RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Paman dari mana? Dari ibu kota. Paman bawa apa? Bawa cita-cita, Lagu anak-anak itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan sosial yang begitu dalam. Ketika sampai pada lirik, “Kenapa ke desa? Paman gagal kaya,” kita seperti dihadapkan pada kenyataan hidup masyarakat hari ini: keberhasilan sering diukur hanya dari harta dan kemewahan.
Dalam perspektif Islam, ukuran keberhasilan tidak pernah semata-mata tentang kekayaan. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Harta hanyalah titipan yang dapat datang dan pergi, sedangkan iman, kejujuran, dan amal saleh menjadi nilai utama kehidupan. Karena itu, seseorang yang hidup sederhana tetapi tetap menjaga ibadah, keluarga, dan harga dirinya belum tentu gagal di hadapan Allah SWT.
Banyak orang pergi ke kota membawa mimpi besar. Mereka ingin mengubah nasib, membahagiakan keluarga, dan keluar dari himpitan ekonomi. Kota dipandang sebagai tempat lahirnya kesuksesan. Gedung tinggi, pekerjaan bergengsi, dan kehidupan modern menjadi simbol kemenangan hidup. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak semua cita-cita menemukan jalannya.
| Baca juga: Listrik Kubayar, Lilin Kudapat |
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat, tekanan hidup juga makin terasa. Nilai dolar yang terus menguat terhadap rupiah ikut memengaruhi kehidupan masyarakat. Harga kebutuhan naik, biaya hidup semakin mahal, usaha kecil mulai tertekan, sementara lapangan kerja tidak selalu mampu memberi harapan. Banyak orang bekerja lebih keras hanya untuk bertahan hidup, bukan lagi mengejar kemewahan.
Dalam situasi seperti itu, lagu “Paman Gagal Kaya” terasa semakin relevan. Sebab hari ini, seseorang sering dianggap berhasil jika pulang membawa kekayaan, kendaraan mewah, atau jabatan tinggi. Sebaliknya, mereka yang kembali dengan kehidupan sederhana kerap dipandang gagal. Padahal hidup tidak sesederhana ukuran materi.
Momentum Jumat seharusnya menjadi pengingat agar manusia tidak tenggelam dalam perlombaan dunia. Ketika azan berkumandang, umat Islam diperintahkan meninggalkan urusan perdagangan dan memenuhi panggilan ibadah. Pesan itu sangat jelas: dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai melupakan Allah SWT.
| Baca juga: Cerdas yang Tidak Cermat |
Hari ini banyak orang terlihat kaya, tetapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun tetap bersyukur, dekat dengan keluarga, dan menjaga ibadahnya. Dalam pandangan Islam, keberkahan hidup jauh lebih berharga dibanding kemewahan yang hanya dipamerkan di hadapan manusia.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai “paman gagal kaya” sebagai simbol kegagalan. Bisa jadi ia hanya gagal memenuhi standar dunia yang terlalu materialistis. Namun di sisi lain, ia berhasil menjaga iman, ketenangan hati, dan ketakwaan di tengah hidup yang semakin sulit.
Pada akhirnya, manusia tidak akan dihisab karena gagal menjadi kaya. Manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana hidup dijalani, dari mana rezeki diperoleh, dan sejauh mana ia tetap taat kepada Allah SWT.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Advokat sekaligus mediator PMN.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....