Ekokoe Kupang Hadirkan Cita Rasa Jajanan Tradisional Kekinian
- 26 Okt 2025 11:09 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Di tengah derasnya arus kuliner modern, Ekokoe Kupang justru tampil menonjol dengan jajanan tradisional yang dikemas cantik dan bercita rasa khas Nusantara. Usaha yang bermula dari penjualan online sekitar empat tahun lalu, kini berkembang menjadi toko offline yang ramai dikunjungi pelanggan setiap hari.
“Awalnya kami hanya jualan lewat online, tapi karena semakin banyak peminat, akhirnya kami buka toko offline di Oesapa. Sekarang hampir setiap hari ramai pengunjung. Jam 7 pagi kue-kuenya sudah ready, fresh dan enak” ujar Ekoe saat diwawancara RRI Pro 4 Kupang dalam segmen Pasar UMKM.
Mengusung konsep “Warung Kue Prasmanan”, toko Ekokoe memungkinkan pembeli memilih sendiri jajanan yang diinginkan, bahkan mencicipi tester sebelum membeli. Dari klepon ubi ungu, lumpur kentang, hingga risoles, semua diolah dari pangan lokal berkualitas premium.
Proses produksinya dilakukan langsung di lokasi toko, membuat pelanggan bisa menikmati kue yang masih hangat. Ekokoe dikelola secara kekeluargaan dengan melibatkan sekitar 20 orang tenaga produksi, sebagian besar adalah lulusan baru perguruan tinggi yang dilatih untuk menciptakan lapangan kerja.
“Kami ingin membantu anak-anak muda agar punya keterampilan dan kesempatan bekerja. Bahkan saya berharap suatu saat mereka bisa membuka usaha sendiri,” tutur Bu Eko.
Meski tanpa promosi besar-besaran di media sosial, Ekokoe sukses menarik perhatian masyarakat Kupang. Ekokoe mengandalkan kualitas rasa dan bahan premium, serta kepercayaan pelanggan yang terus melakukan pemesanan ulang.
“Bisnis ini berkembang dari mulut ke mulut. Kami tidak pernah meng-endorse siapa pun, tapi orang datang karena rasa kuenya memang enak. Lidah tidak bisa bohong,” ujarnya tersenyum.
Kualitas menjadi prinsip utama Ekokoe. Setiap kue dikemas rapi dan diberi garansi 100% jika rusak saat diterima pelanggan. “Kami jaga mutu dari bahan sampai pengemasan. Kalau ada kue rusak, kami ganti langsung,” tegasnya.
Bu Eko juga mengenang perjalanan awal memulai usaha yang tidak mudah. Ia memulainya dari nol bersama suami dan anak-anak, mengantar kue dengan motor tanpa modal besar. Bahkan saat badai Seroja melanda Kupang, mereka tetap bertahan.
“Waktu itu pesanan banyak, tapi angin besar bikin kue tidak bisa dijual. Dari situ saya belajar, ternyata brownies buatan kami bisa tahan seminggu tanpa pengawet. Dari musibah itu, ada hikmah,” kenangnya haru.
Kini, Ekokoe tidak hanya dikenal karena rasa, tetapi juga karena nilai spiritual dan ketulusan dalam setiap langkah usaha. “Kami jualan bukan sekadar cari uang, tapi mencari ridha Ilahi. Kalau niat tulus, rezeki akan datang dari arah yang tak disangka,” ucapnya penuh keyakinan.
Bu Eko juga berharap semakin banyak pelaku UMKM di NTT yang mampu bersaing dengan menjaga mutu, kebersihan, dan rasa. “Jangan bikin yang murah, tapi bikin yang enak dan berkualitas. Sekali orang makan kue enak, dia pasti balik lagi,” pesannya.
Ia juga menekankan pentingnya ketulusan hati dalam bekerja. “Buat makanan seolah untuk keluarga sendiri. Kalau kita tulus, orang lain bisa merasakan kasih itu dalam setiap gigitan,” katanya. (JR)
Ke depan, Ekoe berencana mengembangkan produk roti dan membuka cabang di beberapa kota, tanpa meninggalkan konsep eksklusif yang menjadi ciri khas Ekokoe. “Mimpi terbesar saya adalah membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di Kupang, supaya anak-anak muda di sini bisa berani berwirausaha dan menciptakan peluang di tanah sendiri,” tutupnya penuh harap. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....