan lingkungan,” tambah Andi.
Selain itu, Andi menilai masih rendahnya literasi keuangan menjadi tantangan tersendiri. Banyak generasi muda yang belum memahami cara mengelola anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, maupun menghitung kemampuan membayar sebelum memutuskan untuk berutang.
“Pinjaman bukan hanya soal menerima uang, tetapi juga tentang kesiapan memenuhi kewajiban pembayaran sesuai perjanjian,” katanya.
Dari sisi psikologis, tekanan akibat utang dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga menurunnya konsentrasi dalam belajar maupun bekerja. Jika dibiarkan, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar.
“Masalah keuangan sering kali berkembang menjadi masalah psikologis ketika seseorang merasa kesulitan memenuhi kewajiban yang dimilikinya,” ujar Andi.
Untuk mencegah hal tersebut, ia mengajak Generasi Z membangun kebiasaan finansial yang sehat dengan membuat anggaran, menabung secara rutin, serta mempertimbangkan setiap keputusan pembelian. Ia juga menyarankan agar anak muda tidak mudah tergoda oleh kemudahan pencairan dana tanpa memahami risiko yang menyertainya.
“Biasakan bertanya kepada diri sendiri, apakah ini benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan sesaat. Pengendalian diri menjadi salah satu bekal penting dalam menjaga kesehatan finansial,” tegasnya.
Andi berharap keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi turut berperan dalam meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda agar mereka mampu mengambil keputusan secara lebih rasional.
“Generasi muda perlu memahami bahwa kebebasan finansial bukan ditentukan oleh mudahnya memperoleh pinjaman, tetapi oleh kemampuan mengelola keuangan secara bertanggung jawab,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....