Wukuf di Arafah: Momentum Muhasabah bagi Pemimpin dan Rakyat.

  • 25 Mei 2026 11:21 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hari ini jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia bergerak menuju Padang Arafah. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sama, berdiri di tempat yang sama, memanjatkan doa kepada Tuhan yang sama. Tidak ada perbedaan jabatan, kekayaan, warna kulit, ataupun status sosial. Semua melebur dalam satu identitas: hamba Allah yang sedang mencari ampunan dan keberkahan hidup.

Wukuf di Arafah bukan sekadar rangkaian ibadah haji. Ia adalah momentum besar untuk bermuhasabah, merenungkan kembali arah kehidupan manusia, termasuk bagi para pemimpin dan rakyat. Di tengah dunia yang dipenuhi hiruk-pikuk kekuasaan, persaingan ekonomi, konflik politik, hingga krisis moral, Arafah hadir sebagai ruang sunyi yang mengingatkan manusia bahwa semua jabatan dan kekuatan dunia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Padang Arafah mengajarkan tentang kesederhanaan dan kejujuran. Seorang pejabat yang selama ini dikawal ketat, dihormati, bahkan ditakuti, di hadapan Allah tidak lebih mulia dari rakyat kecil yang hidup sederhana tetapi menjaga amanah dan kejujuran. Di Arafah, manusia belajar bahwa kemuliaan bukan diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Momentum wukuf juga menjadi pengingat keras bagi para pemimpin agar tidak larut dalam kemewahan kekuasaan. Kekuasaan sejatinya adalah amanah, bukan alat untuk memperkaya diri atau kelompok. Ketika rakyat masih menjerit karena harga kebutuhan pokok yang mahal, lapangan kerja yang sempit, pelayanan publik yang lemah, hingga persoalan keadilan hukum yang terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka Arafah seharusnya menjadi cermin untuk melihat kembali apakah amanah kepemimpinan telah dijalankan dengan benar.

Tidak hanya pemimpin, rakyat juga perlu bercermin. Budaya saling menghujat, menyebarkan fitnah, memelihara kebencian, hingga hilangnya rasa peduli sosial menjadi penyakit yang perlahan menggerus persatuan bangsa. Wukuf mengajarkan bahwa manusia sejatinya sama-sama lemah dan membutuhkan pertolongan Allah. Karena itu, kehidupan sosial harus dibangun dengan kejujuran, empati, dan semangat saling menguatkan.

Dalam sejarah Islam, Arafah juga identik dengan momentum pengampunan. Rasulullah SAW menyebut hari Arafah sebagai hari ketika Allah banyak membebaskan manusia dari api neraka. Pesan ini sesungguhnya sangat dalam: sebesar apa pun dosa dan kesalahan manusia, pintu taubat tetap terbuka. Maka bangsa ini pun masih memiliki harapan untuk memperbaiki diri, memperkuat moral, dan membangun kehidupan yang lebih adil serta bermartabat.

Indonesia, termasuk Aceh yang dikenal sebagai daerah religius, membutuhkan semangat Arafah dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya semangat ritual, tetapi semangat memperbaiki diri, menjaga amanah, memperkuat kepedulian sosial, dan menghadirkan keadilan. Sebab agama bukan hanya hadir di mimbar-mimbar ceramah, melainkan harus terasa dalam kebijakan, pelayanan publik, ekonomi, pendidikan, hingga perilaku sosial masyarakat.

Ketika jutaan manusia menengadahkan tangan di Padang Arafah, sesungguhnya mereka sedang mengajarkan kepada dunia bahwa manusia tidak akan pernah menemukan ketenangan tanpa kejujuran hati dan ketakwaan kepada Tuhan. Dan mungkin, di tengah berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung selesai, Indonesia juga membutuhkan lebih banyak “Arafah” dalam kehidupan bernegara: ruang untuk introspeksi, memperbaiki kesalahan, dan kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan serta ketuhanan.

Oleh: Dr.Bukhari.M.H.CM- Akademisi sekaligus Advokat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....