Kok Bisa Jatuh Cinta Sama Karakter Fiksi?

  • 14 Sep 2026 16:32 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Pernah merasa patah hati gara-gara karakter yang bahkan tidak pernah benar-benar hidup? Kita tahu dia cuma tokoh dalam film, serial, anime, atau buku, tetapi ketika ceritanya berakhir, rasanya tetap seperti kehilangan seseorang. Bahkan ada kalanya kita lebih kepikiran nasib karakter fiksi daripada hubungan kita sendiri. Perasaan semacam ini terdengar agak konyol kalau dipikir-pikir, tetapi sebenarnya cukup manusiawi.

Fictional - Khloe Rose (Dok/Spotify)

Khloe Rose bahkan menuangkannya dalam lagu “Fictional”, yang menggambarkan kebiasaan jatuh cinta pada sosok yang ditemui lewat layar dan halaman buku, karena dunia fiksi terasa lebih aman daripada harus menghadapi kenyataan. Lagu tersebut dirilis pada 18 Agustus 2023 sebagai bagian dari album The In Between.

Lalu, bagaimana mungkin kita bisa punya perasaan sedalam itu kepada seseorang yang bahkan tidak nyata? Salah satu jawabannya berkaitan dengan proses yang disebut character identification, yaitu ketika seseorang tidak hanya memahami karakter, tetapi mulai melihat cerita dari sudut pandang karakter tersebut. Penelitian dalam psikologi naratif menjelaskan bahwa proses ini dapat membuat pembaca atau penonton ikut mengambil perspektif, tujuan, emosi, bahkan pengetahuan karakter selama mengikuti cerita. Jadi ketika kita ikut deg-degan saat karakter menunggu seseorang membalas pesan, ikut sakit hati ketika ia ditolak, atau merasa lega ketika akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan, otak kita tidak sekadar “menonton”. Untuk sementara, kita seperti ikut masuk ke dalam kehidupan karakter tersebut.

Ada juga alasan lain kenapa karakter fiksi bisa terasa begitu dekat: mereka hadir tanpa risiko penolakan yang sama seperti hubungan di dunia nyata. Penelitian Marina Rain dan Raymond Mar menemukan bahwa keterikatan seseorang dapat memengaruhi bagaimana mereka terlibat dengan karakter fiksi, termasuk kecenderungan membentuk hubungan parasosial dan merasa dekat dengan karakter tertentu. Para peneliti menjelaskan bahwa cerita dan karakter dapat memberikan bentuk kedekatan interpersonal tanpa ancaman penolakan secara langsung. Ini mungkin menjelaskan kenapa karakter tertentu bisa terasa seperti “tipe ideal” yang aman untuk disukai. Kita bisa mengagumi mereka, membayangkan hubungan dengan mereka, bahkan menangis karenanya tanpa harus menghadapi kenyataan bahwa mereka bisa benar-benar mengecewakan kita.

Masalahnya, karakter fiksi juga sering ditulis untuk menjadi sangat menarik. Mereka punya latar belakang yang dramatis, dialog yang sempurna, momen romantis yang datang tepat waktu, dan kadang-kadang kualitas yang mungkin sulit ditemukan dalam satu manusia nyata. Kita juga biasanya hanya melihat bagian kehidupan mereka yang memang penting untuk cerita, bukan saat mereka bangun tidur dengan napas bau, lupa membalas chat, atau menyebalkan karena meninggalkan piring di wastafel. Penelitian tentang identifikasi karakter menunjukkan bahwa keterlibatan yang kuat dengan sebuah cerita dapat memengaruhi pengalaman emosional dan bahkan membuat karakter terasa semakin dekat dengan diri kita. Jadi, membandingkan manusia nyata dengan karakter fiksi sebenarnya sedikit tidak adil karena kita sedang membandingkan kehidupan lengkap seseorang dengan versi terbaik dari seseorang yang sudah diedit oleh penulis.

Menariknya, kita juga tidak selalu jatuh cinta pada karakter karena ingin memiliki mereka. Kadang kita justru menyukai karakter karena melihat sebagian diri sendiri di dalamnya, atau karena mereka memiliki sifat yang ingin kita miliki. Penelitian tentang identifikasi karakter menunjukkan bahwa proses tersebut dapat membuat seseorang mengalami cerita melalui perspektif karakter dan untuk sementara berbagi sudut pandang, tujuan, serta emosinya. Itu sebabnya karakter tertentu bisa terasa begitu personal: mereka mungkin mewakili keberanian yang kita inginkan, kelembutan yang kita rindukan, kebebasan yang belum kita punya, atau versi diri kita yang ingin kita kenal lebih jauh. Pada titik itu, rasa suka terhadap karakter sebenarnya tidak hanya berbicara tentang karakter tersebut, tetapi juga tentang diri kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya bagian paling menyakitkan dari cerita fiksi bukan ketika kita tahu karakter itu tidak nyata, melainkan ketika ceritanya selesai. Kita sudah menghabiskan berjam-jam bersama mereka, mengetahui kebiasaan, ketakutan, hubungan, dan perjalanan hidupnya, lalu tiba-tiba cerita mengatakan, “Selesai.” Tidak ada lagi episode baru, tidak ada halaman berikutnya, dan tidak ada kesempatan untuk mengetahui apa yang terjadi setelah semuanya berakhir. Perasaan kehilangan tersebut terdengar berlebihan jika objeknya adalah karakter fiksi, tetapi keterikatan emosional yang kita bangun selama mengikuti cerita memang bisa terasa nyata. Jadi kalau pernah menangisi karakter yang sebenarnya tidak pernah ada, mungkin bukan berarti kita terlalu larut dalam khayalan; mungkin kita hanya berhasil masuk terlalu jauh ke dalam sebuah cerita.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak benar-benar jatuh cinta kepada karakter fiksi. Kita jatuh cinta pada cerita yang mereka bawa, pada perasaan yang mereka bangkitkan, atau pada bagian diri kita yang berhasil mereka sentuh. Kita tahu mereka tidak nyata, tetapi emosi yang muncul ketika membaca, menonton, atau mendengarkan kisah mereka tetap merupakan emosi yang nyata. Dan mungkin itulah kekuatan cerita: ia memberi kita kesempatan untuk merasakan cinta, kehilangan, harapan, dan kerinduan di sebuah dunia yang sebenarnya tidak pernah ada. Jadi kalau suatu hari kamu kembali berkata, “Kenapa sih aku bisa sayang banget sama karakter fiksi?” mungkin jawabannya sederhana: karena otak kita tahu mereka fiksi, tetapi hati kita tidak selalu peduli.

Temukan lebih banyak cerita menarik tentang budaya, hiburan, dan fenomena kehidupan sehari-hari hanya di RRI Lhokseumawe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....