Psikolog Soroti Kebiasaan Orang Tua yang Merusak Momen Liburan Anak

  • 29 Jun 2026 20:08 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Libur sekolah seharusnya menjadi waktu bagi anak untuk beristirahat, mengisi energi, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Namun, tanpa disadari, sejumlah kebiasaan orang tua justru dapat mengurangi makna liburan dan berdampak pada kondisi psikologis anak.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa salah satu kesalahan yang kerap dilakukan orang tua adalah menganggap liburan sebagai kesempatan untuk memenuhi jadwal anak dengan berbagai aktivitas tanpa memberikan ruang untuk beristirahat.

“Banyak orang tua berpikir semakin banyak kegiatan, semakin baik. Padahal anak juga membutuhkan waktu untuk rileks, bermain, dan menikmati masa libur tanpa tekanan,” ujarnya pada Jumat (26/6/2026)

Menurut Andi, mengisi liburan dengan les tambahan, kursus, atau target akademik yang berlebihan dapat membuat anak tetap merasakan tekanan seperti saat menjalani hari sekolah. Akibatnya, tujuan utama liburan sebagai waktu pemulihan fisik dan mental menjadi tidak tercapai.

“Liburan bukan berarti berhenti belajar, tetapi memberi kesempatan bagi otak dan emosi anak untuk beristirahat agar kembali segar saat memasuki tahun ajaran baru,” jelasnya.

Selain jadwal yang terlalu padat, Andi juga menyoroti kebiasaan orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau gadget saat mendampingi anak. Menurutnya, kehadiran fisik tanpa keterlibatan emosional membuat anak tetap merasa kurang mendapatkan perhatian.

“Anak lebih menghargai waktu berkualitas bersama orang tua dibanding sekadar berada di tempat yang sama tanpa komunikasi,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadikan liburan sebagai ajang membandingkan anak dengan saudara atau teman sebayanya, misalnya terkait prestasi atau aktivitas yang dilakukan selama liburan. Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan tekanan dan menurunkan rasa percaya diri anak.

Di sisi lain, memberikan kebebasan penuh tanpa pendampingan juga bukan pilihan yang tepat. Anak tetap memerlukan batasan, terutama dalam penggunaan gadget dan pengaturan waktu agar aktivitas selama liburan tetap seimbang.

“Liburan yang ideal adalah ketika anak memiliki kesempatan untuk bermain, beristirahat, belajar hal baru, dan merasakan kedekatan dengan keluarganya,” kata Andi.

Ia menyarankan orang tua melibatkan anak dalam menyusun rencana liburan, sehingga kegiatan yang dilakukan sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Aktivitas sederhana seperti memasak bersama, berolahraga, berkunjung ke tempat edukasi, atau sekadar berbincang dapat menjadi pengalaman yang berkesan.

“Yang akan diingat anak ketika dewasa bukan seberapa mahal liburannya, tetapi bagaimana mereka merasa dicintai, didengarkan, dan dihargai selama menghabiskan waktu bersama keluarga,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....