Seni dan Permainan Jadi Media Pemulihan Anak Desa Tandihat

  • 28 Sep 2026 20:42 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Sumba - Seni, permainan, dan cerita menjadi media yang digunakan Tim Marsiadapari Tandihat 2026 dalam mendampingi anak-anak pascabencana di SDN 100207 Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan. Melalui kegiatan tersebut, siswa diberikan ruang untuk mengenali emosi, mengungkapkan pengalaman, serta membangun kembali harapan melalui aktivitas yang dekat dengan dunia anak.

Pendampingan ini menjadi bagian dari Program UI Peduli yang dikoordinasikan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI) bersama Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI). Program dilaksanakan melalui kolaborasi UI, Universitas Aufa Royhan (UNAR), sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat. Selain pendampingan psikososial, rangkaian Marsiadapari Tandihat juga mencakup literasi pendidikan, layanan kesehatan, dan bakti sosial di kawasan Huntara Tandihat.

Dipimpin Assoc.Prof.Dr. Hendra Kaprisma, tim melibatkan mahasiswa FIK UI, alumni UI, dan mahasiswa UNAR. Pendampingan dimulai dengan skrining kondisi psikososial untuk memperoleh gambaran awal mengenai pengalaman dan respons anak setelah bencana. Setelah itu, anak-anak mengikuti kegiatan butterfly hug dan afirmasi positif sebagai aktivitas sederhana untuk membantu mereka menenangkan diri dan mengenali kondisi emosional.

Dalam sesi “Kenali Ekspresi”, siswa belajar mengenali perasaan seperti senang, sedih, marah, dan cemas melalui aktivitas yang menyenangkan. Kegiatan dilanjutkan dengan “Ekspresi Kreatif”, di mana siswa kelas 1–3 menggambar hal yang membuat mereka bahagia, sementara siswa kelas 4–6 melukis tote bag. Karya tersebut kemudian menjadi sarana bagi anak untuk berkomunikasi mengenai perasaan dan pengalaman mereka.

Ruang ekspresi berlanjut melalui kegiatan “Pohon Harapan”. Setiap siswa menuliskan atau menggambarkan harapan mereka pada lembar berbentuk daun dan menempelkannya pada pohon bersama-sama. Menurut Ketua Tim Pengmas UI, Hendra Kaprisma, pendekatan tersebut dirancang agar anak-anak memiliki ruang untuk bermain, menggambar, bercerita, tertawa, dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang mereka pahami.

Kegiatan kemudian ditutup dengan permainan “Ular Naga”, lagu “Sayonara”, doa, dan foto bersama. Direktur DPIS UI, Dr. L.G. Saraswati Putri, mengatakan pemulihan pascabencana perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan psikososial anak.

Sementara itu, Koordinator Mahasiswa untuk Keuangan, Najiah Sahda Fatih, menilai keterlibatan dalam Marsiadapari menjadi pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami bahwa pengabdian bukan sekadar memberikan sesuatu, tetapi juga mendengarkan dan bekerja bersama masyarakat. (Jl)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....