Jangan Jadikan Kekuasaan sebagai Alat Mempersulit

  • 11 Agt 2026 22:06 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Jabatan bukanlah tempat untuk menunjukkan bahwa kita berkuasa. Jabatan adalah amanah untuk memberikan kemudahan.

Tidak mampu membantu bukan sebuah dosa. Tetapi, sengaja mempersulit orang lain adalah persoalan akhlak.

Ada sebuah prinsip sederhana yang seharusnya selalu dipegang oleh siapa pun yang berada dalam posisi sebagai pelayan publik: kalaupun kita tidak mampu membantu, setidaknya jangan mempersulit orang lain.

Tidak semua orang yang datang kepada kita membutuhkan sesuatu yang besar. Ada yang hanya membutuhkan informasi, arahan, tanda tangan, pelayanan, atau sekadar jawaban yang jelas. Namun, ketika seseorang berada pada posisi yang memiliki kewenangan, hal sederhana itu bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain.

Terkadang, seseorang yang datang meminta pelayanan justru diperlakukan seolah-olah sedang meminta belas kasihan. Dipingpong dari satu meja ke meja lain, diminta memenuhi persyaratan yang tidak jelas, dipersulit dengan alasan yang dibuat-buat, atau bahkan sengaja dibiarkan menunggu.

Padahal, jika memang tidak bisa membantu, cukup katakan dengan jujur:

"Maaf, saya tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah ini. Tetapi saya akan menunjukkan kepada Anda ke mana harus mengurusnya."

Kalimat sederhana seperti itu jauh lebih mulia daripada memberikan harapan palsu atau sengaja membuat seseorang berputar-putar.

Ketika seseorang menduduki jabatan di pemerintahan, sekolah, lembaga pendidikan, organisasi, atau institusi pelayanan publik, sebenarnya ia sedang memegang amanah.

Masyarakat bukan datang untuk menyembah jabatan kita. Mereka datang karena membutuhkan pelayanan dari lembaga yang memang dibentuk untuk melayani mereka. Karena itu, semakin tinggi posisi seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula ia dalam melayani.

Jangan sampai seseorang berubah setelah mendapatkan jabatan. Ketika belum berkuasa, ia begitu mudah ditemui. Setelah memiliki jabatan, untuk sekadar bertemu saja harus melalui banyak pintu.

Padahal, jabatan itu sementara.

Hari ini kita melayani orang lain. Esok hari, bisa jadi kita yang membutuhkan pelayanan.

Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di hadapan Allah. Allah berfirman:

"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya."

(QS. Al-Zalzalah: 7)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dicatat.

Senyum kepada orang yang datang meminta pelayanan. Memberikan informasi dengan sabar. Membantu menunjukkan jalan. Mempermudah urusan seseorang. Mendengarkan keluhan tanpa merendahkan. Menggunakan kewenangan untuk memberikan solusi. Bahkan sekadar tidak mempersulit orang lain ketika kita tidak mampu membantunya.

Semua itu mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi tidak ada yang kecil di hadapan Allah ketika dilakukan dengan keikhlasan.

Sebaliknya, jangan merasa bahwa perbuatan buruk akan hilang begitu saja hanya karena tidak ada manusia yang mengetahuinya.

Mungkin orang yang kita persulit tidak mampu membalas. Mungkin ia memilih diam. Mungkin ia pulang dengan kecewa tanpa mengatakan apa-apa. Tetapi Allah Maha Mengetahui.

Jangan Membuat Orang Lain Menderita karena Jabatan

Jangan pernah membuat orang lain menderita karena jabatan yang sedang kita pegang.

Ada orang yang ketika diberi kewenangan justru merasa memiliki hak untuk menentukan nasib orang lain sesuka hati.

Jika suka, dipermudah.

Jika tidak suka, dipersulit.

Jika dekat, dilayani dengan cepat.

Jika tidak dikenal, dibiarkan menunggu.

Jika berani memuji, urusannya lancar.

Jika berani mengkritik, urusannya dipersulit.

Inilah penyakit yang harus dihindari oleh setiap pemegang amanah.

Pelayanan tidak boleh bergantung pada suka dan tidak suka. Keadilan tidak boleh bergantung pada kedekatan. Apalagi jika pelayanan tersebut menyangkut hak masyarakat, pendidikan, administrasi, bantuan, kesehatan, maupun kepentingan publik lainnya.

Jangan biarkan kepentingan pribadi masuk ke dalam tugas yang seharusnya dijalankan secara profesional.

Jadilah Orang yang Memberikan Kemudahan

Tidak semua orang mampu menyelesaikan masalah orang lain. Tetapi setiap orang hampir selalu bisa melakukan satu hal: tidak menambah masalah.

Jika tidak bisa memberi solusi, berikan informasi.

Jika tidak memiliki kewenangan, arahkan kepada orang yang berwenang.

Jika belum bisa menyelesaikan hari ini, berikan kepastian kapan bisa ditindaklanjuti.

Jika ada kekurangan persyaratan, jelaskan dengan baik apa yang harus dilengkapi.

Jika seseorang salah, luruskan tanpa merendahkan.

Itulah pelayanan yang memiliki nilai kemanusiaan.

Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim memberikan kemudahan dan tidak mempersulit. Prinsip ini sangat relevan bagi siapa pun yang bekerja melayani masyarakat.

Sebab, ukuran keberhasilan seorang pelayan publik bukan hanya berapa banyak urusan yang diselesaikannya, tetapi juga berapa banyak kesulitan yang berhasil ia kurangi dari kehidupan orang lain.

Jangan terlalu bangga dengan kursi yang sedang diduduki, karena jabatan akan berlalu, sementara amal akan tinggal.

Jangan merasa bahwa jabatan akan selamanya berada di tangan kita. Ada waktunya seseorang naik, ada waktunya turun. Ada waktunya dipuji, ada waktunya dilupakan. Ada waktunya memiliki kewenangan, ada waktunya harus meminta bantuan kepada orang lain.

Yang akan tinggal bukan jabatan.

Yang akan tinggal adalah amal.

Mungkin orang tidak mengingat nama kita bertahun-tahun kemudian. Tetapi kebaikan yang pernah kita lakukan kepada seseorang bisa terus hidup dalam doa mereka.

Sebaliknya, luka akibat kesewenang-wenangan juga bisa membekas lama dalam ingatan seseorang.

Maka, jika hari ini kita diberi kesempatan untuk melayani, gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Kalaupun kita tidak mampu membantu, jangan persulit. Kalaupun tidak bisa memberi banyak, berikan yang kita mampu. Kalaupun tidak bisa menyelesaikan, jangan menambah beban.

Karena setiap amal akan diperhitungkan. Bisa jadi, kebaikan yang menurut kita hanya sebesar zarrah justru menjadi salah satu amal yang menyelamatkan kita di hadapan Allah.

Jabatan adalah amanah. Kewenangan adalah ujian. Pelayanan adalah ibadah. Dan setiap kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Oleh: Zulkifli, M.Pd.

Kepala SMAN 1 Lhoksukon

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....