Indonesia Harus Naik Kelas, Jangan Hanya Jadi Pasar Produk Asing

  • 20 Agt 2026 23:20 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar dengan potensi pasar domestik yang luar biasa. Namun, besarnya jumlah penduduk belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila tidak diiringi peningkatan keterampilan, penguasaan teknologi, inovasi, dan kemampuan menciptakan produk bernilai tambah.

Hal itu disampaikan Zulkifli, M.Pd., Kepala SMAN 1 Lhoksukon, dalam tulisannya yang menyoroti tantangan kualitas sumber daya manusia Indonesia di tengah persaingan ekonomi global.

Menurutnya, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 290 juta jiwa seharusnya tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar menarik bagi produk negara lain. Potensi tersebut harus diarahkan menjadi kekuatan produksi, inovasi, kewirausahaan, serta pengembangan teknologi.

Zulkifli menilai persoalan keterampilan menjadi salah satu tantangan penting yang harus segera dibenahi. Pendidikan, kata dia, tidak boleh hanya berorientasi pada kelulusan dan ijazah, tetapi juga harus mampu membekali generasi muda dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan zaman.

“Dapat ijazah penting, tetapi kompetensi jauh lebih penting,” menjadi salah satu pesan utama dalam gagasannya.

Ia mendorong agar peserta didik dibekali berbagai keterampilan nyata, mulai dari teknologi digital, coding, kecerdasan buatan, desain, teknik, kewirausahaan, komunikasi, bahasa asing, pertanian modern, manufaktur, energi hingga bidang kesehatan.

Sekolah dan perguruan tinggi juga diharapkan tidak sekadar menghasilkan lulusan yang mampu menjawab soal, tetapi mampu menyelesaikan persoalan kehidupan dan menciptakan solusi.

Menurut Zulkifli, Indonesia juga perlu mengubah pola pikir dari konsumen menjadi produsen. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus diikuti dengan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Indonesia harus bergerak dari penjual bahan mentah menjadi pencipta produk bernilai tambah. Dari penonton teknologi menjadi pencipta teknologi. Dari konsumen menjadi produsen,” tulisnya.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi, kualitas sumber daya manusia akan semakin menentukan daya saing suatu negara. Tenaga kerja yang terampil diyakini mampu menarik investasi berkualitas, memperkuat industri, melahirkan inovasi dan menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar global.

Karena itu, pembangunan manusia dinilai sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Investasi pendidikan dan keterampilan harus menjadi bagian penting dari strategi Indonesia menghadapi perubahan ekonomi dunia.

Zulkifli juga mengajak generasi muda untuk berani mempertanyakan ketergantungan terhadap produk dan teknologi luar negeri.

“Mengapa kita hanya membeli? Mengapa kita tidak menciptakan?” menjadi pertanyaan yang menurutnya perlu ditanamkan dalam budaya pendidikan.

Ia mencontohkan ketergantungan terhadap aplikasi, teknologi, mesin hingga merek global sebagai tantangan sekaligus peluang. Indonesia perlu mendorong lahirnya lebih banyak pencipta aplikasi, pengembang teknologi, pembuat mesin, pengusaha dan merek lokal yang mampu menembus pasar internasional.

Dengan demikian, ukuran kemajuan Indonesia tidak semata-mata dilihat dari besarnya jumlah penduduk atau tingginya daya beli masyarakat, tetapi dari kemampuan rakyat menciptakan karya dan produk yang memiliki daya saing.

“Bukan hanya meningkatkan daya beli, tetapi juga meningkatkan daya cipta. Bukan hanya mencetak konsumen, tetapi mencetak pencipta, penemu, pengusaha, teknisi, ilmuwan dan inovator,” tegasnya.

Zulkifli berharap Indonesia tidak selamanya bangga hanya karena menjadi pasar besar. Indonesia harus mampu naik kelas menjadi bangsa yang menguasai keterampilan, teknologi, industri dan inovasi sehingga nilai tambah ekonomi dapat dinikmati lebih besar oleh masyarakat sendiri.

Pada akhirnya, menurutnya, bangsa yang menguasai keterampilan dan teknologi akan memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan masa depannya. Sebaliknya, bangsa yang hanya menjadi konsumen akan terus bergantung pada produk dan teknologi negara lain.

(Oleh: Kepala SMAN 1 Lhoksukon, Zulkifli, M.Pd).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....