Sebagian Besar Wilayah NTT Masih Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis
- 01 Okt 2026 06:26 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Sebagian besar wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menghadapi ancaman kekeringan meteorologis menyusul pantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut yang telah mencapai kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari hingga akhir September 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTT, Rahmatulloh Adji di Kupang melaporkan bahwa fenomena iklim ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh lapisan masyarakat serta instansi terkait di daerah.
"Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut Dasarian III September 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mengalami Hari Tanpa Hujan hingga kategori Ekstrem Panjang (>60 hari)," kata Adji pada Rabu, 30 September 2026.
Lebih lanjut, ia menjelaskan hasil monitoring mendalam menunjukkan bahwa dari sekian banyak wilayah terdampak, terdapat beberapa kabupaten dan kota yang mencatatkan durasi kekeringan paling parah. Wilayah-wilayah tersebut bahkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan dengan kategori ekstrem panjang yang melampaui 130 hari berturut-turut tanpa adanya tetes air hujan yang signifikan.
Adji merinci daerah-daerah yang mengalami kondisi terparah tersebut meliputi Kota Kupang (sekitar Bakunase dan Oepoi), Kabupaten Lembata (sekitar Wairiang, Hadakewa, dan Wulandoni), serta Kabupaten Ngada di wilayah Waepana.
"Beberapa wilayah sudah mengalami Hari Tanpa Hujan dengan kategori Ekstrem Panjang (>130 hari) yaitu Kota Kupang, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Alor, Kabupaten Kupang, hingga Kabupaten Belu," katanya.
Selain daerah-daerah tersebut, catatan iklim dasarian juga mencakup titik-titik spesifik seperti sekitar Detusoko di Kabupaten Ende, kawasan Waingapu dan Kananggar di Sumba Timur, serta wilayah sekitar Stasiun Meteorologi Maumere dan Waigete di Kabupaten Sikka. Kondisi serupa juga melanda Alor Barat Laut, sekitar Lelogama di Kabupaten Kupang, hingga wilayah Atambua dan Fatulotu di Kabupaten Belu.
“Di samping durasi hari tanpa hujan yang begitu panjang, analisis curah hujan pada Dasarian III September 2026 secara umum menunjukkan angka yang sangat rendah di seluruh wilayah NTT. Sebagian besar daerah tercatat berada pada kategori curah hujan rendah, yakni berkisar antara 0 hingga 50 milimeter per dasarian,” ucap Adji.
Menanggapi situasi kekeringan ekstrem dan rendahnya curah hujan ini, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah antisipatif, terutama dalam hal efisiensi penggunaan air bersih dan mitigasi bahaya kebakaran lahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....