Jabatan Tak Ikut ke Liang Lahat, Hanya Amal yang Menetap.
- 30 Mar 2026 10:30 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID Lhokseumawe - Ada satu kebenaran yang sering luput dari kesadaran kita: jabatan dan kekuasaan tidak akan pernah ikut ke liang lahat. Ia tidak dibawa mati, bahkan tidak akan ditulis di batu nisan kita. Yang tertinggal hanyalah nama dan yang dinilai hanyalah amal.
Namun dalam realitas hari ini, justru jabatan sering diperlakukan seolah-olah ia adalah segalanya.
Banyak orang berubah ketika diberi kekuasaan. Sikap menjadi kaku, ucapan menjadi tinggi, dan perlakuan terhadap orang lain ikut berubah. Seakan-akan kursi yang diduduki itu adalah simbol kemuliaan yang abadi. Padahal, dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak pernah diukur dari jabatan, tetapi dari ketakwaannya.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini secara tegas meruntuhkan ilusi bahwa kekuasaan adalah ukuran kehormatan. Justru, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral dan spiritual yang ia pikul.
Dalam Islam, kekuasaan bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung pesan yang sangat dalam: jabatan bukan sekadar status sosial, tetapi beban amanah yang berat di hadapan Allah. Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa kekuasaan bisa menjadi penyesalan di hari kiamat bagi mereka yang tidak menjalankannya dengan adil.
Namun sayangnya, banyak yang justru menjadikan jabatan sebagai alat untuk meninggikan diri, bukan untuk melayani. Kesombongan tumbuh, empati menghilang, dan kekuasaan berubah menjadi alat dominasi.
Padahal, kematian adalah titik akhir yang sangat jujur. Ia tidak pernah bertanya siapa kita. Ia tidak peduli apakah kita pejabat, tokoh, atau orang biasa. Ketika ajal datang, semua atribut dunia dilepas tanpa sisa. Tidak ada pangkat, tidak ada jabatan, tidak ada kekuasaan. Yang dibawa hanyalah amal saleh atau sebaliknya, dosa yang belum terampuni.
Tidak ada satu pun batu nisan yang bertuliskan: Di sini berbaring seorang pejabat hebat. Yang ada hanyalah nama, tanggal lahir, dan tanggal mati. Sunyi. Sederhana. Tanpa kebesaran dunia.
Dalam konteks ini, Islam mengajarkan kesadaran mendalam tentang kefanaan dunia. Allah SWT berfirman:
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini adalah pengingat keras bahwa semua yang kita miliki di dunia ini bersifat sementara. Maka menjadi sangat ironis jika sesuatu yang sementara justru membuat kita lupa pada yang abadi.
Fenomena hari ini semakin memperlihatkan bagaimana jabatan dijadikan simbol eksistensi. Dipamerkan di media sosial, dibanggakan dalam pergaulan, bahkan dijadikan alat untuk mengukur nilai diri. Padahal dalam Islam, riya’ (pamer) adalah penyakit hati yang bisa menghapus pahala amal.
Seharusnya, semakin tinggi posisi seseorang, semakin rendah hatinya. Semakin besar kekuasaannya, semakin kuat rasa takutnya kepada Allah. Karena ia sadar, setiap keputusan yang diambil akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa tinggi kita pernah berada, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.
Jabatan akan selesai. Kekuasaan akan berakhir. Semua akan kembali kepada titik nol.
Dan ketika nama kita terukir di batu nisan, dunia tidak akan mengenang jabatan kita. Tapi Allah akan menilai bagaimana kita menggunakan jabatan itu.
Maka, jika hari ini kita diberi kekuasaan, jangan sombong. Jika diberi jabatan, jangan lupa diri.
Karena yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah kekuasaan melainkan amal yang kita bawa.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Akademisi sekaligus Advokat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....