Muharram Bukan Sekadar Tahun Baru Islam, H. Kusnan Tekankan Pentingnya Aksi Nyata

  • 24 Jun 2026 06:14 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Bulan Muharram sebagai salah satu bulan mulia dalam Islam tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah ritual, tetapi juga mendorong umat Islam melakukan berbagai aksi nyata yang membawa manfaat bagi sesama. Hal tersebut disampaikan oleh H. Kusnan, M.Ag dalam program Kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Madiun.

H. Kusnan menjelaskan bahwa Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, setiap Muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan kepedulian sosial, serta melakukan evaluasi diri sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Bulan Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi menjadi momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Hijrah itu harus tampak dalam tindakan nyata, bukan hanya sebatas niat dan ucapan,” ujar H. Kusnan, Rabu, 24 Juni 2026.

H. Kusnan mengawali kajiannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu.”

Menurutnya, Muharram termasuk bulan yang memiliki keutamaan besar sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.”

(HR. Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan betapa istimewanya Muharram sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam pemaparannya, H. Kusnan menjelaskan beberapa bentuk aksi nyata yang dapat dilakukan masyarakat selama bulan Muharram.

Muharram sering dikenal masyarakat sebagai bulan kepedulian terhadap anak yatim. Menurut H. Kusnan, perhatian kepada anak yatim merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 220: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik.”

“Memberikan santunan kepada anak yatim, membantu kebutuhan pendidikan mereka, atau sekadar memberikan perhatian dan kasih sayang merupakan bentuk aksi nyata yang sangat mulia di bulan Muharram,” jelasnya.

Aksi nyata berikutnya adalah menghidupkan ibadah puasa sunnah, khususnya puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”

(HR. Muslim)

Menurut H. Kusnan, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri, kejujuran, serta kepedulian terhadap sesama.

Muharram juga menjadi momentum untuk meningkatkan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Bentuknya dapat berupa kegiatan bakti sosial, membantu fakir miskin, gotong royong membersihkan lingkungan, hingga mendukung program-program kemanusiaan.

“Jangan sampai Muharram hanya diramaikan dengan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana kehadiran kita membawa manfaat bagi orang lain,” tegasnya.

Ia mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

(HR. Ahmad)

Sebagai awal tahun Hijriah, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah.

H. Kusnan mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Menurutnya, setiap Muslim perlu meninjau kembali perjalanan hidupnya, memperbaiki kekurangan, memperkuat ibadah, dan merencanakan langkah-langkah kebaikan di masa depan.

Dalam kajian yang disiarkan melalui Pro 1 RRI Madiun tersebut, H. Kusnan juga mengingatkan bahwa semangat Muharram tidak terlepas dari makna hijrah Rasulullah SAW. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju perilaku yang lebih baik.

“Jika tahun lalu masih banyak menunda kebaikan, maka tahun ini harus lebih disiplin. Jika sebelumnya kurang peduli terhadap sesama, maka Muharram menjadi kesempatan untuk meningkatkan kepedulian sosial. Itulah makna hijrah yang sesungguhnya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....