Pemandu Wisata Lokal Ungkap Pesona Kabupaten Kupang Tak Sekadar Keindahan Alam

  • 05 Okt 2026 07:20 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Kabupaten Kupang memiliki beragam potensi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan cerita budaya dan kehidupan masyarakat di dalamnya. Hal tersebut disampaikan Rilla Anastasia Solo, pemandu wisata lokal Kabupaten Kupang dalam wawancara pada Sabtu, 3 Oktober 2026, yang melihat pariwisata sebagai ruang untuk memperkenalkan identitas daerah.

Menurutnya, menjadi pemandu wisata bukan sekadar membawa wisatawan menuju sebuah lokasi untuk menikmati pemandangan atau berfoto. Ia menilai seorang pemandu memiliki peran penting untuk menggali cerita, sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari sebuah destinasi wisata.

Salah satu potensi yang menjadi perhatiannya berada di Kecamatan Fatuleu, yakni kawasan Kolam Camplong. Selama ini tempat tersebut lebih dikenal sebagai lokasi pemandian, padahal menurutnya terdapat cerita mengenai asal-usul nama Camplong yang berkaitan dengan pohon Sanaplo dan sumber mata air besar yang berada di kawasan tersebut.

“Saya melihat pariwisata itu bukan saja sebagai tempat di mana kita bisa pergi berfoto-foto, tapi mengandung banyak sekali nilai-nilai budaya di sana,” ujar Rilla. Ia menambahkan, wisatawan perlu diajak melihat lebih jauh bagaimana kekayaan alam tersebut berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal dan menggantungkan hidup di sekitarnya.

Rilla yang juga merupakan calon vikaris ini juga menyoroti sejumlah destinasi lain di Kabupaten Kupang, mulai dari kawasan pesisir hingga wisata alam dan budaya. Dalam penyusunan perjalanan, ia menyebut wisatawan dapat menikmati sejumlah pantai di wilayah Tarus, melihat kerajinan Sasando, mencicipi kuliner lokal di Oesao, menikmati persawahan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Camplong hingga kawasan Gunung Fatuleu.

Menurutnya, kawasan Amfoang juga memiliki daya tarik yang kuat melalui hamparan padang savana yang selama ini lebih sering dinikmati secara visual. Kehadiran pemandu wisata dapat memberikan nilai tambah dengan menjelaskan cerita dan keunikan di balik destinasi, sehingga wisatawan tidak berhenti pada pengalaman mengambil foto, tetapi memahami lebih dalam tempat yang dikunjunginya.

Ia berharap generasi muda Kabupaten Kupang semakin terlibat dalam pengembangan pariwisata dengan membekali diri melalui pengetahuan, kemampuan komunikasi, bahasa asing, serta pemahaman etika ketika mendampingi wisatawan. “Tugas dari tour guide itu punya tanggung jawab untuk memberdayakan dan mengkomunikasikan, mempopulerkan tempat wisata,” katanya, seraya menekankan pentingnya membangun pariwisata yang berkelanjutan dan tetap berpijak pada identitas masyarakat lokal.

Untuk memberikan pelayanan profesional, seorang pemandu yang tersertifikasi oleh Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) wajib menguasai tiga pilar utama yaitu pengetahuan, komunikasi, dan etika. Penguasaan ketiga hal tersebut sangat penting agar pemandu dapat menyampaikan kisah autentik suatu daerah tanpa melanggar batasan adat setempat.

Program pelatihan yang diikutinya berhasil mencetak 20 pemandu wisata lokal baru dengan dominasi peserta perempuan sebagai upaya awal membangun ekosistem pariwisata daerah. Keterlibatan perempuan ini dinilai menjadi langkah krusial dalam memperkuat pemberdayaan gender dan membuktikan bahwa pariwisata dapat digerakkan langsung oleh warga lokal.

Rilla menekankan bahwa anak muda di Kabupaten Kupang harus membekali diri agar mampu mengelola 88 potensi wisata daerah dan tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Kehadiran pemandu wisata lokal merupakan garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam sekaligus menampilkan keramahan khas NTT kepada para wisatawan. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....