Tiga Karakter yang Menjaga Martabat Manusia di Era Modern
- 15 Mar 2026 09:13 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat diingatkan agar tidak melupakan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial. Kemajuan teknologi, pendidikan, dan ekonomi memang membawa banyak perubahan, namun kemajuan tersebut seharusnya juga diiringi dengan penguatan karakter moral dalam kehidupan masyarakat.
Akademisi dan praktisi hukum Dr. Bukhari, M.H., CM menilai bahwa ada tiga karakter penting yang selama ini menjadi penopang martabat manusia dalam kehidupan sosial, yakni tau diri, tau malu, dan tau terima kasih. Ketiga nilai ini dinilai semakin penting untuk dihidupkan kembali di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.
Menurut Bukhari, dalam tradisi masyarakat Aceh yang kuat dengan nilai-nilai keislaman, ketiga prinsip tersebut sejak dahulu menjadi pedoman etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Tau diri, tau malu, dan tau terima kasih adalah karakter dasar yang sebenarnya sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam menjaga kehormatan manusia. Ketika nilai-nilai ini mulai memudar, maka berbagai persoalan sosial akan mudah muncul,” ujarnya, Minggu.
Ia menjelaskan, tau diri merupakan kesadaran seseorang untuk memahami posisi, tanggung jawab, dan batas-batas moral dalam kehidupan sosial. Dalam perspektif hukum Islam, kesadaran tersebut berkaitan erat dengan konsep amanah yang harus dijaga oleh setiap individu.
Menurutnya, banyak persoalan sosial yang terjadi saat ini berawal dari hilangnya kesadaran tau diri. Dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk birokrasi dan politik, tidak sedikit orang yang lupa bahwa jabatan atau kepercayaan yang dimilikinya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Ketika seseorang tidak lagi tau diri, maka kewenangan yang dimilikinya berpotensi disalahgunakan. Padahal dalam ajaran Islam, setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban,” jelasnya.
Selain tau diri, karakter kedua yang tidak kalah penting adalah tau malu. Dalam ajaran Islam, rasa malu bahkan disebut sebagai bagian dari iman. Rasa malu berfungsi sebagai pengendali moral yang mencegah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar norma agama maupun norma sosial.
Bukhari mengatakan bahwa dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa lalu, nilai malu memiliki peran penting dalam menjaga keteraturan sosial. Seseorang yang melakukan kesalahan tidak hanya merasa bersalah secara pribadi, tetapi juga merasa malu kepada keluarga dan masyarakat.
Namun dalam kehidupan modern, nilai malu dinilai mulai mengalami pergeseran. Berbagai pelanggaran etika maupun hukum kerap terjadi tanpa diiringi rasa penyesalan yang memadai.
Ketika rasa malu mulai hilang, maka kontrol moral dalam diri manusia juga melemah. Padahal rasa malu merupakan benteng yang sangat kuat untuk mencegah seseorang melakukan perbuatan tercela,” katanya.
Karakter ketiga yang juga penting dalam menjaga martabat manusia adalah tau terima kasih. Sikap ini merupakan bentuk penghargaan terhadap kebaikan orang lain sekaligus wujud syukur atas berbagai nikmat yang diterima dalam kehidupan.
Dalam ajaran Islam, kata Bukhari, seseorang yang tidak mampu menghargai kebaikan manusia pada hakikatnya juga belum sepenuhnya bersyukur kepada Allah SWT.
Ia menilai bahwa dalam kehidupan modern yang semakin kompetitif, sikap tau terima kasih sering kali mulai terkikis oleh pola pikir yang lebih menekankan kepentingan sesaat.
Hubungan sosial kadang hanya dibangun atas dasar kepentingan. Ketika seseorang masih dianggap bermanfaat, ia dihargai. Tetapi ketika tidak lagi memberi manfaat, hubungan itu pun mudah dilupakan,” ungkapnya.
Menurut Bukhari, tau diri, tau malu, dan tau terima kasih merupakan nilai moral yang juga memiliki hubungan erat dengan kesadaran hukum dalam masyarakat. Penegakan hukum tidak hanya bergantung pada aturan dan sanksi, tetapi juga pada karakter moral individu dalam mematuhi aturan tersebut.
Ia menambahkan bahwa seseorang yang memiliki tau diri akan memahami batas-batas hukum yang harus dihormati. Sementara orang yang memiliki tau malu akan menghindari pelanggaran demi menjaga kehormatan dirinya. Adapun sikap tau terima kasih akan memperkuat hubungan sosial yang saling menghargai.
Martabat manusia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kedudukan sosial, tetapi juga oleh karakter moral yang dimilikinya,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai dasar tersebut dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas.
Oleh Akademisi dan praktisi hukum Dr. Bukhari, M.H., CM
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....