Jangan Menghakimi: Kita Semua Akan Bertanggung Jawab Kepada Tuhan
- 15 Sep 2026 08:01 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Sumba - Ketika jempol begitu cepat menekan tombol kirim komentar pedas, ketika pandangan mudah melukai sesama hanya karena cara ibadah atau gaya hidup berbeda, firman Tuhan datang menegur lembut namun tegas siapakah kita, sehingga berani mengambil hak yang hanya milik Allah semata? Demikian pesan inti renungan bertajuk "Jangan Menghakimi" yang disampaikan pada program siaran Mutiara Pagi oleh Penyuluh Agama Kristen Protestan Mellyn Taursia Julianus,S.Th,melalui pembacaan surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma pasal 14 ayat 1-12, Minggu 13 September 2026.
Di tengah arus zaman yang kerap menjadikan penghakiman sesama seolah-olah kebiasaan lumrah bahkan di ruang-ruang persekutuan, renungan ini mengajak setiap orang beriman menata ulang hati. Perbedaan pilihan makanan, penghormatan hari khusus, hingga intensitas kehadiran dalam ibadah kerap dijadikan ukuran kesalehan padahal di situlah benih perpecahan mulai tumbuh.
Satu pihak merasa lebih suci, pihak lain merasa lebih bebas, dan keduanya lupa bahwa semua adalah hamba yang bertanggung jawab hanya kepada Tuhan. Latar belakang sejarah surat Roma memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan hal baru.
Di kota Roma abad pertama, kembalinya orang-orang Kristen Yahudi setelah diusir beberapa tahun sebelumnya bertemu dengan gereja yang telah tumbuh dalam kebebasan iman tanpa keterikatan hukum Taurat. Dua kelompok yang sama-sama mengasihi Tuhan ternyata memiliki cara berbeda menghayati iman dan perbedaan itu justru mengancam kesatuan tubuh Kristus.
Rasul Paulus menegaskan, perbedaan bukan alasan saling merendahkan atau mengutuk. Baik yang memegang aturan ketat maupun yang hidup dalam kebebasan iman, jika keduanya melakukannya untuk Tuhan dengan hati bersyukur, maka keduanya beribadah kepada Allah yang sama.
Yang memisahkan bukanlah perbedaan kebiasaan, melainkan sikap merasa berhak menilai dan memutuskan layak tidak layaknya saudara seiman. Pengingat paling dalam datang dari kenyataan penghakiman Allah.
"Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah," tulis Paulus. Kelak tidak ada satu pun dari kita yang akan duduk di kursi hakim atas hidup orang lain sebaliknya, semua akan berdiri sejajar memberikan pertanggungjawaban atas diri sendiri.
Saat kita sibuk memeriksa catatan rohani orang lain, pertanggungjawaban hati kita sendiri belum selesai di hadapan Tuhan. Renungan ini menutup dengan ajakan tegas bedakan pokok iman yang menyatukan dari hal-hal ekspresi yang beragam.
Dalam keselamatan di dalam Kristus kesatuan dalam kebiasaan pribadi kebebasan dalam segala hal kasih. Membangun komunitas yang menerima seperti Kristus menerima kita, itulah ibadah sejati yang paling berkenan kepada Allah. (YL)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....