Urgensi Keteladanan dalam Pendidikan Anak, dalam Pandangan Islam

  • 01 Sep 2026 10:34 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Pendidikan anak tidak cukup hanya dilakukan melalui nasihat dan penyampaian teori. Keteladanan dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan Ustaz Amir Abdullah, M.Pd. Menurutnya, pendidikan yang efektif bukan hanya tentang bagaimana orang dewasa berbicara kepada anak, tetapi juga bagaimana mereka memberikan contoh nyata melalui sikap dan perilaku.

“Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka tidak hanya mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi juga memperhatikan bagaimana kita bersikap. Karena itu, keteladanan menjadi bagian yang sangat penting dalam pendidikan anak,” ujar Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., Selasa, 1 September 2026.

Ia menjelaskan bahwa orang tua dan pendidik merupakan figur yang paling dekat dengan kehidupan anak. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa dapat menjadi referensi bagi anak dalam membangun kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga menentukan sikap terhadap berbagai persoalan.

Dalam proses pendidikan, nasihat tetap memiliki peran penting. Namun, nasihat akan lebih mudah diterima apabila disertai dengan contoh nyata. Orang tua yang meminta anak berkata jujur, misalnya, harus terlebih dahulu menunjukkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula ketika orang tua mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tertanam ketika anak melihat langsung penerapannya dalam kehidupan orang-orang terdekat.

“Kalau kita meminta anak rajin salat, tetapi anak melihat orang tuanya sering meninggalkan salat, pesan pendidikan menjadi tidak kuat. Kalau kita meminta anak berbicara dengan sopan, tetapi orang dewasa di sekitarnya justru mudah berkata kasar, anak akan mengalami kebingungan antara nasihat dan kenyataan yang dia lihat,” jelasnya.

Menurut Ustaz Amir, keteladanan tidak harus diwujudkan melalui tindakan-tindakan besar. Kebiasaan sederhana seperti mengucapkan salam, berkata jujur, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menepati janji, menghormati orang lain, serta menjaga ibadah merupakan bentuk pendidikan yang sangat berarti bagi anak.

Rasulullah SAW sebagai Teladan Utama

Dalam perspektif Islam, keteladanan memiliki landasan yang kuat. Allah SWT menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh terbaik bagi umat manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keteladanan merupakan metode penting dalam pendidikan Islam. Rasulullah SAW tidak hanya menyampaikan ajaran melalui perkataan, tetapi juga memberikan contoh nyata melalui akhlak dan perilaku beliau.

Ustaz Amir menegaskan bahwa prinsip tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan anak di lingkungan keluarga maupun sekolah.

“Kalau kita ingin membentuk anak yang berakhlak, maka orang dewasa harus terlebih dahulu berusaha menghadirkan akhlak tersebut dalam dirinya. Pendidikan karakter dimulai dari contoh yang dilihat anak setiap hari,” tuturnya.

Keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Sebelum mengenal sekolah dan lingkungan sosial yang lebih luas, anak terlebih dahulu belajar dari orang tua dan anggota keluarga.

Dalam konteks pendidikan Islam, tanggung jawab orang tua terhadap keluarga juga ditegaskan Allah SWT dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan menjaga keluarganya, termasuk memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada anak.

Menurut Ustaz Amir, tanggung jawab tersebut tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah atau lembaga pendidikan.

“Sekolah memang memiliki peran besar, tetapi pendidikan anak tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada guru. Anak menghabiskan banyak waktu di rumah. Karena itu, orang tua harus menjadi teladan utama dalam kehidupan anak,” katanya.

Keteladanan Guru di Lingkungan Sekolah

Selain orang tua, guru juga memiliki posisi strategis dalam pembentukan karakter anak. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, tetapi juga figur yang diamati oleh peserta didik.

Sikap guru dalam menghadapi masalah, memperlakukan siswa, berbicara, memberikan hukuman, hingga menyelesaikan konflik dapat menjadi pembelajaran tersendiri bagi anak.

Ustaz Amir menilai bahwa keteladanan guru akan semakin penting di tengah tantangan pendidikan saat ini, ketika anak-anak memperoleh banyak informasi dan figur panutan dari media sosial.

“Anak sekarang memiliki banyak sumber untuk ditiru. Karena itu, kehadiran orang tua dan guru sebagai teladan yang nyata menjadi semakin penting. Jangan sampai anak lebih banyak meniru figur di media sosial daripada orang-orang yang mendidiknya,” ujarnya.

Salah satu tantangan dalam memberikan keteladanan adalah konsistensi. Menurut Ustaz Amir, anak dapat dengan mudah menangkap ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan orang dewasa.

Karena itu, pendidikan karakter membutuhkan proses panjang dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

“Keteladanan bukan program sehari atau dua hari. Ia harus menjadi budaya. Anak perlu melihat perilaku baik itu berulang kali sampai akhirnya menjadi bagian dari kebiasaan dan kepribadiannya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan orang tua dan guru agar tidak merasa harus menjadi manusia yang sempurna di hadapan anak. Justru, ketika melakukan kesalahan, orang dewasa dapat memberikan teladan dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf.

“Ketika seorang ayah atau ibu berani mengatakan, ‘Ayah salah, maafkan Ayah,’ itu juga pendidikan. Anak belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari akhlak yang baik,” tambahnya.

Urgensi keteladanan juga dapat dipahami melalui sabda Rasulullah SAW tentang tanggung jawab setiap individu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis tersebut memberikan pesan bahwa orang tua maupun pendidik memiliki amanah dalam membimbing mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Bagi Ustaz Amir, amanah tersebut tidak hanya berupa memberikan kebutuhan materi dan pendidikan formal, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya akhlak dan karakter positif.

Untuk membangun budaya keteladanan di rumah dan sekolah, Ustaz Amir menyarankan agar orang dewasa memulainya dari kebiasaan sederhana dan konsisten.

“Tidak perlu menunggu menjadi orang tua atau guru yang sempurna. Mulailah dari satu kebiasaan baik, lakukan secara konsisten, dan biarkan anak melihatnya setiap hari,” pesan Ustaz Amir.

Pada akhirnya, pendidikan anak bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diberikan, tetapi juga tentang seberapa kuat nilai tersebut dicontohkan oleh orang-orang di sekitarnya. Keteladanan menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara nasihat dan tindakan.

Dengan demikian, keluarga dan sekolah perlu berjalan bersama dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang penuh keteladanan. Sebab, anak bukan hanya membutuhkan orang yang mengajarinya tentang kebaikan, tetapi juga membutuhkan orang yang menunjukkan kepadanya bagaimana kebaikan itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....