Membangun Desa Kreatif untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
- 19 Agt 2026 10:01 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Aceh memiliki modal besar untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kekayaan budaya, sejarah, kuliner, kerajinan, dan potensi pariwisata tersebar di berbagai pelosok daerah. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong ekonomi masyarakat di tingkat desa. Kita membutuhkan pendekatan baru yang sistematis, yaitu membangun desa kreatif sebagai basis pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Mengapa Desa Kreatif?
Ekonomi kreatif Aceh telah menunjukkan kontribusi yang signifikan. Pada 2025, sektor ini menyumbang sekitar 24,87 persen terhadap perekonomian Aceh. Angka ini membuktikan bahwa kreativitas dan keterampilan masyarakat dapat menjadi penggerak ekonomi yang kuat. Subsektor seperti kuliner, fesyen muslim, dan kriya memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa potensi kreatif Aceh nyata dan menjanjikan. Indeks Pembangunan Manusia Aceh pada 2024 sebesar 75,36 menempatkan Aceh di peringkat ke-11 nasional, tertinggi di luar Jawa. Ini menandakan sumber daya manusia Aceh siap menggerakkan ekonomi berbasis kreativitas.
Fokus pada pembangunan desa kreatif bukan sekadar konsep teoritis. Ini adalah strategi konkret yang sudah mulai diimplementasikan. Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pengembangan kriya anyaman tikar dan tenun di Aceh Timur sebagai pilot project. Program ini melibatkan perajin langsung dan mendorong generasi muda untuk memanfaatkan platform digital untuk promosi dan pemasaran.
Pendekatan berbasis desa memiliki keunggulan strategis. Desa memiliki sumber daya budaya lokal yang otentik. Tenun dan anyaman tikar Aceh Timur telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun dan diwariskan lintas generasi. Produk ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya Aceh, tetapi juga telah menjangkau pasar di luar negeri.
Namun, pengelolaan yang belum memadai menjadi kendala utama. Pelaku UMKM masih membutuhkan dukungan pengembangan pasar, pendaftaran hak kekayaan intelektual, dan administrasi usaha yang lebih baik. Di sinilah peran desa kreatif sebagai wadah pembinaan terpadu menjadi sangat penting.
Kasus Sukses dan Potensi Desa Kreatif di Aceh
Berbagai inisiatif telah menunjukkan hasil positif. Gampong Lambhuk di Banda Aceh dinobatkan sebagai sentra gampong film untuk mendorong industri budaya Aceh melalui perfilman. Inisiatif ini menjadi lokomotif pembangunan ekonomi kerakyatan di tingkat desa.
Gampong Nusa di Aceh Besar memberikan contoh yang lebih nyata. Desa yang luluh lantak diterjang tsunami ini bangkit menjadi desa wisata unggulan. Warga memanfaatkan limbah sebagai bahan kerajinan tangan bernilai. Tas, dompet, dan kotak tisu hasil karya ibu-ibu desa menarik perhatian pengunjung. Desa ini juga menyusun paket wisata autentik seperti cooking class dan pengalaman bertani. Pada 2021, Gampong Nusa meraih juara I dalam kategori homestay di Anugerah Desa Wisata Indonesia.
Kampung Kaloy di Aceh Tamiang mengandalkan pesona sungai sebagai tulang punggung wisata. Selama 2024, desa ini berhasil menarik 1.200 hingga 1.600 pengunjung setiap bulan. Meskipun terjadi penurunan kunjungan pada 2025, desa ini merintis arah baru dengan menggabungkan ekowisata sungai dan ekonomi kreatif berbasis alam seperti kerajinan bambu-rotan dan kuliner lokal.
Potensi kuliner Aceh juga tidak kalah besar. Mi Aceh dan ayam tangkap berpeluang menjadi produk andalan ekonomi kreatif di pasar internasional. Generasi muda didorong untuk mengembangkan inovasi kuliner Aceh menjadi lebih kekinian agar mampu bersaing di tingkat global.
Strategi Sistematis Membangun Desa Kreatif
Pembangunan desa kreatif membutuhkan strategi sistematis yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dr. Rita Meutia, S.E., M .Si.,Ak., dari Universitas Syiah Kuala menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas. Ahli ada di universitas, dana ada di pemerintah, dan pelaku ada di masyarakat. Semua harus bergerak bersama.
| Baca juga: Sudah Tahu Aturan, Kenapa Masih Melanggar? |
Pemerintah telah mengambil langkah konkret. Kementerian Ekonomi Kreatif mengalokasikan dana sekitar setengah miliar rupiah untuk setiap desa kreatif terpilih. Program ini mencakup aktivasi ruang kreatif, peningkatan kapasitas perajin melalui pelatihan pembuatan konten dan pemasaran digital, serta fasilitasi peralatan penunjang produksi.
Creative Hub AMANAH di Kawasan Industri Ladong menjadi pusat pemberdayaan generasi muda dengan nilai investasi sekitar Rp200 miliar. Fasilitas ini dilengkapi dengan laboratorium, ruang pelatihan, studio musik dan podcast, rumah kopi, rumah teknologi, rumah kemasan, dan ruang pameran UMKM.
Sinergi antara AMANAH dan Bank Indonesia Aceh menjadi contoh kolaborasi yang baik. Kedua lembaga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis generasi muda dan UMKM melalui inkubasi usaha, pelatihan kewirausahaan, dan penyelenggaraan event ekonomi kreatif.
Tantangan dan Solusi
Meskipun berpotensi besar, pengembangan desa kreatif menghadapi sejumlah tantangan. Banyak pelaku UMKM masih kesulitan mengakses pembiayaan. Regulasi daerah yang mengatur ekonomi kreatif secara khusus masih diperlukan sebagai dasar pengembangan yang lebih terarah. Pembinaan, sertifikasi, peningkatan kualitas produk, dan akses pemasaran juga masih menjadi kendala.
Selain itu, infrastruktur digital di pedesaan masih terbatas. Padahal, pemasaran digital menjadi kunci untuk memperluas jangkauan pasar produk kreatif. Pelatihan pembuatan konten dan pemasaran digital harus menjadi prioritas.
Pendekatan One Village One Product (OVOP) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi solusi potensial. Setiap desa difokuskan pada satu produk unggulan agar pengembangan lebih terarah dan efektif. Pendekatan ini juga memudahkan pembinaan dan pendampingan.
| Baca juga: Hangatnya Makan Bersama Keluarga |
Peningkatan inovasi dan kreativitas produk menjadi keharusan. Pelaku ekonomi kreatif harus menghadirkan nilai tambah agar produk lebih berkualitas dan berdaya saing. Hal ini penting terutama untuk bersaing di pasar nasional dan internasional.
Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Desa kreatif bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sektor ini menciptakan lapangan kerja, menjaga kelestarian budaya, dan meningkatkan nilai tambah produk daerah.
Pengembangan ekonomi kreatif merupakan investasi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menjaga keberlanjutan budaya Aceh.
Dengan potensi yang dimiliki dan dukungan kebijakan yang ada, Aceh memiliki peluang besar menjadi pemantik pengembangan ekonomi kreatif di tingkat nasional. Keberadaan Menteri Ekonomi Kreatif putra asli Aceh menjadi momentum untuk mendorong potensi strategis tersebut.
Langkah awal harus dimulai dari satu desa sebagai pilot project. Jika berhasil, desa-desa lain bisa mengikuti. Strategi ini memungkinkan pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan. Desa kreatif akan menjadi motor penggerak ekonomi baru di Aceh.
Kita tidak bisa lagi mengandalkan sumber daya alam semata. Aceh harus beralih untuk memanfaatkan kreativitas dan pengetahuan masyarakat. Inilah jalan menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yang inklusif, inovatif, dan berbasis budaya lokal.
Oleh: Prof. Dr Apridar, S.E., M. Si Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh apridar@usk.ac.id
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....