Aceh Tak Lagi Dalam: ketika Alam kehilangan Ingatan, Manusia Kehilangan Rumah.
- 10 Apr 2026 15:06 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hujan belum lagi semalaman. Bahkan kadang hanya hitungan menit. Namun air sudah berani mengetuk pintu rumah warga, bahkan tanpa sopan santun langsung masuk dan mengambil alih ruang tamu, dapur, hingga kamar tidur. Ini bukan lagi sekadar banjir musiman. Ini adalah alarm keras bahwa ada yang tidak lagi dalam dari alam Aceh.
Dulu, kita mengenal Aceh sebagai tanah yang kaya dengan hutan lebat, sungai yang dalam, dan tanah yang mampu menyerap air dengan penuh kesabaran. Semak belukar menjadi benteng alami, akar-akar pohon menjadi penjaga keseimbangan. Tapi hari ini, narasi itu seperti dongeng lama. Yang dalam tak lagi dalam, yang hijau tak lagi rapat. Alam seperti kehilangan ingatan tentang fungsinya sendiri.
Fenomena banjir cepat yang oleh banyak ahli disebut sebagai flash flood bukan sekadar karena curah hujan tinggi. Ini adalah akibat dari rusaknya sistem ekologis. Ketika hutan digunduli, tanah kehilangan daya serapnya. Ketika semak belukar dibabat habis, air kehilangan penghalang alaminya. Maka tak heran, hujan sebentar saja sudah cukup untuk menciptakan bencana.
Yang lebih menyedihkan, dampaknya bukan hanya pada rumah permanen, tetapi juga pada huntara hunian sementara yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi warga yang pernah menjadi korban bencana. Ironisnya, mereka yang pernah kehilangan rumah, kini kembali dihadapkan pada ancaman yang sama, bahkan di tempat yang seharusnya aman.
Ini bukan lagi soal alam semata. Ini soal kebijakan. Soal keberpihakan. Soal keseriusan pemerintah dalam membaca tanda-tanda zaman.
Sudah saatnya pemerintah, baik pusat maupun daerah, mengikat pinggang bukan sekadar dalam retorika efisiensi anggaran, tetapi dalam arti yang lebih substansial: menata ulang prioritas. Anggaran yang selama ini mungkin terserap pada proyek-proyek yang kurang mendesak, kini harus dialihkan untuk mitigasi bencana yang nyata dan mendesak.
Mitigasi bukan hanya soal membangun tanggul atau drainase. Lebih dari itu, mitigasi adalah soal keberanian untuk menghentikan eksploitasi hutan secara masif. Mitigasi adalah tentang reboisasi yang serius, bukan sekadar seremoni tanam pohon. Mitigasi adalah tentang penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan, tanpa pandang bulu.
Aceh tidak kekurangan regulasi. Qanun demi qanun telah lahir, termasuk yang mengatur tentang lingkungan hidup. Namun persoalannya bukan pada ketiadaan aturan, melainkan pada lemahnya implementasi. Hukum sering kali tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Sementara hutan terus menyusut, dan bencana terus mendekat.
Dalam perspektif yang lebih luas, ini juga menjadi cermin kegagalan kita dalam menjaga amanah sebagai khalifah di bumi. Dalam ajaran Islam, manusia diberi mandat untuk menjaga keseimbangan alam (mizan), bukan merusaknya. Ketika keseimbangan itu dilanggar, maka konsekuensinya adalah kerusakan (fasad) yang kembali kepada manusia itu sendiri.
Hari ini, kita menyaksikan bagaimana fasad itu menjelma menjadi banjir, longsor, dan berbagai bencana ekologis lainnya. Alam tidak sedang marah. Alam hanya sedang bekerja sesuai hukum sebab-akibat yang kita ciptakan sendiri.
Aceh sedang berada di persimpangan jalan: terus melanjutkan pola pembangunan yang eksploitatif, atau beralih menuju paradigma pembangunan yang berkelanjutan. Pilihan ini tidak bisa ditunda. Karena setiap keterlambatan, berarti membuka peluang bagi bencana berikutnya.
Masyarakat juga tidak bisa hanya menjadi penonton. Kesadaran kolektif harus dibangun. Dari hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, hingga keberanian untuk mengkritisi kebijakan yang merusak lingkungan. Karena pada akhirnya, yang pertama kali merasakan dampak adalah masyarakat itu sendiri.
Jika hari ini hujan sebentar saja sudah membuat kita cemas, bayangkan bagaimana masa depan anak-anak Aceh jika kondisi ini terus dibiarkan. Apakah mereka masih akan mengenal sungai yang jernih? Hutan yang rindang? Atau hanya akan mewarisi cerita tentang Aceh yang dulu?
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa kita masih punya waktu meski tidak banyak untuk memperbaiki keadaan. Namun syaratnya satu: keseriusan.
Karena jika tidak, maka suatu hari nanti kita akan benar-benar menyadari: bukan hanya alam yang kehilangan kedalamannya, tetapi juga kita manusia yang kehilangan arah.
Oleh: Dr. Bukhari. M.H.CM- akademisi sekaligus Advokat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....