Hikmah Puasa Ramadhan: Cukupkah Hanya Mengejar Pahala?
- 27 Feb 2026 08:36 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Ramadan bukan sekadar bulan penuh pahala, tetapi juga momentum pembentukan karakter dan peningkatan kualitas spiritual seorang Muslim. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, cukupkah menjalankan puasa hanya dengan niat mengejar pahala semata? Ataukah ada makna yang lebih dalam dari ibadah yang diwajibkan ini?
Ustaz Drs. H. Mas'ud Yahya, M.Pd.I. dalam program TAKJIL (Tanya Jawab Islam) menjelaskan bahwa puasa Ramadan memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar perhitungan pahala dan dosa. “Pahala memang janji Allah SWT, tetapi tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan dan memperbaiki diri,” ujarnya beberapa waktu yang lalu.
Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:
“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Menurut beliau, frasa “la‘allakum tattaqūn” (agar kamu bertakwa) menunjukkan bahwa orientasi puasa bukan hanya pahala, melainkan transformasi diri menuju derajat takwa. Takwa bukan hanya rajin ibadah, tetapi juga tercermin dalam akhlak, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial.
Lebih lanjut, Ustaz Mas'ud Yahya menegaskan bahwa puasa juga melatih pengendalian diri. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan, sikap, dan perilaku. Jika seseorang berpuasa namun masih gemar berbohong, menyakiti orang lain, atau melakukan kemaksiatan, maka nilai puasanya menjadi berkurang.
Dalam konteks sosial, Ramadan juga mengajarkan empati. Rasa lapar yang dirasakan selama berpuasa menjadi sarana untuk memahami penderitaan kaum dhuafa. Dari sinilah lahir semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. “Ramadan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih peduli dan ringan tangan membantu sesama,” tambahnya.
Ustaz Mas'ud Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada formalitas ibadah. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini menjadi peringatan bahwa puasa tanpa keikhlasan dan perbaikan akhlak bisa kehilangan esensinya. Oleh karena itu, puasa hendaknya menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri), memperbaiki hubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Menjawab pertanyaan “cukupkah hanya mengejar pahala?”, Ustaz Mas'ud Yahya menegaskan bahwa pahala adalah bonus dari Allah SWT, sedangkan tujuan utama puasa adalah perubahan diri. Ramadan seharusnya menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih sabar, disiplin, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, puasa Ramadan bukan hanya tentang hitungan ganjaran, tetapi tentang proses pembentukan jiwa. Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih baik dalam ibadah dan akhlaknya, maka itulah tanda bahwa puasa telah mencapai tujuannya.
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah kehidupan. Maka, pertanyaannya bukan lagi cukupkah hanya mengejar pahala, melainkan sudahkah puasa kita benar-benar membentuk ketakwaan dalam diri?.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....