Talli Manu Dab’ba, Ritual Perdamaian Orang Sabu
- 04 Sep 2024 14:32 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang : Orang Sabu yang mendiami Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur selalu memiliki cerita unik seputar budaya dan tradisi mereka. Ritual Talli Manu Dab’ba (Sabung Ayam Adat) misalnya. Ritual ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang menganut agama suku Jingi Tiu. Demikian penyampaian Jefrison H. Fernando, salah seorang pemerhati budaya Sabu yang juga merupakan Ketua Yayasan Gerakan Peduli Sesama (GPS) dalam perbincangannya bersama Pro 4 RRI Kupang, Sabtu (30/8/2024) malam.
Pria yang akrab disapa Nando ini mengatakan, ritual Talli Manu Dab’ba adalah salah satu ritual penting yang merupakan representasi dari ungkapan damai. “Jadi dulunya di Sabu itu perang antar suku dan wilayah adat masif sekali karena perebutan tanah dan lain sebagainya. Namun, seiring perjalanan waktu orang Sabu menyadari bahwa tidak bisa seperti ini terus. Harus dihentikan. Oleh karena itu, mereka memilih untuk membuat sebuah ritual yaitu Talli Manu Dab’ba atau Sabung Ayam Adat ini dengan harapan tidak ada lagi darah manusia yang tertumpah. Cukup darah ayam saja”, katanya.
Lebih lanjut, Nando menjelaskan, ritual adat talli manu dab’ba sebagai ritual perdamaian ini dilaksanakan di 6 wilayah adat yang ada di Sabu Raijua. Namun, hanya wilayah adat Liae saja yang masih mempertahankan 100 persen keaslian dari ritual ini. “Wilayah lain tidak lagi karena memang sudah terkontaminasi dengan hal-hal lain seperti judi kemudian transaksi jual beli dan lain sebagainya. Sedangkan di wilayah adat Liae ini tidak. Masyarakat di sana masih mempertahankan sebagai warisan leluhur yang murni harus dijalankan seperti tujuan awalnya yaitu ingin mengakhiri konflik yang terjadi”, jelasnya.
Nando menambahkan, ritual perdamaian ini biasanya dilaksanakan pada penanggalan tertentu menurut kalender adat orang Sabu. “Biasanya itu dilaksanakan pada bulan Warru Dab’ba menurut kalender adat orang Sabu khususnya di wilayah adat Liae atau lebih tepatnya saat Purnama atau Ili Warra”, tambahnya.
Menurutnya, ritual Talli Manu Dab’ba ini memiliki nilai filosofis yang kemudian senantiasa menjadi pegangan hidup orang Sabu dalam menjalani aktivitas sehari-hari dalam konteks sosial budaya. “Dari Talli Manu Dab’ba ini kita belajar tentang nilai persatuan dan kesatuan, nilai penghormatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab, kedisiplinan dan penghormatan terhadap pemerintahan adat”, katanya pada RRI Kupang.
Nando pun berharap agar budaya dan adat tradisi orang Sabu ini dapat dipertahankan dan dilestarikan bukan saja oleh orang Sabu tapi juga pemerintah, lembaga non-pemerintah dan semua yang peduli dengan perkembangan budaya di Nusa Tenggara Timur. (DB)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....