Idulfitri Lebih Awal, Warga Muhammadiyah Padati Islamic Center Kota Madiun

  • 20 Mar 2026 08:39 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Meski pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, warga Muhammadiyah telah lebih dahulu merayakan Hari Raya Idulfitri pada Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan ini tidak menyurutkan kekhidmatan ibadah, justru menghadirkan suasana penuh kebahagiaan di sejumlah titik, salah satunya di Islamic Center Kota Madiun.

Sejak pagi hari, ratusan jamaah memadati kawasan Islamic Center yang berlokasi di Jalan Sumatra 6-10 Kota Madiun. Sholat Idulfitri yang dimulai pukul 06.20 WIB berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan.

Warga tampak antusias datang bersama keluarga, mengenakan pakaian terbaik sebagai simbol kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah Ramadan.

Bertindak sebagai imam sekaligus khotib, Ustadz Dr. Taufiqullah Ahmadi, M.Pd.I dari Gresik, menyampaikan khutbah bertema “Mari Berhari Raya dengan Berbahagia dan Bersilaturahmi dengan Berbagi.”

Dalam pesannya, ia menekankan bahwa Idulfitri dan Iduladha merupakan hari kebahagiaan yang seharusnya dirayakan dengan penuh rasa syukur, bukan kesedihan.

“Hari ini adalah hari bahagia. Kita patut bersyukur karena masih dipertemukan dengan Ramadan, bisa menjalankan puasa dan qiyamullail,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia juga mengingatkan bahwa salah satu bentuk kebahagiaan tersebut adalah mempererat silaturahmi, tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi juga saling berbagi dan memaafkan. Dalam khutbahnya, ia mengisahkan keteladanan Abu Bakar yang tetap membantu sahabatnya meskipun pernah disakiti, setelah mendapat teguran melalui ayat Al-Qur’an.

Kisah tersebut menjadi pengingat penting bahwa memaafkan adalah bagian dari rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Hal senada juga dicontohkan Rasulullah SAW saat Fathu Makkah, di mana beliau memilih memaafkan kaum Quraisy tanpa balas dendam.

Selain itu, khotib juga mengingatkan pentingnya menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan sholat Id. Ia menegaskan bahwa zakat merupakan hak kaum fakir miskin, sehingga harus ditunaikan tepat waktu. Jika dikeluarkan setelah sholat Id, maka statusnya bukan lagi zakat, melainkan sedekah biasa.

Menutup khutbahnya, jamaah diajak untuk menjauhi permusuhan, saling memaafkan, serta mempererat hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Momentum Idulfitri, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bersih dan penuh kasih.

Perayaan Idulfitri lebih awal ini pun berlangsung penuh makna. Di tengah perbedaan penetapan hari raya, semangat kebersamaan, toleransi, dan nilai-nilai silaturahmi tetap menjadi jembatan yang menyatukan umat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....