Dompet Kosong, Gaya Tetap Nongkrong
- 25 Mar 2026 12:07 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID Lhokseumawe - Pasca Lebaran selalu menghadirkan dua wajah yang kontras. Di satu sisi, ada kebahagiaan yang tersisa dari silaturahmi dan kemenangan spiritual. Namun di sisi lain, ada realitas yang mulai terasa: dompet yang menipis, bahkan kosong, akibat euforia konsumsi selama hari raya. Ironisnya, di tengah kondisi itu, gaya hidup seolah tidak ikut berubah. Nongkrong tetap jalan, kopi tetap dipesan, dan eksistensi sosial tetap dijaga.
Fenomena dompet kosong, gaya tetap nongkrong bukan sekadar kebiasaan anak muda atau gaya hidup urban. Ia adalah cerminan dari persoalan yang lebih dalam: krisis pengelolaan diri di tengah tekanan sosial dan budaya konsumtif yang semakin kuat. Banyak orang terjebak dalam kebutuhan untuk terlihat baik-baik saja, meskipun kondisi keuangannya sedang tidak stabil.
Lebaran yang seharusnya menjadi momentum kembali kepada kesederhanaan justru sering berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan. Mulai dari belanja pakaian baru, hidangan berlimpah, hingga berbagai tradisi yang tidak jarang melampaui kemampuan ekonomi. Ketika semua itu berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan, tetapi juga beban finansial yang harus ditanggung.
Namun yang lebih mengkhawatirkan, pola konsumsi tersebut tidak berhenti setelah Lebaran. Gaya hidup tetap dipertahankan, bahkan dipaksakan. Nongkrong di kafe, berkumpul di tempat yang layak unggah, seolah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Dalam banyak kasus, ini bukan lagi soal kebutuhan sosial, melainkan tentang gengsi dan citra diri.
Tekanan sosial memainkan peran besar dalam fenomena ini. Ada rasa tidak nyaman jika tidak ikut, ada kekhawatiran dianggap tertinggal, bahkan ada ketakutan tersisih dari lingkaran pergaulan. Media sosial memperparah keadaan dengan menciptakan standar kebahagiaan yang semu bahwa hidup yang baik adalah hidup yang terlihat menarik di layar.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, gaya hidup seperti ini berpotensi menjerumuskan pada siklus yang tidak sehat. Pengeluaran yang tidak terkontrol, ketergantungan pada utang, hingga hilangnya ketenangan hidup adalah konsekuensi yang sering diabaikan. Di sinilah pentingnya refleksi, terutama dalam perspektif nilai dan ajaran agama.
Islam secara tegas mengingatkan agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan harta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Bahkan, dalam ayat lain ditegaskan bahwa orang-orang yang boros adalah saudara-saudara setan (QS. Al-Isra’: 27).
Peringatan ini menunjukkan bahwa pemborosan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Setiap harta yang dimiliki sejatinya adalah amanah, yang penggunaannya akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia akan ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.
Dalam konteks ini, gaya hidup nongkrong meski dompet kosong perlu dilihat sebagai bentuk ketidakseimbangan antara keinginan dan kemampuan. Ketika seseorang memaksakan pengeluaran demi menjaga citra sosial, maka ia sebenarnya sedang mengabaikan prinsip kehati-hatian yang diajarkan dalam Islam.
Sebaliknya, Islam menawarkan konsep qana’ah sikap merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Ini bukan berarti menolak kemajuan atau kenyamanan, tetapi mengajarkan kemampuan untuk mengendalikan diri. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang diberi rezeki yang cukup dan merasa cukup dengan pemberian tersebut.
Nilai qana’ah inilah yang semakin tergerus di tengah budaya modern. Banyak orang merasa kurang, bukan karena benar-benar kekurangan, tetapi karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, gaya hidup menjadi tidak realistis, dan kebahagiaan menjadi sulit dicapai.
Tentu, nongkrong itu sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Ia bisa menjadi sarana mempererat silaturahmi, bertukar pikiran, bahkan melepas penat. Namun, yang perlu dikritisi adalah orientasinya. Jika nongkrong dilakukan sebagai kebutuhan sosial yang wajar, itu tidak menjadi masalah. Tetapi jika ia berubah menjadi alat pembuktian status, maka di situlah letak persoalannya.
Pasca Lebaran seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kita diajak untuk kembali menata prioritas, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta berani keluar dari tekanan sosial yang tidak sehat.
Masyarakat juga perlu membangun budaya yang lebih bijak. Kebersamaan tidak harus mahal, dan silaturahmi tidak harus dilakukan di tempat yang mewah. Nilai sebuah pertemuan tidak ditentukan oleh harga menu yang dipesan, tetapi oleh ketulusan dan makna yang dibangun di dalamnya.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang terlihat mampu, tetapi tentang benar-benar mampu. Dompet kosong mungkin hal yang biasa, tetapi memaksakan gaya hidup di luar kemampuan adalah kesalahan yang bisa berdampak panjang. Dalam Islam, keseimbangan adalah kunci antara dunia dan akhirat, antara keinginan dan kemampuan.
Jika keseimbangan itu mampu dijaga, maka hidup akan terasa lebih ringan dan bermakna. Namun jika tidak, maka yang kosong bukan hanya dompet, tetapi juga kebijaksanaan dalam menjalani hidup.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM - akademisi dan konsultan hukum.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....