Upaya Ekonomi Flores Bangkit Pasca Guncangan Gempa M7,7
- 01 Okt 2026 08:00 WIB
- Kupang
Poin Utama
- Pemulihan ekonomi Flores pascagempa 2026
- Dampak gempa Flores terhadap ekonomi masyarakat
- Strategi pemulihan ekonomi pascabencana
- Gempa Flores 2026 dan pembangunan ekonomi
- Pemulihan UMKM terdampak gempa Flores
RRI.CO.ID, Rote - Gempa berkekuatan M7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 menyisakan duka dan trauma yang mendalam bagi masyarakat Pulau Flores di Provinsi NTT. Per 24 September 2026, BNPB mencatat sekitar 156 korban meninggal, 1.620 korban luka/sakit, dan 29.980 warga mengungsi.
Banyak rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan, yaitu sekitar 5.005 rumah rusak berat, 13.615 rumah rusak sedang, dan 27.575 rumah rusak ringan. Selain itu, ratusan hingga ribuan fasilitas umum turut terdampak, yaitu 157 fasilitas pelayanan kesehatan, 2.147 fasilitas pendidikan, 683 kantor, dan 588 rumah ibadah.
Gempa yang mengguncang Flores merupakan peristiwa traumatisyang berdampak ke berbagai sektor, salah satunya sektor ekonomi masyarakat. Bencana gempa yang terjadi dapat memengaruhi pergeseran struktur ekonomi masyarakat yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
Kondisi ini menyebabkan banyak usaha warga harus tutup sementara atau berhenti berproduksi karena fasilitas usaha mengalami kerusakan. Di sisi lain, wisatawan menunda perjalanan, distribusi barang terganggu, transportasi terhambat akibat kerusakan infrastruktur, dan terganggunya aktivitas produksi pertanian yang menjadi salah satu sumber utama mata pencaharian masyarakat Flores.
Bencana yang terjadi juga dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat sehingga harga barang tertentu mengalami kenaikan. Kondisi pascagempa tersebut membuat pemulihan ekonomi Flores menjadi salah satu sektor yang perlu mendapat perhatian agar roda perekonomian masyarakat dapat kembali berputar.
Tantangan Pemulihan Ekonomi Pasca Gempa Flores
Tingkat dampak dan kecepatan pemulihan ekonomi suatu wilayah sangat ditentukan oleh kapasitas adaptif wilayah, khususnya pada aspek infrastruktur, akses terhadap layanan dasar, dan kapasitas ekonomi yang berfungsi sebagai penyangga dalam menghadapi guncangan. Kemampuan adaptasi menggambarkan sejauh mana suatu populasi atau wilayah dapat menyesuaikandiri terhadap dampak negatif dari bencanadan perubahan iklim.
Berdasarkan Peta Klaster Spasial LISA Skor Adaptivity Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, dari delapan kabupaten yang terdapat di Pulau Flores, terdapat enam kabupaten, yaitu Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, dan Flores Timur, yang termasuk dalam wilayah Low-Low (LL). Wilayah Low-Low merupakan wilayah dengan kapasitas adaptivity yang relatif rendah, yang menunjukkan adanya keterbatasan pada sektor infrastruktur, akses terhadap sumber daya, dan kapasitas kelembagaan
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya adaptasi dan pemulihan ekonomi pascagempa Flores 2026 merupakan tugas yang tidak ringan bagi pemerintah daerah dan perlu dilakukan secara bertahap. Pemerintah harus melakukan penyesuaian anggaran untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat sekaligus mendukung pemulihan pascabencana. Dalam jangka pendek, aktivitas ekonomi setelah gempa hampir selalu mengalami tekanan akibat terganggunya kegiatan produksi, distribusi, konsumsi, dan mobilitas masyarakat.
Pemulihan Ekonomi Flores Pasca Gempa
Pertanyaannya adalah, bagaimana Flores mampu memulihkan perekonomian pascagempa di tengah berbagai keterbatasan yang dimiliki? Sektor apa yang perlu menjadi prioritas dalam pembangunan ekonomi pascabencana? Mari kita belajar dari bencana gempa yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu gempa dan tsunami yang melanda Kota Palu dan Kabupaten Donggala pada tahun 2018.
Studi mengenai gempa Kota Palu dan Kabupaten Donggala yang dilakukan oleh BPS menunjukkan bahwa bencana gempa dan tsunami tidak menyebabkan kemunduran ekonomi secara permanen. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh belanja darurat yang cukup besar, bantuan pemerintah, dan aktivitas rekonstruksi pada tahap awal.
Kota Palu mengalami pemulihan ekonomi yang relatif cepat, sedangkan Kabupaten Donggala mengalami pemulihan secara bertahap dalam jangka menengah. Kajian BPS mengenai resiliensi bencana dan arah ekonomi pascabencana menunjukkan bahwa perekonomian suatu wilayah dapat mengalami pemulihan sementara, mengalami kehilangan permanen, atau bahkan bangkit melalui pembaruan.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, pemikiran Joseph Schumpeter mengenai perubahan dan pembaruan ekonomi menunjukkan bahwa guncangan dapat menjadi momentum munculnya pembaruan dalam sistem ekonomi. Dalam konteks pascabencana, proses rekonstruksi dapat menjadi peluang untuk membangun kembali infrastruktur, tata ruang, dan kegiatan ekonomi dengan standar yang lebih baik, efisien, dan tangguh terhadap bencana.
Pemerintah pusat dan daerah dapat berkolaborasi melakukan berbagai upaya pemulihan ekonomi pascabencana, diantaranya dengan memprioritaskan rehabilitasi dan pembangunan kembali infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan, jaringan listrik, sistem air bersih, jaringan telekomunikasi, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, pasar dan fasilitas perdagangan, sistem drainase dan sanitasi, serta irigasi pertanian. Selain itu, pemerintah dapat memberikan dukungan kepada usaha mikro dan kecil melalui bantuan modal, pengadaan kembali sarana dan prasarana UMKM, serta pendampingan dan peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana.
Berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemulihan ekonomi yang bertujuan mempercepat normalisasi kegiatan produksi sekaligus memperkuat kembali jaringan ekonomi lokal yang mengalami gangguan akibat bencana.Kebijakan penanggulangan bencana juga perlu diintegrasikan dengan pembangunan ekonomi daerah agar masyarakat tetap produktif dan mampu bangkit setelah bencana.
Sensus Ekonomi 2026 di Tengah Gempa Flores
Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) di tengah bencana gempa menjadi tantangan tersendiri dalam menghasilkan data ekonomi yang akurat dan tepat waktu. Pelaksanaan lapangan SE2026 berlangsung pada 15 Juni–31 Agustus 2026, sementara gempa besar Flores terjadi pada 15 Agustus 2026. Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan pendataan berlangsung dalam situasi yang tidak sepenuhnya normal, terutama di wilayah yang terdampak bencana.
Gangguan terhadap aktivitas masyarakat dan pelaku usaha, aksesibilitas wilayah, serta perubahan kondisi usaha pascagempa menjadi tantangan bagi petugas dalam melakukan pendataan. Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya menjadi kegiatan pendataan statistik, tetapi juga dapat menjadi bagian penting dalam menyediakan data yang akurat dan mutakhir yang diperlukan agar kebijakan pembangunan ekonomi dapat tepat sasaran.
Pada akhirnya, pemulihan ekonomi Flores bukan hanya tentang membangun kembali apa yang telah rusak. Pemulihan juga merupakan momentum untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat, adaptif, dan tangguh terhadap guncangan di masa depan.
Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar proses pemulihan tidak hanya mengembalikan aktivitas ekonomi seperti sebelum bencana, tetapi juga membuka ruang bagi terciptanya ekonomi Flores yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Sumber: Yosefina Yohana Nau Dewa/ Statistisi Terampil BPS Kabupaten Ngada, Provinsi NTT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....