Bedain “Expired” dan “Best Before” tanpa Bingung

  • 21 Sep 2026 11:29 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah nggak kamu berdiri di depan kulkas sambil memegang yogurt, terus melihat tanggal di kemasan dan mulai debat sama diri sendiri: “Ini expired atau cuma best before, sih?” Apalagi kalau tanggalnya baru lewat dua hari, makanannya masih kelihatan normal, dan baunya juga masih “kayaknya aman”. Akhirnya kita buka Google, baca lima artikel, lalu tetap nggak yakin. Padahal tanggal pada kemasan memang punya arti yang perlu dibaca bersama petunjuk penyimpanan dan kondisi produknya. BPOM sendiri mengingatkan konsumen untuk selalu memperhatikan keterangan kedaluwarsa dan petunjuk penyimpanan pada pangan olahan.

Di Indonesia, kamu akan sering menemukan tulisan “Baik digunakan sebelum”, “Expired Date”, “ED”, atau “Best Before” pada label pangan olahan. BPOM menjelaskan bahwa keterangan kedaluwarsa merupakan batas akhir suatu pangan dijamin mutunya selama disimpan sesuai petunjuk produsen. Format tanggalnya juga bisa berbeda, tergantung masa simpan produk, misalnya tanggal, bulan, dan tahun atau hanya bulan dan tahun. Jadi jangan cuma melihat angka tanggalnya, tetapi lihat juga kalimat yang mengikutinya dan petunjuk penyimpanan produk.

Nah, istilah “Best Before” memang sering bikin bingung karena di beberapa negara istilah ini digunakan untuk menunjukkan batas kualitas terbaik, bukan otomatis berarti makanan langsung menjadi tidak aman tepat setelah tanggal tersebut. USDA, misalnya, menjelaskan bahwa “Best if Used By/Before” menunjukkan kapan makanan diperkirakan berada pada kualitas terbaik dari segi rasa atau mutu. Artinya, dalam sistem pelabelan tertentu, lewat tanggal tersebut bisa berarti kualitas mulai menurun, bukan otomatis makanan langsung berubah menjadi berbahaya. Tetapi ini nggak bisa dijadikan aturan universal untuk semua produk di Indonesia, karena arti label harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan informasi dari produsen.

Lalu bagaimana dengan makanan yang tanggalnya sudah lewat tapi “kan baunya masih enak”? Nah, ini bagian yang perlu diluruskan. Bau, warna, dan tekstur memang bisa memberi petunjuk bahwa makanan sudah mengalami kerusakan, tetapi makanan yang terlihat dan berbau normal belum tentu otomatis aman. Ada kondisi ketika mikroorganisme berbahaya tidak membuat makanan terlihat busuk atau menghasilkan bau yang mencurigakan. Karena itu, jangan menjadikan “dicium dulu” sebagai satu-satunya tes keamanan makanan. FDA juga menyarankan konsumen memperhatikan perubahan warna, konsistensi, atau tekstur, tetapi tetap mempertimbangkan cara penyimpanan dan informasi pada label.

Penyimpanan juga punya peran besar. Misalnya kamu punya susu yang tanggalnya masih panjang, tetapi sejak kemarin dibiarkan di luar kulkas berjam-jam. Tanggal pada kemasan tidak bisa dianggap sebagai “tameng ajaib” yang membuat makanan tetap aman dalam kondisi apa pun. Produsen menentukan masa simpan dengan asumsi produk disimpan sesuai petunjuknya, sehingga makanan yang seharusnya disimpan dingin harus benar-benar disimpan dingin. FDA juga mengingatkan bahwa makanan mudah rusak tidak seharusnya dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang dan lemari pendingin perlu dijaga pada suhu yang sesuai.

Biar nggak pusing setiap kali belanja, coba pakai aturan sederhana ini: pertama, cari tulisan pada tanggalnya; kedua, baca petunjuk penyimpanan; ketiga, lihat kondisi kemasan; keempat, pikirkan bagaimana produk itu disimpan setelah dibeli. Kalau kemasan menggembung, bocor, rusak, segelnya bermasalah, atau produk menunjukkan tanda kerusakan, jangan merasa aman hanya karena tanggalnya belum lewat. Sebaliknya, untuk produk yang sudah melewati keterangan kedaluwarsa yang ditetapkan pada label pangan olahan di Indonesia, BPOM menyatakan mutunya tidak lagi terjamin dan produk tersebut tidak boleh dikonsumsi maupun diedarkan.

Jadi, lain kali jangan cuma melihat tanggal lalu bertanya, “Masih bisa dimakan nggak?” Lihat juga tanggal itu sebenarnya menunjukkan apa, produknya disimpan bagaimana, dan kondisinya sekarang seperti apa. Dan kalau masih ragu terhadap makanan yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa atau penyimpanannya nggak jelas, prinsip paling aman bukan “sayang kalau dibuang”, melainkan jangan mengambil risiko hanya demi menyelamatkan satu bungkus makanan. Karena ternyata membaca label makanan itu bukan sekadar mencari tanggal supaya nggak rugi, tapi juga bagian dari jadi konsumen yang lebih pintar. Temukan lebih banyak panduan praktis lainnya hanya di RRI Lhokseumawe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....