Maknai Kemerdekaan Secara Hakiki, Bukan Sekadar Euforia
- 22 Agt 2026 11:15 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum untuk menggelar berbagai perlombaan dan kegiatan hiburan. Kemerdekaan juga perlu menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan refleksi dan memahami makna kebebasan secara lebih mendalam.
Dra. Muftiati Sholikah, M.Pd., mengatakan masyarakat memang dapat mengekspresikan rasa syukur dan kebahagiaan atas kemerdekaan melalui berbagai kegiatan. Namun, euforia tersebut seharusnya tidak menjadi satu-satunya cara dalam memaknai kemerdekaan.
“Tidak hanya sekadar dengan euforia, dengan mengadakan berbagai kegiatan perlombaan, dengan mengadakan kegiatan yang menunjukkan satu kebanggaan sebagai bentuk kebahagiaan,” ujar Muftiati, kemarin.
Menurutnya, dalam perspektif Islam, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Kemerdekaan juga tidak sebatas kondisi masyarakat yang saat ini dapat hidup bebas dan menikmati udara segar tanpa tekanan dari penjajah.
“Memaknai kemerdekaan dalam Islam tidak sekadar kita terbebas dari tangan penjajah. Tidak hanya kita merdeka, bisa menghirup udara segar yang saat ini sampai kita rasakan dengan tiada hentinya,” jelasnya.
Lebih jauh, Muftiati menjelaskan bahwa konsep kemerdekaan dalam Islam memiliki makna yang lebih luas. Kebebasan sebuah negara dan bangsa merupakan bagian dari kemerdekaan, tetapi bukan menjadi satu-satunya bentuk kebebasan yang harus disyukuri.
“Namun, di dalam Islam merdeka yang bisa diartikan bebas adalah tidak sekadar kemerdekaan sebuah negara dan bangsa,” katanya.
Ia menegaskan, kemerdekaan hakiki dalam Islam berkaitan dengan kebebasan seorang hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Kebebasan tersebut diwujudkan dengan menjalankan perintah agama tanpa adanya hambatan yang menghalangi seseorang untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
“Namun, kemerdekaan yang hakiki di dalam Islam adalah tatkala seorang hamba bebas melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala tanpa ada satu penghalang apa pun,” ungkap Muftiati.
Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan berbagai kegiatan. Euforia kemerdekaan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan rasa syukur sekaligus melakukan introspeksi mengenai sejauh mana kebebasan yang dimiliki telah digunakan untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.
Muftiati pun mengajak masyarakat untuk mengisi kemerdekaan dengan aktivitas yang memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Dengan demikian, perayaan kemerdekaan tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas kehidupan beragama.
“Lalu bagaimana kemerdekaan yang saat ini kita euforia kan dengan kegembiraan-kegembiraan,” pungkasnya.
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bahwa kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan, tetapi juga dimaknai dan diisi dengan tindakan nyata yang mencerminkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....