Dialog RRI Kupang Dorong Pelestarian Situs Bersejarah Fatusuba
- 17 Okt 2025 14:48 WIB
- Kupang
KBRN,Kupang: RRI Kupang menggelar Dialog Luar Studio dalam rangkaian FestivalBudaya Fatusuba di Kampung Bonen, Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, KabupatenKupang. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, danwarga setempat untuk membahas upaya pelestarian Gua Jepang Fatusuba gua terbesardan terpanjang di Indonesia yang diperkirakan dibangun pada tahun 1942, masapendudukan Jepang di Pulau Timor Barat.
Dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya arkeolog dari BPKWilayah XVI NTT, perwakilan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, serta Pdt.Otniel Dani Liu, pencetus situs gua benteng pertahanan Jepang di Bukit Fatusuba.
Kegiatan ini memfokuskan pembahasan pada komitmen pemerintah dalam meresponsinisiatif masyarakat Bonen yang telah berperan aktif menjaga dan memperkenalkan situsbersejarah tersebut.
| Baca juga: Pantai lasiana ramai di musim liburan |
Menariknya, dalam dialog tersebut turut hadir Opa Niko Bahas bersama putranya PetrusBanao, pemilik lahan tempat Gua Jepang Fatusuba berada. Dengan penuh ketulusan, iamenyatakan kesediaannya menyerahkan lahan tersebut kepada pemerintah melalui BalaiPelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT untuk dikelola, dilindungi, dan dijadikan CagarBudaya.
“Dari pihak keluarga kami siap menyerahkan untuk kepentingan publik, kepada BPK dankementerian kebudayaan” tutur Petrus.
Sementara itu, Pdt. Deasy Liu – Tatengkeng, Ketua Majelis Jemaat GMIT Mizpa Bonen,turut hadir menemani sang suami, Pdt. Otniel Liu. Pasangan hamba Tuhan ini dikenalsebagai sosok yang pertama kali menemukan dan mempublikasikan sejumlah gua bentengpertahanan Jepang di kawasan Bonen pada 2021 lalu dan dengan semangat pelayananmelakukan advokasi kepada publik, pemerintah dan kepada siapapun yang berkunjung. Niatawal mereka mencari lokasi wisata di sekitar area pelayanan, justru membawa padapenemuan puluhan gua bersejarah yang kini menjadi perhatian publik.
“Empat tahun lebih sampai di titik ini, tapi tidak mudah. Berawal dari rekreasi jadi penemuandan diangkat ke publik, Gua Benteng Pertahanan Jepang yang terlupakan,” jelas Pdt.Deasy.
Menurut arsip dan kisah warga setempat, pembangunan gua-gua tersebut dilakukan dengantenaga romusha yang sebagian besar didatangkan dari Pulau Rote dan Amarasi.
Melalui kegiatan ini, RRI Kupang bersama para pemangku kepentingan berharap situs GuaJepang Fatusuba tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga menjadi destinasi wisataedukatif dan bernilai ekonomis yang menumbuhkan rasa bangga dan tanggung jawab untukmelestarikan warisan budaya bangsa.(AH)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....