Mempersiapkan Generasi Al-Qur’an dari Bumi Samudera Pasai, Aceh Utara

  • 01 Sep 2026 13:41 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara - Pembangunan sebuah daerah pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak jalan dibangun, gedung didirikan, atau investasi yang masuk.

Di balik seluruh indikator pembangunan itu terdapat pertanyaan yang jauh lebih mendasar, bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi peluang dan tantangan masa depan.

Pertanyaan inilah yang menarik ketika melihat arah kebijakan pembangunan sumber daya manusia Kabupaten Aceh Utara di bawah kepemimpinan Bupati H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., atau yang akrab disapa Ayahwa, bersama Wakil Bupati Tarmizi Payang, S.I.Kom., atau Teungku Panyang.

Di tengah kompleksitas pembangunan dan problematika pascabencana banjir 2025, pemerintah daerah tidak hanya mengejar pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan manusia juga ditempatkan sebagai fondasi. Di Aceh, pembangunan manusia memiliki dimensi yang tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai keislaman.

Dari perspektif inilah gerakan membumikan Al-Qur’an yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menjadi menarik untuk dicermati.

Gerakan tersebut bukan sekadar program mempelajari atau menghafal Al-Qur’an. Lebih jauh, ia merupakan ikhtiar membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam pendidikan, pembentukan karakter, dan bahkan tata kelola pemerintahan yang bersih (clean government).

Al-Qur’an dan Masa Depan Generasi

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mewajibkan siswa Sekolah Dasar (SD) menghafal minimal Juz 30 selama masa pendidikan, sementara pelajar SMP ditargetkan menghafal Juz 30 dan Juz 29. Pada setiap akhir tahun ajaran, direncanakan Khataman Al-Qur’an tingkat kabupaten sebagai bentuk penghargaan terhadap pencapaian para siswa.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari Program Tahfiz Al-Qur’an “Berkah Qur’ani Aceh Utara Gemilang” dengan tema “Membumikan Al-Qur’an, Mencerahkan Generasi”, yang diluncurkan Bupati Aceh Utara di SMP Negeri 1 Syamtalira Bayu pada April 2025.

Sekilas, program tersebut terlihat sebagai program pendidikan keagamaan biasa. Namun, jika dilihat dari perspektif pembangunan SDM, terdapat pesan yang jauh lebih besar.

Anak-anak yang belajar hari ini adalah generasi yang kelak menjadi guru, birokrat, pengusaha, profesional, teknokrat, politisi, dan pemimpin bangsa.

Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan akademik. Kecerdasan tanpa integritas dapat kehilangan arah. Keterampilan tanpa moral dapat kehilangan tujuan. Kemajuan tanpa karakter dapat melahirkan persoalan baru.

“Anak-anak kita hari ini adalah generasi yang akan mengisi panggung Indonesia Emas 2045. Maka tugas kita bukan hanya menyiapkan mereka secara akademik, tetapi juga secara moral dan spiritual,” kata Ayahwa. Serambinews, 29/8/2026.

Pernyataan tersebut menyentuh persoalan besar pendidikan Indonesia, bagaimana melahirkan generasi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga memiliki kompas moral. Dan persiapan itu dapat dimulai dari Bumi Samudera Pasai, Aceh Utara

Keteladanan Dimulai dari Guru

Gerakan ini menarik, karena sasarannya tidak berhenti pada siswa. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga membangun keteladanan dari lingkungan pendidik.

Pada Juli 2025, sebanyak 559 kepala sekolah mengikuti Uji Kompetensi Baca Al-Qur’an yang mencakup fashahah, tajwid, dan adab membaca Al-Qur’an. Program tersebut kemudian dilanjutkan secara bertahap kepada para guru. Kompas, 18/10/2025

Pesannya sederhana, sulit meminta anak-anak mencintai Al-Qur’an jika orang dewasa di lingkungan mereka tidak memberikan keteladanan. Oleh sebab itu, semangat yang sama juga diarahkan kepada lingkungan masyarakat dan aparatur pemerintahan.

Melalui Surat Edaran Nomor 100/1012 tanggal 29 Juli 2025, Ayahwa meminta para camat menyelenggarakan pengajian rutin bulanan bagi ASN dan non-ASN dengan melibatkan unsur Muspika, MPU, kepala puskesmas, geuchik, imum mukim, tokoh agama, pemuda, dan organisasi kemasyarakatan.

Ini menunjukkan bahwa gerakan tersebut tidak hanya diarahkan kepada generasi sekolah, tetapi juga kepada lingkungan sosial masyarakat dan pemerintahan.

Ketika Al-Qur’an Masuk ke Birokrasi

Pada November 2025, sebanyak 32 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama serta empat pejabat Eselon III dan IV dijadwalkan mengikuti tes baca Al-Qur’an yang mencakup makhraj, tajwid, dan kelancaran membaca. Serambinews, 16/10/2025

Kebijakan ini memiliki dimensi simbolik yang kuat. Max Weber (1922) dalam ekonomi dan society menyebut Birokrasi merupakan mesin pelayanan publik. Di tangan aparatur terdapat kewenangan, anggaran, kebijakan, dan keputusan yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Karena itu, membangun integritas aparatur tidak cukup hanya melalui regulasi dan pengawasan. Integritas juga membutuhkan fondasi moral yang kuat.

Nilai-nilai Al-Qur’an diharapkan tidak berhenti sebagai kemampuan membaca ayat, tetapi diterjemahkan menjadi kejujuran, amanah, tanggung jawab, disiplin, keadilan, dan kepedulian dalam pelayanan publik.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, dipelajari, dan dihafal. Akan tetapi, menjadi nilai yang hidup dalam perilaku sehari-hari.

Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Hafalan

Setiap program tentu membutuhkan ukuran keberhasilan. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyebut sekitar 85 persen telah mencapai kemampuan yang ditargetkan, sementara siswa yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik akan mendapatkan bimbingan tambahan. Serambi, 29/8/2026

Angka tersebut penting. Akan tetapi, ukuran keberhasilan yang lebih mendasar membutuhkan waktu lebih panjang dan nilai-nilai yang diajarkan benar-benar membentuk perilaku sehari-hari.

Apakah anak-anak menjadi lebih jujur, menghormati orang tua dan guru, toleran, bertanggung jawab, disiplin, serta memiliki kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari

Begitu pula di lingkungan birokrasi. Nilai agama harus mampu memperkuat integritas pelayanan publik, mendorong inovasi, serta melahirkan aparatur yang bersih, memiliki dedikasi dan komitmen tinggi dalam menghadirkan pelayanan publik yang melayani.

Di situlah sesungguhnya ujian terbesar gerakan membumikan Al-Qur’an.

Keberhasilan tidak berhenti ketika seseorang mampu membaca atau menghafal ayat. Keberhasilan yang lebih tinggi adalah ketika nilai ayat tersebut hadir dalam tindakan sehari-hari.

Dari Samudera Pasai untuk Indonesia

Aceh memiliki kekhususan dalam sejarah, budaya, dan kehidupan keagamaannya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Karena itu, menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari pembangunan SDM bukanlah sesuatu yang berada di luar karakter masyarakat Aceh.

Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi program yang nyata, terukur, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Generasi Aceh Utara hari ini akan berhadapan dengan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, arus informasi global, dan kompetisi SDM yang semakin ketat.

Karena itu, mereka membutuhkan dua hal sekaligus: kompetensi untuk memenangkan persaingan dan karakter untuk menentukan arah perjuangan. Di sinilah relevansi gerakan membumikan Al-Qur’an menjadi semakin kuat.

Penghargaan Bukan Tujuan Akhir

Pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026, di Gedung AAC Dayan Dawood USK, Banda Aceh, Ayahwa menerima Serambi Awards 2026 kategori “Pelopor Gerakan Membumikan Al-Qur’an.” Serambi Indonesia, 29/8/2026

Penghargaan tersebut merupakan apresiasi terhadap ikhtiar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Akan tetapi, penghargaan bukanlah garis akhir. Justru setelah penghargaan diberikan, peluang dan tantangan semakin besar, harus memastikan gerakan ini terus berjalan dan menghasilkan perubahan nyata.

Sebelumnya, Ayahwa juga menerima Serambi Ekraf Award 2025 kategori “Lestarikan Rapai Pase dengan Produk Miniatur.”

Dua penghargaan dalam dua tahun berturut-turut dari Serambi Indonesia memperlihatkan dua sisi pembangunan yang sama-sama penting, menjaga identitas budaya dan membangun kualitas sumber daya manusia.

Rapai Pase berbicara tentang warisan budaya, sementara Al-Qur’an berbicara tentang nilai dan pedoman kehidupan. Keduanya bertemu pada satu kepentingan: menjaga jati diri masyarakat di tengah perubahan zaman.

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Pada akhirnya, pembangunan daerah akan dinilai bukan hanya dari apa yang terlihat secara fisik, tetapi dari manusia yang lahir dari proses pembangunan tersebut.

Jalan dapat dibangun dalam hitungan bulan. Gedung dapat berdiri dalam hitungan tahun. Tetapi membangun karakter manusia membutuhkan proses panjang dan keteladanan yang konsisten.

Karena itu, gerakan membumikan Al-Qur’an di Aceh Utara patut ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas.

Ia bukan sekadar tentang hafalan, tetapi tentang karakter. Bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi tentang keteladanan. Bukan sekadar program pemerintah, tetapi tentang visi pembangunan manusia menuju aceh utara bangkit.

Dan bukan hanya untuk Aceh Utara hari ini. Ia adalah bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi yang kelak mengambil peran dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas untuk menguasai masa depan. Bangsa yang besar juga membutuhkan generasi yang memiliki integritas untuk menjaga masa depan itu.

Dari Bumi Samudera Pasai, Aceh Utara ikhtiar itu sedang dimulai.

(oleh: Muntasir Ramli,Alumni Dayah Madinatuddiniah Baitul Huda, Aceh Utara. Email : muntasir_99@yahoo.com).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....