Membangun Potensi Pariwisata Berkelanjutan di NTT dengan MICE
- 23 Nov 2025 12:33 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang : Pariwisata cerdas atau Smart Tourism menjadi fokus utama dalam pengembangan sektor pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini dan sebagai upaya menciptakan pengalaman wisata yang lebih berkelanjutan. Konsep ini memadukan teknologi informasi dan kearifan lokal untuk meningkatkan setiap aspek pariwisata, mulai dari promosi hingga pengelolaan destinasi.
Upaya pembangunan pariwisata cerdas di NTT didorong oleh antusiasme para pemangku kepentingan untuk mengembangkan destinasi minat khusus, termasuk sektor MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions). Konsep MICE yang merupakan singkatan dari empat komponen utama ini sangat relevan untuk mempromosikan potensi wisata NTT yang kaya.
Dalam wawancaranya bersama RRI Dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Kupang, Syul Rosli Sanam, S.Par., M.Par., menjelaskan, setiap aspek pariwisata mulai dari promosi, pelayanan hingga pengelolaan destinasi dilakukan secara digital dan dipastikan juga ramah lingkungan dan berbasis masyarakat. Menurut Rosli, penerapan konsep pariwisata cerdas sudah terlihat di beberapa kawasan seperti Labuan Bajo, yang telah mengadopsi sistem digital untuk tiket masuk dan informasi wisata.
Selain Labuan Bajo, potensi pariwisata MICE di NTT juga diidentifikasi berada di Maumere dan Kota Kupang. Didukung oleh kekayaan wisata alam dan infrastruktur yang terus dikembangkan.
“Setiap aspek pariwisata harus dikelola secara digital, ramah lingkungan, dan berbasis masyarakat,” ungkapnya menegaskan.
Pengembangan sektor MICE di NTT berpedoman pada strategi pembangunan pariwisata yang berkelanjutan, fokus pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kegiatan MICE ini membantu mempromosikan destinasi, meningkatkan branding, kapasitas SDM, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Rosli menguraikan bahwa MICE ini adalah salah satu aset pariwisata yang memang sangat atau perlu ditunjang dengan digitalisasi. Sehingga melalui MICE dapat membangun wisata yang cerdas, kolaboratif, dan membawa manfaat nyata bagi Nusa Tenggara Timur.
“MICE sangat relevan karena kegiatan rapat, perjalanan insentif, konvensi, dan pameran mampu memperkuat branding destinasi sekaligus memacu ekonomi lokal,” ucapnya.
Hal ini sesuai dengan pola kolaborasi ideal yang menggunakan pendekatan Pentahelix yang melibatkan Pemerintah, Swasta, Akademisi, Komunitas, dan Media. Rosli Sanam menekankan pentingnya sinergi ini. Lebih jauh, ia memaparkan jika kolaborasi menjadi kunci agar destinasi mampu bersaing dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Ia menyatakan pihaknya sebagai peneliti, sekaligus sebagai periset, dan sebagai pengajar ini yang mana akademisi di Politeknik Negeri Kupang melalui jurusan pariwisata juga mempersiapkan calon-calon SDM yang siap melayani dan memberikan kualitas pelayanan hospitality yang baik kepada wisatawan MICE itu sendiri.
Program pemberdayaan UMKM, penyediaan I, hingga pelibatan anak muda (peserta didik dan calon SDM) sebagai pemandu wisata lokal menjadi strategi nyata untuk memastikan pariwisata cerdas inklusif dan memberi dampak ekonomi merata. Dengan dukungan digitalisasi serta promosi kreatif yang dilakukan generasi muda, MICE diyakini dapat membawa NTT menuju destinasi global yang modern, cerdas, dan berdaya saing tinggi.
Politeknik Negeri Kupang melalui Program Studi Usaha Perjalanan Wisata berperan aktif dalam mencetak SDM unggul di bidang MICE dengan kurikulum berbasis kompetensi yang berfokus pada project-based learning. Lulusan dari prodi ini diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu memadukan teknologi dan budaya lokal untuk menjadikan NTT sebagai pusat pengembangan destinasi wisata MICE yang cerdas dan berkelas di Indonesia Timur.
Keberhasilan mencetak SDM ini dibuktikan dengan keterlibatan alumni dalam penyelenggaraan acara besar, termasuk perhelatan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....