Warga Binaan Rutan SoE Kembali ke Bangku Belajar, Mengejar Asa lewat Pendidikan
- 14 Sep 2026 09:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB SoE, Kamis 10 September 2026, suasana berbeda terasa di Aula Cendana. Bukan hanya aktivitas pembinaan rutin, tetapi semangat untuk kembali belajar mulai tumbuh dari 39 Warga Binaan yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan kesetaraan.
Program pendidikan kesetaraan nonformal tersebut resmi dibuka melalui kerja sama Rutan SoE dengan PKBM Siloam Oekefan, didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kegiatan turut dihadiri jajaran petugas Rutan SoE, para tutor PKBM, perwakilan Kelurahan Oekefan, serta pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS.
Pembukaan program ditandai dengan penyerahan alat tulis dan modul pembelajaran secara simbolis kepada perwakilan peserta didik. Sebanyak 39 Warga Binaan mengikuti pendidikan kesetaraan yang terbagi dalam tiga jenjang, yakni 18 peserta Paket A, 11 peserta Paket B, dan 10 peserta Paket C.
Bagi mereka, kesempatan ini bukan sekadar mengikuti proses belajar mengajar. Pendidikan menjadi jalan untuk membuka kembali harapan, menambah pengetahuan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Kepala Rutan SoE, Muhamad Nurzaman, mengatakan pendidikan merupakan bagian penting dalam proses perubahan diri Warga Binaan. Menurutnya, keterbatasan ruang dan kondisi kehidupan tidak boleh menjadi penghalang seseorang untuk terus belajar.
“Hari ini adalah tentang kesempatan. Kesempatan bagi Warga Binaan untuk kembali belajar, memperoleh pengetahuan, mengembangkan kemampuan, dan yang paling penting mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika nantinya kembali ke tengah-tengah masyarakat,” ujar Nurzaman.
Ia pun berpesan kepada seluruh peserta agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan. “Kepada 39 peserta pendidikan, jangan sia-siakan kesempatan ini. Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, jangan malu untuk bertanya dan jangan takut untuk mencoba. Apa yang telah terjadi tidak dapat kita ubah, tetapi apa yang akan kita lakukan setelah hari ini masih berada di tangan kita,” katanya.
Nurzaman menegaskan, Rutan SoE berkomitmen menciptakan lingkungan pembinaan yang mendukung Warga Binaan untuk terus berkembang. Ia juga mengajak seluruh jajaran Rutan untuk memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pendidikan tersebut.
Kepada para tutor dan PKBM, ia berharap pendampingan diberikan dengan kesabaran dan ketulusan, terutama bagi peserta yang telah lama tidak mengikuti pendidikan atau merasa tertinggal dalam proses belajar. Sementara itu, Ketua PKBM Siloam Oekefan, Febi Belandina Busi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Rutan SoE kepada lembaga yang dipimpinnya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan kepercayaan yang diberikan kepada PKBM Siloam Oekefan. Kami siap menjalankan program ini dan mendampingi Warga Binaan dalam proses pembelajaran agar mereka dapat mengikuti pendidikan dengan baik,” ungkap Febi.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS. Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pembinaan PAUD dan PNF, Jakobet E. Tahun, menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan memiliki kedudukan yang setara dengan pendidikan formal sesuai jenjangnya.
“Pendidikan nonformal ini, ketika lulus dan menerima ijazah, ijazahnya tetap setara dengan pendidikan formal. Paket A setara dengan ijazah SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Jadi jangan merasa malu atau minder dengan ijazah paket yang diperoleh karena ijazah tersebut dapat digunakan sesuai ketentuan,” kata Jakobet. Ia mendorong seluruh peserta didik untuk mengikuti pembelajaran secara sungguh-sungguh hingga menyelesaikan pendidikan dan memperoleh ijazah.
Semangat tersebut turut dirasakan FL, salah seorang Warga Binaan yang menjadi peserta pendidikan kesetaraan. Ia menyambut baik kesempatan untuk kembali belajar dan bertekad mengikuti seluruh proses pembelajaran dengan serius.
“Kami berterima kasih karena diberikan kesempatan untuk kembali belajar. Kami akan berusaha mengikuti pendidikan dengan baik dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah pengetahuan serta mempersiapkan diri menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Program pendidikan kesetaraan ini sendiri merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Rutan SoE dan PKBM Siloam Oekefan yang telah dilaksanakan pada Maret 2026. Sejak kerja sama tersebut ditandatangani, berbagai persiapan dilakukan secara bersama-sama, mulai dari pendataan dan penjaringan Warga Binaan yang memenuhi syarat, koordinasi dengan instansi terkait, persiapan administrasi, penyusunan program pembelajaran, hingga kesiapan teknis pelaksanaan pendidikan.
Kini, 39 Warga Binaan telah memulai langkah baru melalui pendidikan. Di tempat yang membatasi ruang gerak, mereka justru mendapatkan ruang untuk menatap masa depan.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang angka, nilai, atau ijazah, tetapi juga tentang kesempatan untuk berubah dan mempersiapkan diri kembali menjadi bagian dari masyarakat. Melalui kolaborasi Rutan SoE, PKBM Siloam Oekefan, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, pendidikan diharapkan dapat terus menjadi bagian penting dari pembinaan Warga Binaan, sekaligus menjadi bekal untuk kembali ke masyarakat dan mengambil peran positif di masa depan. (rls/DW)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....