Safari Subuh TU Aceh: Delapan Tahun, Ribuan Langkah, Satu Kerinduan
- 23 Agt 2026 20:57 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara - Ada perjalanan yang tidak cukup diukur dengan jarak. Ia diukur oleh kesetiaan untuk terus melangkah, oleh keteguhan menjaga niat, dan oleh jejak yang perlahan membentuk manusia menjadi lebih baik. Bagi kami, perjalanan itu adalah Safari Subuh dan Zikir Bersama Tadzkiratul Ummah (TU) Aceh.
Sejak Januari 2018, perjalanan ini terus bergerak dari masjid ke masjid, menyusuri berbagai kecamatan di Aceh Utara. Dari Langkahan di ujung timur hingga Muara Batu di ujung barat. Lebih dari delapan tahun, fajar demi fajar telah mempertemukan kami dengan masjid, jamaah, ulama, sahabat, dan pengalaman yang tidak mungkin seluruhnya dituangkan dalam kata-kata.
Ada pagi yang ditemani hujan. Ada perjalanan dalam udara dingin dan jalan yang masih lengang. Ada rasa kantuk setelah kesibukan sehari sebelumnya. Tetapi ketika azan Subuh berkumandang, selalu ada alasan untuk bangkit dan melangkah.
Di situlah kami memahami bahwa istiqamah bukan berarti tidak pernah lelah. Istiqamah adalah tetap memilih kebaikan ketika lelah memiliki banyak alasan untuk membuat kita berhenti.
Safari Subuh TU Aceh telah menjadi perjalanan yang mempertemukan banyak wajah dan latar kehidupan. Alim ulama, akademisi, ASN, guru, wiraswasta, petani, pensiunan dan masyarakat dari berbagai profesi duduk dalam satu saf.
Di luar masjid, kita datang dengan profesi dan pengalaman masing-masing. Namun di dalam masjid, semua identitas itu menemukan batasnya. Saf mengajarkan kesetaraan, sujud mengajarkan kerendahan hati, dan zikir mengajarkan ketenangan.
Di hadapan Allah, tidak ada pangkat yang perlu dibanggakan dan tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan. Yang dibawa hanyalah amal dan ketulusan hati. Karena itu, Safari Subuh bagi kami bukan sekadar aktivitas berpindah masjid. Ia adalah ruang perjumpaan sosial dan spiritual, tempat silaturahmi tumbuh secara alami, gagasan bertukar, pengalaman dibagikan, dan persaudaraan menemukan akar.
| Baca juga: Kini 21 Tahun Damai Aceh |
Sering kali, setelah shalat dan zikir, percakapan sederhana justru menjadi bagian paling berkesan. Dari sebuah diskusi lahir pemahaman. Dari sebuah pertemuan lahir persahabatan. Dan dari sebuah jabat tangan tumbuh persaudaraan.
Selama mengikuti perjalanan ini, saya pribadi sering mendapatkan kesempatan menjalani berbagai peran: menjadi muazin, MC, imam shalat Subuh, memimpin zikir bersama Walidi dan tim pemandu zikir TU Aceh, menyampaikan ceramah, hingga memberikan pesan dan kesan pada penghujung kegiatan.
Saya memandang semua itu bukan sebagai rangkaian tugas, melainkan sebagai proses belajar. Saya terus mengasah kemampuan berbicara di hadapan jamaah, tetapi sekaligus belajar mendengar nasihat para ulama. Saya belajar memimpin, tetapi juga belajar mengikuti. Saya belajar menyampaikan pesan, tetapi lebih jauh belajar memahami makna dari setiap perjumpaan.
Masjid menjadi ruang pendidikan yang berbeda dari ruang akademik. Jika ruang akademik melatih nalar, maka perjalanan Safari Subuh melatih kesadaran. Ia mengajarkan bahwa ilmu tanpa ketundukan dapat kehilangan arah, dan aktivitas tanpa keikhlasan mudah kehilangan makna.
Dari perjalanan panjang ini, saya memperoleh banyak energi positif. Bukan hanya karena bertambahnya pengalaman, tetapi karena bertambahnya sahabat dan saudara yang hadir dalam kehidupan.
Delapan tahun lebih adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menguji sebuah komitmen.
Banyak hal berubah selama perjalanan. Kesibukan bertambah, usia bergerak, tanggung jawab berganti. Namun ada satu kebiasaan yang terus berusaha dipertahankan: bangun, bersiap, lalu melangkah menuju masjid.
| Baca juga: Hari Damai Aceh, Menagih Kesejahteraan Nyata |
Dari sana saya belajar bahwa konsistensi adalah bentuk kejujuran kepada diri sendiri.
Kita mungkin mampu bersemangat ketika sesuatu baru dimulai. Tetapi mempertahankan kebaikan ketika kebaruan telah hilang membutuhkan kedalaman niat.
Hujan menjadi latihan keteguhan. Dingin menjadi latihan kesabaran, kantuk menjadi latihan disiplin. Jarak menjadi latihan kesetiaan, dan waktu menjadi penguji apakah niat yang pernah diucapkan benar-benar mampu dipertahankan.
Di tengah perjalanan yang panjang itu, ada satu kerinduan yang masih saya simpan: semakin banyak generasi muda yang hadir dalam saf Subuh.
Kita tidak boleh membiarkan masjid hanya menjadi ruang yang ramai ketika generasi tua berkumpul. Masjid juga harus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, tempat mereka belajar disiplin, membangun karakter, menemukan keteladanan dan memperluas persaudaraan.
Saya percaya, jika anak muda memahami makna yang lebih dalam dari Safari Subuh, hujan tidak akan menjadi penghalang dan kantuk tidak akan menjadi alasan.
Subuh mengajarkan sesuatu yang sederhana: sebelum mampu menaklukkan dunia, seseorang harus terlebih dahulu mampu menaklukkan dirinya sendiri.
| Baca juga: Membangun Ekonomi Aceh dari Gampong |
Bangun dari tidur adalah latihan pertama. Datang berjamaah adalah latihan kebersamaan.
Menjaga waktu adalah latihan tanggung jawab.
Dan berdiri dalam saf adalah latihan kesetaraan.
Karena itu, Safari Subuh semestinya tidak berhenti sebagai kebiasaan generasi hari ini. Ia harus tumbuh menjadi tradisi kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Saya berharap Safari Subuh dan Zikir Bersama TU Aceh terus hidup, bukan semata karena tradisi, tetapi karena kesadaran bahwa masjid membutuhkan langkah-langkah yang tulus untuk terus menghidupkannya.
Safari Subuh mengajarkan keteguhan, zikir menghadirkan ketenangan. Silaturahmi menumbuhkan persatuan, dan persatuan melahirkan kekuatan.
Dari Langkahan hingga Muara Batu, perjalanan itu telah meninggalkan jejak. Dari satu masjid ke masjid berikutnya, persaudaraan terus bertambah. Dari satu fajar menuju fajar yang lain, semoga istiqamah tetap menjadi cahaya.
Sebab yang ingin diwariskan TU Aceh bukan sekadar sebuah agenda, melainkan nilai tentang keteguhan, persaudaraan dan kecintaan kepada masjid. Mungkin perjalanan ini tidak tercatat dalam sejarah besar dunia. Namun kami berharap, setiap langkah yang pernah diayunkan menuju rumah Allah tercatat dalam sejarah langit sebagai bagian kecil dari perjalanan seorang hamba menuju ridha-Nya.
Oleh: Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST. MT. CPS. CPPS. CMPS. CCLS. CTRS. CCHS. (Jamaah Safari Subuh TU Aceh dan Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....