Pentingnya Pertumbuhan Ekonomi untuk Menekan Pengangguran di Aceh

  • 30 Agt 2026 13:03 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Aceh - menghadapi tantangan serius di bidang ketenagakerjaan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh pada Februari 2026 mencapai 5,88 persen. Angka ini berarti 156.230 orang menganggur dari total angkatan kerja 2,66 juta orang. Jumlah pengangguran bertambah 7.430 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Masalah ini bukan fenomena baru. Provinsi Aceh secara konsisten menghadapi tingkat pengangguran yang relatif tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2025, TPT Aceh tercatat 5,64 persen. Angka ini masih berada di atas target Rencana Pembangunan Aceh 2025 sebesar 5,24 persen.

Data terbaru menunjukkan situasi semakin mengkhawatirkan. Pada Mei 2026, TPT Aceh naik tipis menjadi 5,89 persen. Pengangguran di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan, masing-masing 6,52 persen dan 5,44 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa urbanisasi belum menjamin ketersediaan lapangan kerja.

Dua faktor kunci dapat menekan tingkat pengangguran di Aceh, yaitu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian akademis membuktikan hubungan signifikan antara kedua variabel ini dengan tingkat pengangguran.

Pertumbuhan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja

Pertumbuhan ekonomi berperan penting dalam menyerap tenaga kerja. Penelitian di Aceh menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran. Artinya, setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan jumlah pengangguran.

Namun, realitas di Aceh masih memprihatinkan. Pertumbuhan ekonomi Aceh pada tahun 2025 hanya mencapai 2,97 persen. Capaian ini turun 1,69 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 4,66 persen. Angka ini juga berada di bawah target RPA 2025 sebesar 3,85 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar penyerapan tenaga kerja sebesar 41,39 persen. Ketergantungan pada sektor primer membuat pasar kerja rentan terhadap guncangan.

Bencana alam banjir dan tanah longsor akhir November 2025 memperparah kondisi. Sektor pertanian yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja terkena dampak langsung. Akibatnya, TPT Aceh meningkat 0,38 poin persentase pada Februari 2026.

Pemerintah Aceh menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,09 persen pada tahun 2027. Target ini harus didukung oleh kebijakan konkret. Tanpa percepatan pertumbuhan ekonomi, pengangguran akan terus bertambah.

Indeks Pembangunan Manusia sebagai Solusi Jangka Panjang

IPM menjadi faktor strategis dalam menekan pengangguran. Penelitian menunjukkan bahwa IPM memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran di Aceh. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan daya saing tenaga kerja.

Capaian IPM Aceh menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, IPM Aceh mencapai 76,23, naik 0,87 poin dari 75,36 pada tahun 2024. Capaian ini telah melampaui target RPA 2025 sebesar 72,98.

Namun, peningkatan IPM masih terlalu kecil. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mencapai 9,95 tahun pada tahun 2025, naik 0,31 tahun dari 9,64 tahun di tahun 2024. Angka ini setara dengan pendidikan kelas 10, masih di bawah standar pendidikan menengah atas.

Harapan Lama Sekolah (HLS) hanya naik 0,01 tahun menjadi 14,40 tahun. Kenaikan yang sangat kecil ini mengindikasikan perlunya akselerasi kebijakan di sektor pendidikan menengah dan tinggi.

Penelitian mengungkapkan bahwa IPM berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Aceh. Peningkatan IPM tidak hanya menurunkan pengangguran secara langsung, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja.

Kesenjangan Antar Wilayah

Masalah pengangguran di Aceh tidak merata antarkabupaten dan kota. Data tahun 2025 menunjukkan variasi TPT yang cukup lebar. Aceh Besar mencatat TPT tertinggi sebesar 7,86 persen, diikuti Aceh Timur 7,74 persen. Sementara itu, Bireuen memiliki TPT terendah sebesar 3,82 persen.

Kesenjangan ini mencerminkan perbedaan kapasitas ekonomi dan kualitas SDM antardaerah. Kabupaten dengan pertumbuhan ekonomi rendah dan IPM rendah cenderung memiliki pengangguran lebih tinggi.

Aceh Utara mencatat pertumbuhan ekonomi hanya 0,94 persen pada tahun 2025. Angka ini jauh di bawah rata-rata provinsi. Akibatnya, TPT Aceh Utara mencapai 6,88 persen. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah provinsi dan kabupaten.

Interaksi Dinamis Antar Variabel

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi, IPM, dan pengangguran bersifat dinamis. Penelitian jangka panjang di Aceh menunjukkan hubungan kausalitas yang kompleks.

Terdapat hubungan dua arah antara pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Demikian pula dengan IPM dan kemiskinan. Artinya, peningkatan pertumbuhan ekonomi akan menurunkan kemiskinan, dan penurunan kemiskinan pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Penelitian lain mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi dan IPM berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Aceh. Pengangguran menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan. Dengan demikian, menekan pengangguran melalui pertumbuhan ekonomi dan peningkatan IPM akan berdampak ganda pada pengurangan kemiskinan.

Rekomendasi Kebijakan

Pertama, pemerintah Aceh harus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Target pertumbuhan ekonomi 4,09 persen pada tahun 2027 memerlukan strategi konkret. Investasi di sektor-sektor padat karya perlu diprioritaskan.

Kedua, peningkatan IPM harus dipercepat. Program pendidikan dan kesehatan yang terarah dan terukur menjadi kunci. Pemerintah perlu memastikan akses pendidikan dan kesehatan yang merata di seluruh kabupaten dan kota.

Ketiga, kebijakan harus berbasis data dan spesifik wilayah. Kabupaten dengan TPT tinggi seperti Aceh Besar dan Aceh Timur memerlukan intervensi berbeda dengan daerah yang TPT-nya rendah.

Keempat, pemerintah harus memperhatikan sektor pertanian yang menyerap hampir 40 persen tenaga kerja. Perlindungan terhadap sektor ini dari dampak bencana alam dan perubahan iklim menjadi penting.

Kesimpulan

Pengangguran di Aceh merupakan masalah serius yang memerlukan penanganan komprehensif. Data menunjukkan TPT Aceh mencapai 5,88 persen pada Februari 2026 dengan jumlah penganggur 156.230 orang.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah dan peningkatan IPM yang lambat menjadi penyebab utama. Penelitian membuktikan bahwa kedua faktor ini berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengangguran di Aceh.

Pemerintah Aceh harus menggerakkan pertumbuhan ekonomi dan mempercepat peningkatan IPM secara simultan. Kedua kebijakan ini saling memperkuat dalam menciptakan lapangan kerja dan menekan pengangguran.

Tanpa langkah nyata dan terukur, angka pengangguran akan terus meningkat. Aceh memerlukan komitmen kuat dari semua pihak untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan ini. Masa depan generasi Aceh ada di tangan kebijakan yang diambil hari ini.

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh apridar@usk.ac.id

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....