Kenapa Kita Suka Membandingkan Diri di Media Sosial?
- 29 Jun 2026 14:56 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah membuka media sosial hanya untuk melihat kehidupan orang lain, lalu tiba-tiba merasa tertinggal?
Melihat teman yang sudah punya pekerjaan impian, seseorang yang sering bepergian, atau orang lain yang terlihat selalu bahagia bisa membuat kita tanpa sadar membandingkan hidup sendiri dengan apa yang muncul di layar.
Padahal, media sosial sebenarnya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Kebiasaan membandingkan diri ini bukan sesuatu yang baru muncul karena internet. Sejak dulu manusia memang memiliki kecenderungan untuk melihat posisi dirinya dibandingkan dengan orang lain. Dalam ilmu psikologi, hal ini dikenal sebagai social comparison atau perbandingan sosial. Teori ini diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1954, yang menjelaskan bahwa manusia sering mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan, pencapaian, atau kondisi hidup dengan orang lain.
Bedanya, media sosial membuat proses tersebut terjadi jauh lebih sering.
Dulu, seseorang mungkin membandingkan diri dengan orang-orang di lingkungan sekitar. Sekarang, dalam beberapa menit saja kita bisa melihat ratusan kehidupan orang lain dari berbagai tempat. Masalahnya, yang kita lihat biasanya adalah versi terbaik mereka: foto yang sudah dipilih, pencapaian yang sudah diumumkan, atau momen bahagia yang sengaja dibagikan.
Menurut American Psychological Association (APA), penggunaan media sosial dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri, terutama ketika seseorang lebih sering melakukan perbandingan ke atas (upward comparison), yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih sukses atau lebih unggul.
Menariknya, perbandingan sosial tidak selalu buruk. Kadang melihat keberhasilan orang lain bisa menjadi motivasi. Melihat seseorang belajar hal baru, mencapai target, atau membangun sesuatu bisa membuat kita ikut terdorong untuk berkembang.
Namun, masalah muncul ketika media sosial membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Kita membandingkan proses hidup kita yang lengkap dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Ada cara sederhana untuk menjaga hubungan yang lebih sehat dengan media sosial. Salah satunya adalah menyadari bahwa tidak semua yang terlihat di internet adalah gambaran penuh sebuah kehidupan. Mengikuti akun yang memberikan inspirasi, membatasi waktu penggunaan media sosial, dan memberi ruang untuk fokus pada perkembangan diri sendiri dapat membantu mengurangi tekanan dari kebiasaan membandingkan.
Pada akhirnya, media sosial bukanlah cermin yang menunjukkan seluruh kenyataan. Ia lebih seperti album berisi halaman-halaman yang dipilih untuk diperlihatkan.
Karena terkadang, alasan kita merasa tertinggal bukan karena kita berjalan terlalu lambat, tetapi karena kita terlalu sering melihat perjalanan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....