“Pada Suatu Hari” ternyata Tak Berlaku di Semua Budaya
- 09 Sep 2026 11:39 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - “Pada Suatu Hari” Ternyata Tak Berlaku di Semua Budaya
Kalau seseorang tiba-tiba berkata, “Pada zaman dahulu kala...”, kita mungkin langsung tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Akan ada seorang raja, putri, pemuda miskin, kerajaan jauh, atau mungkin seekor hewan yang ternyata bisa berbicara.
Menariknya, hampir setiap budaya punya cara sendiri untuk mengatakan, “Dengarkan, sebuah cerita akan dimulai.”
Dalam bahasa Inggris, kita mengenalnya lewat “Once upon a time.” Frasa ini sudah menjadi pembuka khas dongeng dan cerita rakyat berbahasa Inggris. Bahkan, bentuk serupa sudah digunakan dalam bahasa Inggris sejak berabad-abad lalu untuk memperkenalkan kisah yang terjadi di masa lampau.
Di Indonesia, kita mungkin lebih akrab dengan “Alkisah...”, “Pada zaman dahulu...”, atau “Pada masa silam...”. Pola ini biasanya langsung membawa pendengar ke masa yang tidak ditentukan secara spesifik, kemudian memperkenalkan tokoh dan tempat terjadinya cerita. Pola pembukaan seperti ini juga banyak ditemukan dalam penulisan ulang cerita rakyat Nusantara.
Sementara itu, Jepang punya formula yang tidak kalah ikonik: “Mukashi mukashi...” yang berarti kurang lebih “dahulu kala” atau “pada zaman yang sangat lama.” Dalam cerita rakyat Jepang, frasa ini kerap dilanjutkan dengan “aru tokoro ni”, atau “di suatu tempat”. Jadi, pembukaannya bisa terdengar seperti, “Dahulu kala, di suatu tempat...”
Formula tersebut bukan sekadar kebiasaan bahasa. Japan Foundation mencatat bahwa cerita rakyat Jepang memang berasal dari tradisi lisan dan memiliki formula pembuka maupun penutup tertentu. Bahkan, beberapa cerita mempertahankan ungkapan khas dari dialek daerah asalnya untuk menjaga suasana dan ritme penceritaan.
Lalu ada tradisi cerita Arab yang punya pembukaan yang terdengar jauh lebih unik. Salah satu formula yang dikenal adalah “Kan ya ma kan”, yang secara harfiah kurang lebih berarti “dahulu ada, atau mungkin tidak ada.” Dalam tradisi Arab, ungkapan ini sering dilanjutkan dengan keterangan tentang masa lampau.
Kalau dipikir-pikir, pembukaan tersebut terasa seperti sedang berkata, “Cerita ini terjadi... atau mungkin tidak.” Ada semacam permainan antara kenyataan dan imajinasi. Dalam beberapa tradisi, pembukaan juga dapat diikuti sapaan atau pertanyaan kepada pendengar, seolah-olah pencerita meminta izin sebelum membawa mereka masuk ke dunia cerita.
India juga punya tradisi storytelling yang sangat beragam. Salah satunya adalah katha, sebuah bentuk penceritaan lisan yang dapat memadukan cerita, penjelasan, musik, dan bahkan komentar dari pencerita. Tradisi ini digunakan untuk menyampaikan kisah-kisah dari epos, teks keagamaan, maupun cerita rakyat kepada masyarakat.
Menariknya, dalam berbagai tradisi India, pembukaan cerita tidak selalu harus berupa satu kalimat sakti seperti “once upon a time”. Sebuah pertunjukan katha dapat diawali dengan penghormatan kepada hadirin, penjelasan mengenai tempat dan waktu acara, atau bahkan doa sebelum cerita utama dimulai. Jadi, memulai cerita bukan hanya membuka narasi, tetapi juga mempersiapkan pendengar untuk mendengarkan.
Dan ternyata, pola seperti ini tidak hanya ditemukan di negara-negara tersebut. Dalam berbagai tradisi lisan di dunia, formula pembuka membantu pencerita memberi tanda bahwa sesuatu yang berbeda sedang dimulai. Pendengar diajak meninggalkan percakapan sehari-hari dan masuk ke ruang cerita.
Mungkin itu sebabnya kita masih mengenali kalimat seperti “Once upon a time” bahkan ketika belum tahu cerita apa yang akan mengikuti. Hanya beberapa kata sudah cukup untuk membuat kita membayangkan kastil, hutan, naga, atau seseorang yang sedang mencari jalan pulang.
Karena pada akhirnya, cara memulai cerita mungkin berbeda-beda di setiap budaya. Ada yang mengatakan “dahulu kala”, ada yang berkata “di suatu tempat”, bahkan ada yang memulai dengan pertanyaan apakah kisah itu benar-benar pernah terjadi.
Tetapi pesannya sama:
“Sekarang, dengarkan. Aku punya sebuah cerita untukmu.”
Temukan cerita menarik lainnya tentang bahasa, budaya, dan hal-hal kecil yang ternyata punya sejarah panjang hanya di Bukan Tentakel, bersama RRI Lhokseumawe.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....