Masa Depan Pariwisata Flores Pasca Gempa

  • 22 Sep 2026 11:41 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Gempa bumi berkekuatan besar yang diikuti belasan ribu gempa susulan memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk sektor pariwisata di Pulau Flores. Sejumlah destinasi wisata di wilayah daratan Flores sempat ditutup sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan masyarakat dan wisatawan selama masa tanggap darurat.

Hal tersebut disampaikan Viktor Pance, S.Pd., Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTT, dalam Wawancara Kupang Pagi RRI Kupang, Senin, 14 September 2026. Ia mengatakan destinasi seperti Danau Kelimutu, Kampung Adat Wae Rebo, Kampung Adat Bena, dan sejumlah destinasi lainnya sempat ditutup. Sementara itu, kawasan Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo relatif tidak terdampak sehingga aktivitas pariwisata tetap dapat berjalan.

Menurut Viktor, meskipun kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo tetap dibuka, dampak gempa terhadap kunjungan wisatawan tetap terasa. Sejumlah wisatawan membatalkan paket perjalanan yang sebelumnya telah dijadwalkan setelah memperoleh informasi mengenai gempa yang terjadi di NTT. Faktor kenyamanan dan keselamatan menjadi pertimbangan utama wisatawan dalam memutuskan perjalanan mereka.

Viktor menjelaskan, setelah masa tanggap darurat berakhir, sejumlah destinasi wisata di Flores mulai kembali dibuka. Destinasi yang dinilai aman dan tidak mengalami kerusakan berat dapat kembali menerima wisatawan. Ia menegaskan bahwa informasi mengenai kondisi destinasi harus disampaikan secara terbuka, termasuk apabila terdapat lokasi yang masih mengalami kerusakan sehingga belum dapat dikunjungi.

Untuk memulihkan pariwisata Flores, Viktor menilai diperlukan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan pariwisata. Promosi dan kerja sama dengan mitra pariwisata di luar NTT, termasuk daerah yang menjadi sumber wisatawan, perlu diperkuat. Selain itu, kesiapan masyarakat di destinasi juga menjadi perhatian karena sebagian warga masih menghadapi kepanikan dan trauma akibat gempa yang berlangsung cukup lama.

Viktor juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas masyarakat dan pelaku pariwisata dalam menghadapi bencana. Pemerintah dinilai perlu memberikan pelatihan mitigasi bencana, termasuk cara menyelamatkan diri ketika terjadi gempa. Bagi para pemandu wisata, pengetahuan mengenai vulkanologi, pergerakan lempeng, karakteristik geografis, dan potensi bencana di wilayah NTT juga perlu ditingkatkan agar dapat memberikan informasi yang tepat kepada wisatawan.

Ke depan, Viktor berharap pemulihan pariwisata Flores tidak hanya berfokus pada pembukaan kembali destinasi, tetapi juga pada kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, NTT berada di kawasan Cincin Api sehingga pemahaman mengenai potensi gempa dan bencana alam perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata. Dengan masyarakat yang lebih siap, pelaku pariwisata yang memiliki pengetahuan mitigasi, serta kerja sama lintas sektor yang kuat, pemulihan pariwisata di Flores diharapkan dapat berjalan dengan tetap mengutamakan keselamatan wisatawan dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....