Hari Damai Aceh, Menagih Kesejahteraan Nyata

  • 15 Agt 2026 10:59 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Setiap 15 Agustus menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Aceh. Tepat 21 tahun lalu, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki di Finlandia menjadi titik balik perjalanan Aceh setelah konflik bersenjata berkepanjangan.

Perdamaian kemudian membuka lembaran baru bagi masyarakat Aceh untuk membangun masa depan yang lebih aman dan bermartabat.

Namun, memperingati Hari Damai Aceh tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut perlu menjadi ruang untuk melakukan refleksi sekaligus mengevaluasi sejauh mana perdamaian telah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Kepala SMAN 1 Lhoksukon, Zulkifli, M.Pd., mengatakan perdamaian merupakan amanah besar yang harus dijaga seluruh elemen masyarakat Aceh. Konflik masa lalu telah meninggalkan luka, trauma, serta kehilangan banyak nyawa sehingga tidak boleh kembali terulang.

Menurutnya, tidak boleh ada lagi pertumpahan darah, kekerasan, maupun konflik yang pada akhirnya membuat masyarakat kecil menjadi korban. Rasa aman dan ketenangan merupakan fondasi penting agar generasi muda dapat tumbuh, belajar, dan berkarya tanpa dihantui ketakutan.

Perdamaian Harus Menghadirkan Kesejahteraan

Lebih dari dua dekade setelah perdamaian mulai terwujud, masyarakat Aceh tentu berharap manfaatnya semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari. Perdamaian bukan hanya tentang tidak adanya suara senjata, tetapi juga tentang hadirnya lapangan pekerjaan, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan, infrastruktur, serta kehidupan ekonomi yang layak.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat. Pemanfaatan anggaran, termasuk dana otonomi khusus yang terus menghadapi tantangan, harus dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi rakyat.

Sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur desa, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan UMKM dinilai perlu terus mendapat perhatian. Pembukaan lapangan kerja juga penting agar generasi muda Aceh memiliki kesempatan membangun masa depan tanpa harus meninggalkan daerah.

Upaya pengentasan kemiskinan juga harus menyentuh masyarakat di wilayah pesisir, pedalaman, dan kelompok yang masih menghadapi kesenjangan ekonomi. Di sisi lain, hak-hak korban konflik juga perlu terus diperhatikan sebagai bagian dari upaya menghadirkan keadilan sosial.

Saatnya Bukti, Bukan Sekadar Janji

Masyarakat Aceh, menurut Zulkifli, sudah cukup lama mendengar berbagai wacana pembangunan dan janji politik. Karena itu, Hari Damai Aceh ke-21 harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen agar perdamaian benar-benar berbuah kesejahteraan.

Perdamaian dan kesejahteraan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Perdamaian memberikan rasa aman untuk membangun, sementara kesejahteraan menjadi salah satu fondasi agar perdamaian dapat terus dipertahankan.

Aceh memiliki kesempatan besar untuk menatap masa depan dengan lebih optimistis. Dengan menjaga perdamaian, memperkuat persatuan, mengawal pembangunan, serta memastikan keadilan dan kesejahteraan dirasakan seluruh lapisan masyarakat, cita-cita Aceh yang damai, adil, sejahtera, dan bermartabat bukan sekadar harapan.

Hari Damai Aceh akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang memastikan generasi hari ini dan masa depan menikmati hasil perdamaian yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

(Oleh: Zulkifli, M.Pd., Kepala SMAN 1 Lhoksukon).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....