Jangan Hanya Minta Rezeki, Perbaiki Diri
- 27 Feb 2026 11:14 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Setiap orang tentu ingin hidup yang lebih baik. Doa-doa kita hampir selalu berisi permintaan yang sama: rezeki dilapangkan, usaha dimudahkan, karier dinaikkan, kehidupan ditenangkan. Itu wajar. Namun sering kali kita lupa satu pertanyaan penting: sudahkah kita memperbaiki diri sebelum meminta Allah memperbaiki nasib?
Islam mengajarkan bahwa perubahan hidup bukan sekadar soal permohonan, tetapi soal pembenahan. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menjadi prinsip dasar bahwa perubahan eksternal selalu diawali dari perubahan internal. Dalam perspektif maqasid al-syari‘ah, pembenahan diri baik akidah, ibadah, maupun akhlak merupakan bagian dari upaya menjaga agama (hifz al-dīn) dan menjaga martabat hidup (hifz al-nafs). Artinya, kualitas spiritual seseorang berkaitan erat dengan kualitas kehidupannya.
| Baca juga: Peutuah: bila Diri Ingin Dikenang |
Sering kali kita rajin berdoa, tetapi kurang disiplin dalam shalat. Kita berharap rezeki lancar, tetapi masih abai terhadap kejujuran dan amanah. Kita ingin usaha berkembang, tetapi enggan memperbaiki etos kerja. Padahal Rasulullah telah memberikan gambaran tentang makna tawakal yang benar:
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak berdiam diri di sarang. Ia bergerak, berusaha, dan mencari. Di sinilah pesan pentingnya: doa harus berjalan beriringan dengan perbaikan diri dan kerja nyata.
Dalam hukum Islam, rezeki bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang kehalalan dan keberkahan. Allah berfirman:
| Baca juga: Paman Gagal Kaya |
“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Halal bukan hanya pada hasil, tetapi juga pada proses. Cara memperoleh harta harus bersih dari riba, penipuan, manipulasi, dan kezaliman. Rezeki yang didapat dengan cara yang keliru boleh jadi terlihat banyak, tetapi sering kali terasa sempit dan tidak menenangkan.
Rasulullah juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
| Baca juga: Dompet Kosong, Gaya Tetap Nongkrong |
Pesan ini jelas: kualitas hidup sangat terkait dengan kualitas amal. Maka memperbaiki diri berarti memperbaiki niat, memperkuat ibadah, meningkatkan integritas, dan menata akhlak.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang ingin hasil instan tanpa proses pembenahan. Padahal sunnatullah mengajarkan adanya hukum sebab-akibat. Disiplin melahirkan kepercayaan. Kejujuran menghadirkan peluang. Ketekunan membuka pintu rezeki. Dan semua itu berakar pada kualitas diri.
Karena itu, sebelum memperbanyak permintaan, perbanyaklah evaluasi. Sebelum menyalahkan keadaan, benahi shalat. Sebelum mengeluhkan penghasilan, periksa etos kerja dan kejujuran. Sebab bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan takdir, melainkan diri sendiri.
Rezeki memang datang dari Allah. Namun keberkahan hadir pada mereka yang bersungguh-sungguh membenahi dirinya.
Oleh : Tgk. Dr. Bukhari.M.H.CM- Akademisi UIN Lsm dan Alumni Dayah BUDI Lamno
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....