Pameran Arsip, Dusun Flobamora Maknai 15 Tahun Perjalanan Komunitas di Kota Kupang

  • 30 Agt 2026 17:51 WIB
  •  Kupang

RRI.CO ID, Kupang - Komunitas Sastra Dusun Flobamora menampilkan perjalanan 15 tahun komunitas melalui pameran arsip bertajuk “Napak Tilas: Meruwat Jejak-Jejak Terbayang” dalam rangkaian Festival Sastra Santarang (FSS) 2026 di Kota Kupang.

Ketua Panitia Pelaksana FSS 2026 Saddam HP kepada wartawan Sabtu, 29 Agustus 2026 mengatakan, pameran arsip menjadi salah satu dari dua rangkaian utama FSS 2026, selain seminar sastra. “Pameran arsip bermaksud melihat bagaimana perjalanan komunitas dalam memaknai Kota Kupang sebagai ruang tumbuh,” kata Saddam.

Ia menjelaskan pameran tersebut tidak hanya menjadi kegiatan tambahan dalam festival, tetapi turut memperkuat tema “Kota dan Kita” yang diusung FSS 2026.

Menurut Saddam, pameran arsip menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan Dusun Flobamora, sekaligus melihat jejak komunitas dalam membangun ekosistem literasi dan kesusastraan di Kota Kupang.

Sementara itu, Kurator Pameran Arsip Christian Dan Dadi mengatakan pameran tersebut diselenggarakan untuk merawat ingatan atas perjalanan Dusun Flobamora yang telah memasuki usia 15 tahun.

“Bukan sekadar upaya melankolik merujuk sejarah dan mengayubahagiakannya sembari mengunjukkan kembali jejak tonggak-tonggaknya kepada pemirsa luas, tetapi juga semacam usaha katarsis periodik agar perawatan dan pemurnian ingatan dapat menyuntikkan semangat baru,” ujarnya.

Christian mengatakan perjalanan Dusun Flobamora tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa yang terdokumentasi secara utuh. Namun, sebagian jejak komunitas hadir melalui peristiwa besar, percakapan, pertemuan sporadis, hingga aktivitas anggotanya di berbagai ruang literasi.

Karena itu, pameran tersebut hanya menampilkan sejumlah tonggak perjalanan yang dianggap tegas dan terukur. Menurutnya, kumpulan arsip tersebut tidak mungkin menjelaskan Dusun Flobamora secara keseluruhan, tetapi dapat membantu komunitas melihat masa lalu dengan lebih jernih.

Pameran yang berlangsung di Rumah Dusun itu terbagi dalam beberapa ruang. Ruang Dusun menampilkan perjalanan umum komunitas, inisiasi, peristiwa besar, pencapaian, jejaring komunitas, perjalanan anggota dalam berbagai kegiatan literasi, hingga produk komunitas.

Sementara Ruang Flobamora menampilkan dapur Dusun, perpustakaan, serta ruang tempat anggota komunitas bergiat, mengembangkan ide, dan berinteraksi.

Ruang Penerbit menampilkan berbagai produk Penerbit Dusun Flobamora, sedangkan Ruang Jurnal menyajikan aneka Jurnal Sastra Santarang, yakni Sabana, Lontar, dan Karang, sepanjang perjalanan penerbitannya. “Semoga pameran sederhana ini bisa dinikmati oleh banyak orang yang telah mengenal Dusun Flobamora, ingin mengenalnya lebih jauh, ataupun yang sama sekali belum mengenalnya,” ujarnya.

Salah satu peserta FSS 2026, Dince Rambu Wasak dari Komunitas Pondok Aspira, mengaku mendapat banyak pengetahuan setelah melihat pameran arsip Dusun Flobamora. “Banyak sekali yang saya dapat, ilmu dan saya pelajari di sini. Setelah saya melihat beberapa buku, saya jadi tertarik untuk menjadi seorang penulis ke depan,” kata Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kupang itu.

Dince mengatakan pameran tersebut juga membantunya memahami perjalanan Dusun Flobamora selama 15 tahun. “Saya sangat-sangat terbantu. Dengan adanya pameran ini, saya bisa tahu ternyata perjuangan dan pengalaman yang dialami oleh Dusun begitu sangat jauh. Buat orang-orang di luar sana, 15 tahun itu mudah. Tapi bagi komunitas, Dusun ini sangatlah luar biasa,” ucapnya.

Ia juga berharap pameran serupa dapat kembali digelar pada tahun-tahun berikutnya dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menulis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....