Tren Wisata yang Akan Populer di Tahun 2026

  • 28 Des 2025 19:25 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Kementerian Pariwisata memprediksi tren pariwisata pada 2026 akan bergeser ke arah pengalaman yang lebih autentik, berkelanjutan, dan berbasis teknologi. Hal ini dipengaruhi oleh wisatawan Generasi Milenial dan Gen Z yang mendorong munculnya eco-tourism, wellness tourism, dan sport tourism.

Prediksi tren pariwisata Indonesia dari para ahli dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 dikatakan selaras dengan tren pariwisata global. Dilansir dari laman Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, berikut enam tren pariwisata yang diprediksi akan berkembang pada 2026.

Penyelaman Budaya (Cultural Immersion)

Tren pariwisata cultural immersion diprediksi semakin menjadi primadona di kalangan wisatawan di Indonesia. Aktivitas wisatawan kini tidak sekadar melihat destinasi populer, melainkan ingin merasakan kehidupan lokal secara langsung.

Dalam cultural immersion, wisatawan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari, tradisi, dan praktik budaya komunitas lokal. Wisatawan bisa mengikuti upacara adat, belajar memasak makanan tradisional, hingga tinggal bersama masyarakat setempat.

Minat terhadap cultural immersion mencerminkan pergeseran dari eksplorasi destinasi populer menuju pencarian makna dan koneksi. Tren partisipasi dengan masyarakat dan budaya lokal diminati oleh semua kalangan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.

Pariwisata Ramah Lingkungan (Eco-Friendly Tourism )

Eco-friendly tourism atau tren pariwisata diprediksi berpotensi terus berkembang di Indonesia karena kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang ada. Ketertarikan wisatawan pada eco-friendly tourism akan berpusat pada ketersediaan fasilitas dan aktivitas yang ramah lingkungan.

Wisatawan cenderung ingin merasakan secara langsung pengalaman konservasi dan pemulihan ekosistem, seperti pemantauan satwa liar hingga restorasi terumbu karang. Wisatawan cenderung akan memilih akomodasi bersertifikat lingkungan, destinasi dengan pengelolaan sampah terpadu, serta kebijakan tegas pengurangan plastik sekali pakai.

Pariwisata berbasis alam dan petualangan (Nature and Adventure-Based Tourism)

Tren pariwisata ke depan menunjukkan pergeseran signifikan menuju pariwisata yang lebih bertanggung jawab, personal, dan memiliki nilai. . Permintaan niche adventure seperti mendaki gunung api aktif (geotourism), susur gua (caving), dan eksplorasi alam bawah laut (scuba diving), termasuk dengan menikmati tinggal di tengah laut (live on board) akan terus berkembang serta bervariasi bentuknya.

Bentang alam masih menjadi modal utama dan pendukung sektor pariwisata Indonesia di masa depan. Meski menjadi motor utama pariwisata, tren wisata alam di Indonesia menunjukkan pergeseran ke arah eksplorasi potensi yang lebih unik dan spesifik

Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 mengutip laporan Skyscanner terbaru yang menyebutkan, 71% wisatawan global sedang mempertimbangkan atau merencanakan liburan ke kawasan pegunungan pada musim panas atau gugur 2026.

Wisata Kuliner dan Gastronomi (Culinary and Gastronomy Tourism)

Kuliner dan gastronomi di Indonesia tidak lagi dipandang sebagai elemen pelengkap paket wisata, melainkan telah menjadi daya tarik tersendiri. Makanan menjadi alasan fundamental wisatawan nusantara dalam memilih sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman kuliner autentik seperti festival makanan tradisional dan farm-to-table di desa wisata.

Sementara itu, wisatawan mancanegara lebih berminat pada narasi atau cerita di balik tersajinya makanan. Makanan diposisikan sebagai medium untuk merasakan autentisitas sebuah destinasi wisata.

Tren gastro-tourism diprediksi akan terus berkembang sebagai salah satu pilar pariwisata kreatif di Indonesia. Wisatawan akan diajak mengikuti proses produksi sebuah makanan dari kebun hingga tersaji di meja makan dan dirasakan langsung oleh wisatawan.

Wisata Kebugaran (Wellness Tourism)

Wisata kebugaran atau wellness tourism diperkirakan menjadi tren pariwisata yang terus berkembang pesat di dalam maupun luar negeri. Perkembangan tren ini didorong oleh meningkatnya pergeseran gaya hidup wisatawan menuju keseimbangan dan kesadaran diri.

Aktivitas wisata tidak lagi hanya diposisikan sebagai pelarian, melainkan sebagai ruang pemulihan dan refleksi. Fokus utama dari wellness adalah peningkatan fisik, mental, dan spiritual secara holistik.

Bleisure (Business and Leisure)

Meningkatnya kesadaran keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan, memberikan ruang bagi berkembangnya tren bleisure di Indonesia. Menggabungkan perjalanan bisnis dengan rekreasi merujuk pada pelaku perjalanan bisnis cenderung memperpanjang masa tinggal untuk mengeksplorasi destinasi wisata di sekitarnya.

Perkembangan bleisure juga seiring dengan keberadaan ekosistem MICE, nomadic work-life travel, dan wisata urban. Agenda resmi seperti konferensi dan pameran mengintegrasikan agenda tur dalam kota, wisata kuliner, dan wellness.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kepuasan peserta atau pengunjung, tetapi juga memperpanjang masa tinggal mereka dan memberikan dampak ekonomi positif bagi destinasi MICE di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....